Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #14

Angin di atas pegunungan

Angin di atas Pegunungan Taebaek tidak pernah berbisik—ia selalu berteriak. Ia membawa aroma pinus yang tajam, sisa salju yang belum mencair, dan sesuatu yang lebih tua dari bebatuan yang berdiri tegak sejak ribuan tahun lalu. Saat langkah Anindya Kirana menyentuh tanah bebatuan yang tertutup lumut dingin itu, ia merasakan getaran familiar yang menjalar dari telapak kakinya hingga ke tulang belakangnya. Rasanya seperti bertemu kembali dengan kerabat lama yang diam saja, namun memahami setiap helaan napasmu.


Di sebelahnya, Seo Seung-hun berjalan dengan langkah tenang namun penuh kewaspadaan. Mantel kulit hitamnya berkibar tertiup angin, dan mata keperakannya sesekali berkilau saat menangkap cahaya matahari yang menembus celah dedaunan pinus yang lebat. Tidak ada suara langkah kaki dari keduanya—seolah tanah itu sendiri membiarkan mereka lewat tanpa menimbulkan gangguan.


"Kau merasakannya juga?" tanya Anindya pelan, tangannya merapat ke pinggiran kemeja flanel yang ia kenakan di balik jaket tebal. Udara di sini jauh lebih dingin daripada di Seoul, namun tubuhnya tidak pernah terganggu oleh suhu yang tidak bersahabat. Darah Nagual yang mengalir di nadinya membuatnya selaras dengan setiap denyut kehidupan di alam liar.


Seung-hun mengangguk, pandangannya tertuju pada puncak gunung yang tertutup kabut tipis di kejauhan. "Energi di sini berbeda dengan tempat lain. Lebih murni, lebih liar, dan tidak pernah tunduk pada siapa pun. Tidak heran jika kelompok yang kita cari memilih tempat ini sebagai persembunyian."


Mereka berdua baru saja meninggalkan kafe di Seoul tiga hari yang lalu. Setelah mendapatkan petunjuk dari penjaga perpustakaan kuno di Distrik Jung—seorang penyihir tua yang sudah melayani makhluk gaib selama tiga generasi—mereka tahu bahwa jejak kekuatan gelap yang mengincar kekuatan Anindya berujung di pegunungan terpencil ini. Beberapa hari terakhir, kabar tentang hilangnya makhluk gaib dari berbagai jenis semakin sering terdengar. Ada yang mengatakan mereka diculik, ada yang mengatakan mereka berubah menjadi sesuatu yang kejam dan tidak mengenal teman sendiri. Dan semua petunjuk menunjuk ke arah tempat ini.


"Menurutmu siapa yang sebenarnya mengatur semua ini?" tanya Anindya saat mereka berhenti sejenak di dekat aliran sungai kecil yang airnya jernih seperti kristal. Ia membungkuk, menyentuh permukaan air yang dingin. Bayangannya di sana sedikit bergetar, dan di bawah pantulan wajahnya sendiri, ia melihat sekilas bayangan hewan besar yang tidak bisa ia kenali dengan jelas.


Seung-hun ikut berhenti, menatap air sungai itu dengan tatapan tajam. "Aku tidak yakin. Tapi satu hal yang aku tahu: mereka tahu siapa kau sebenarnya. Mereka tahu kau adalah Nagual Darah Utama—satu-satunya makhluk yang mampu menyeimbangkan seluruh energi dunia gaib sekaligus membinasakannya jika jatuh ke tangan yang salah." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih rendah, "Dan aku takut mereka bukan sekadar ingin memanfaatkan kekuatanmu. Mereka ingin menghancurkanmu sepenuhnya."


Anindya menarik tangannya dari air, menatap ujung jari yang masih basah. Selama ini ia selalu berpikir bahwa keberadaannya adalah anugerah, warisan dari leluhur yang harus ia jaga dengan baik. Namun semakin dalam ia masuk ke dunia ini, semakin ia sadar bahwa ia juga seperti sebuah pedang bermata dua—bisa melindungi, tapi juga bisa menghancurkan segalanya jika tidak dipegang dengan hati-hati.


"Kalau begitu kita tidak boleh membiarkan itu terjadi," ucapnya tegas, lalu menatap Seung-hun dengan mata cokelatnya yang berkilau penuh tekad. "Siapa pun mereka, apa pun yang mereka inginkan, aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti orang-orang yang aku sayangi. Dan aku tidak akan membiarkan mereka merusak keseimbangan yang sudah dijaga selama ribuan tahun."


Seung-hun tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain—hangat, dan penuh janji. "Aku tahu. Dan aku akan selalu ada di sampingmu, Anin. Tidak peduli apa yang terjadi."


Mereka melanjutkan perjalanan, semakin tinggi menuju puncak gunung. Semakin jauh mereka berjalan, semakin jelas terlihat tanda-tanda bahwa tempat ini tidak ditinggalkan begitu saja. Di sela-sela bebatuan, Anindya melihat bekas luka bakar yang tidak wajar—bekas yang tidak dihasilkan oleh api biasa, melainkan oleh energi hitam yang merusak kehidupan di sekitarnya. Pohon-pohon di area itu tumbuh bengkok, daunnya berwarna kusam, dan tidak ada satu pun hewan liar yang berani mendekat.


"Di sini ada jejak Lycan," ucap Seung-hun tiba-tiba, berhenti di depan sebuah pohon pinus yang batangnya tergores dalam. Garis-garis itu dalam dan tajam, seolah dibuat oleh cakar yang jauh lebih besar dan kuat daripada milik werewolf biasa. "Tapi bukan Lycan yang kita kenal. Energinya kacau, seolah-olah mereka telah kehilangan kendali atas diri mereka sendiri."


Anindya mendekat, menempelkan telapak tangannya ke kulit pohon yang kasar. Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meresap ke dalam jejak energi yang tertinggal di sana. Seketika itu juga, ia melihat bayangan-bayangan cepat: sosok-sosok berbadan besar yang matanya bersinar merah menyala, bergerak dengan gerakan kaku dan penuh kemarahan tanpa alasan, seolah ada sesuatu yang mengendalikan pikiran mereka dari jauh.


"Mereka dikendalikan," bisik Anindya saat membuka mata, wajahnya menjadi pucat. "Ada sihir kuno yang membelenggu pikiran mereka. Sihir yang sudah seharusnya hilang dari dunia ini."


Belum sempat Seung-hun menjawab, tiba-tiba angin berubah arah. Kali ini ia membawa bau besi berkarat, darah kering, dan sesuatu yang sangat busuk hingga membuat Anindya mual. Seung-hun langsung menarik Anindya ke belakangnya, telinganya bergerak halus mendeteksi suara-suara di sekitar mereka.


"Dua puluh langkah ke kanan," bisiknya cepat. "Mereka sudah mengepung kita."


Tepat saat kata-kata itu terucap, bayangan-bayangan besar melompat keluar dari balik pepohonan. Ada sepuluh sosok berbadan tegap, bulu abu-abu kusam yang menempel di kulit yang tampak tidak sehat, cakar yang berlumuran darah segar, dan mata merah menyala yang kosong dari kesadaran. Mereka adalah Lycan—makhluk yang jauh lebih kuat dan lebih cepat daripada werewolf biasa, namun saat ini mereka tampak seperti boneka tanpa jiwa.


Salah satu dari mereka mengaum keras, suara yang menggetarkan tanah di bawah kaki mereka, lalu melompat menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Seung-hun bergerak lebih cepat dari kilat, tubuhnya berubah menjadi sosok serigala besar berwarna hitam pekat dalam sekejap mata. Ia menabrak penyerang itu hingga terpental ke bebatuan, namun yang lain segera datang menyerang dari segala arah.


"Jangan sakiti mereka terlalu parah!" teriak Anindya sambil menghindari cakar yang menyambar tepat di depan wajahnya. "Mereka bukan musuh kita yang sebenarnya!"


Ia menepukkan tangannya ke tanah, dan seketika itu juga akar-akar pohon melesat keluar dari tanah, melilit kaki beberapa Lycan untuk menahan gerakan mereka. Namun makhluk-makhluk itu tidak berusaha melepaskan diri dengan cara yang wajar—mereka justru merobek daging dan kulit mereka sendiri dengan cakar mereka sendiri demi bisa terus maju menyerang. Melihat hal itu, hati Anindya terasa seperti diremas keras.


"Kekuatan yang mengendalikan mereka terlalu kuat," ucap Seung-hun saat kembali mengambil wujud manusia, tangannya berlumuran darah setelah mematahkan rahang salah satu Lycan yang mencoba menggigitnya. "Kita tidak bisa hanya menahan mereka, Anin. Kita harus memutuskan sumber kendali itu sekarang juga."


"Tapi di mana sumbernya?" tanya Anindya frustrasi, menghindari tusukan cakar yang hampir menyentuh dadanya. "Aku tidak bisa merasakannya di tengah kekacauan ini!"


"Di gua di atas sana!" seru sebuah suara dari kejauhan.


Anindya dan Seung-hun menoleh ke arah sumber suara. Di atas batu besar di samping mereka berdiri sosok pria yang mengenakan jubah kulit binatang berwarna cokelat tua, rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan terurai menutupi bahunya, dan matanya yang berwarna hijau zamrud menatap mereka dengan tatapan tajam namun penuh kecemasan. Di lehernya tergantung kalung dari batu-batu kecil yang berukir simbol-simbol kuno.


"Siapa kau?" tanya Seung-hun dengan waspada, tubuhnya tetap siap untuk menyerang atau bertahan kapan saja.


"Aku adalah penjaga pegunungan ini," jawab pria itu sambil melompat turun dari batu dengan gerakan yang sangat ringan, seolah berat badannya tidak ada. Namaku Kai, aku adalah Theriantrope yang telah menjaga tempat ini selama lebih dari seratus tahun."


Kai segera bergerak membantu mereka, tangannya menyentuh udara dan memanggil angin yang berputar kencang, mendorong mundur Lycan yang mendekat. "Mereka datang ke sini dua minggu yang lalu," ceritanya sambil terus bergerak lincah menghindari serangan. "Mereka membawa sebuah artefak kuno berbentuk bulan sabit berwarna merah gelap. Itulah yang mengendalikan pikiran teman-temanmu ini. Artefak itu disimpan di ruang paling dalam gua di puncak gunung."


"Siapa yang memimpin mereka?" tanya Anindya sambil memanggil kabut tebal untuk menutupi pandangan makhluk-makhluk itu.


Lihat selengkapnya