Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #15

Pertemuan dengan sesama Nagual

Angin yang tadi berhembus lembut menyisir ujung rambut Anindya, kini perlahan membawa aroma yang asing namun sekaligus terasa sangat akrab. Bau tanah basah yang bercampur dengan wangi akar kayu tua, bunga melati yang tumbuh liar di lereng curam, dan sesuatu yang samar seperti percikan air sungai yang mengalir dari tempat tak terjamah manusia. Sejak meninggalkan puncak Pegunungan Taebaek beberapa saat yang lalu, perasaan itu terus menghantui dadanya—seperti ada panggilan samar yang menembus jauh hingga ke bagian terdalam jiwanya, tempat di mana kekuatan warisan leluhur itu bersemayam.


Di sebelah kanannya, Seo Seung-hyun berjalan dengan langkah tenang namun tetap siaga, pandangannya meneliti setiap sudut hutan belantara yang makin lama makin rimbun. Mata peraknya sesekali menyala redup saat menangkap jejak energi yang tak lazim, sesuatu yang bukan milik serigala, bukan pula milik penyihir atau makhluk lain yang pernah mereka temui. Di sebelah kiri Anindya, Raka Pratama mengeratkan genggamannya pada tas punggung berisi perlengkapan perjalanan, raut wajahnya menampakkan kebingungan yang sama persis dengan yang dirasakan sahabatnya itu.


"Kau merasakannya juga, bukan?" tanya Raka pelan, suaranya nyaris tertelan deru angin yang kembali menguat sedikit. "Seperti... seperti ada bagian dari diri kita yang dipanggil pulang."


Anindya mengangguk pelan, tangannya meraba dada kiri tempat jantungnya berdetak semakin kencang, namun bukan karena takut. Melainkan karena harapan yang perlahan memuncak. "Ini bukan sekadar perasaan, Raka. Ini adalah getaran. Hanya sesama keturunan Nagual yang bisa memancarkan sinyal sedalam ini hingga menembus ribuan mil jarak antar benua."


Seung-hyun berhenti melangkah seketika, mengangkat tangan kanannya memberi isyarat agar keduanya ikut diam. Ia menoleh ke arah Anindya, sorot matanya penuh dengan penghormatan sekaligus kewaspadaan. "Kalau benar dugaanmu, maka tempat ini adalah tanah keramat bagi kaum kalian. Dan seperti halnya setiap tanah keramat, ia tidak akan membiarkan sembarang orang masuk tanpa izin, apalagi seseorang yang berasal dari garis keturunan yang berbeda."


"Kau tidak perlu ikut masuk kalau merasa tidak aman, Seung-hyun," ucap Anindya pelan, meski hatinya kecil berharap pemimpin klan serigala itu tetap menyertai. "Ini adalah urusan kaumku. Mungkin ada rahasia yang tak boleh diketahui oleh makhluk jenis lain."


Seung-hyun tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat hingga bahunya menyentuh bahu Anindya. "Apakah kau pikir aku akan membiarkanmu menghadapi hal ini sendirian, Anindya Kirana? Sejak hari pertama kita berjalan bersama, nasibku sudah menyatu dengan nasibmu. Apa yang menjadi urusanmu, itu juga urusanku. Dan kalau ada sesama kaummu yang datang dengan niat buruk, biarkan cakar dan gigiku yang berbicara duluan."


Kata-kata itu membawa ketenangan yang luar biasa besar di hati Anindya. Ia mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan menuju sumber getaran yang semakin terasa nyata di hadapan mereka. Jalan setapak yang mulanya terjal dan penuh semak belukar perlahan melebar, pepohonan raksasa yang batangnya tak mungkin dipeluk sepuluh orang dewasa itu makin jarang berjejer, hingga akhirnya ketiganya sampai di tepi sebuah dataran luas yang tersembunyi di antara dinding-dinding tebing tinggi.


Pemandangan di hadapan mereka sungguh menakjubkan, seolah terpisah sepenuhnya dari dunia luar. Di tengah dataran itu terbentang danau yang airnya jernih seakan terbuat dari kristal cair, memantulkan cahaya matahari siang yang menembus celah awan. Di sekeliling tepian danau tumbuh beraneka ragam tanaman obat dan bunga-bunga langka yang hanya ada dalam buku legenda kuno. Namun yang paling membuat napas mereka tertahan adalah sosok-sosok yang berdiri melingkar di tepi danau, menanti kedatangan mereka seolah sudah tahu persis kapan mereka akan tiba.


Ada tujuh orang yang berdiri di sana. Penampilan mereka sama persis seperti manusia biasa, namun sorot mata, cara mereka berdiri, hingga getaran energi yang terpancar dari tubuh mereka membuktikan bahwa mereka bukanlah makhluk biasa.


Salah satu dari mereka melangkah maju, seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya tegas namun memancarkan kelembutan yang mendalam. Kulitnya berwarna sawo matang dengan guratan garis halus di sudut mata, namun tatapannya tajam seolah mampu membaca setiap kenangan yang tersimpan di dalam hati Anindya. Saat ia membuka tangan lebar-lebar, getaran yang sedari tadi Anindya rasakan kini meledak dengan hangatnya, seolah pelukan seorang ayah yang telah lama berpisah dengan anaknya.


"Selamat datang, Anindya Kirana, Putri Darah Utama. Selamat datang, Raka Pratama, Penjaga dari Tanah Jawa. Kami telah menanti kedatangan kalian berdua cukup lama," ucap laki-laki itu suaranya berat namun merdu, mengalun seperti irama gendang yang menenangkan jiwa.


Langkah kaki Anindya terasa berat namun tetap ia lanjutkan mendekati mereka, diikuti Raka dan Seung-hyun yang tak pernah beranjak dari belakangnya. "Siapakah Bapak? Bagaimana Bapak tahu nama kami?" tanyanya, meski jauh di lubuk hatinya ia sudah menduga jawabannya.


"Aku Choi Ji-hoon, ketua pertemuan para sisa keturunan Nagual yang tersebar di seluruh penjuru dunia," jawabnya sambil menundukkan kepala sedikit sebagai tanda penghormatan. Ia kemudian menoleh ke arah sosok lain yang berdiri di sebelahnya, seorang laki-laki seusianya dengan Choi Ji-hoon namun memiliki ciri khas wajah orang daratan Eropa. "Dan mereka semua adalah saudara-saudara kalian. Kita semua adalah bagian dari satu akar pohon kehidupan yang sama, meski selama berabad-abad terpisah jauh oleh benua, samudera, dan waktu."


Anindya menatap satu per satu wajah mereka: ada Lee Soo-min dan Park Ji-ye yang juga berasal dari semenanjung ini, Marco Aurelio dari hutan hujan Amazon Brasil, Elena Varga dari dataran tinggi Transylvania Rumania, Liam O'Neill dari daratan kabut Irlandia, serta Sofia Moretti dari kota bersejarah Italia. Setiap kali matanya bertemu pandang dengan salah satu dari mereka, munculah kilasan ingatan samar—kisah leluhur yang saling bertemu, berbagi ilmu, berperang berdampingan, hingga berjanji akan selalu saling mencari jika dunia terancam bahaya besar.


"Selama ini aku kira aku sendirian," ucap Anindya pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Keluarga ibuku lenyap tanpa jejak sejak kecil, ayahku tak pernah menceritakan asal usulnya, hingga aku mengira akarku putus di tengah jalan."


"Itulah takdir yang diatur oleh para leluhur, Nak," sela Elena Varga mendekat, senyumnya lembut menyembunyikan kepedihan masa lalu yang sama persis. "Darah utama harus bersembunyi di tempat paling aman, di tengah keramaian dunia manusia, hingga waktunya tiba. Kami semua juga mengalami hal yang sama. Setiap keluarga kami di perintahkan untuk diam, melindungi diri, dan menanti tanda dari pemimpin kita yang sesungguhnya. Dan tanda itu adalah saat Bulan Merah mulai bangkit kembali."


Choi Ji-hoon memberi isyarat agar mereka semua duduk melingkar di tepi danau. Seung-hyun sempat ragu sejenak, namun tatapan Anindya memintanya untuk tetap duduk di sisinya. Para sesama Nagual itu tidak keberatan, justru Choi Ji-hoon tersenyum tulus. "Biarkan dia tetap di sini. Sejak pertama kali takdir menuliskan kisah ini, garis keturunan serigala emas perak selalu berdiri di sebelah Nagual Darah Utama. Dia bukan penyusup, melainkan bagian dari teka-teki ini."


Percakapan pun berlanjut panjang, menembus waktu yang terasa berhenti di tempat itu. Dari keterangan mereka, Anindya akhirnya memahami mengapa sejak dulu ibunya selalu berpesan agar ia tidak sembarangan membiarkan kekuatannya terlihat. Ribuan tahun silam, kaum Nagual adalah penjaga keseimbangan tertinggi di muka bumi. Mereka adalah satu-satunya makhluk yang bisa berjalan di dunia manusia, dunia makhluk gaib, hingga sampai ke gerbang dunia roh sekaligus. Mereka menyimpan seluruh pengetahuan leluhur, kunci-kunci tempat tersembunyi, serta cara mengendalikan kekuatan alam semesta.


Namun kekuatan itulah yang membuat mereka menjadi sasaran kecemburuan sekelompok kekuatan gelap yang ingin menguasai segala isi dunia. Terjadilah perang besar yang hampir memusnahkan seluruh kaum Nagual. Sisa-sisa penyintas sepakat untuk berpisah, bersembunyi di setiap penjuru benua, melenyapkan jejak, dan melupakan asal usul mereka sendiri demi menjaga agar benih kehidupan ini tidak musnah sepenuhnya. Hanya pemimpin garis keturunan utama yang memegang kunci penyatuan kembali, itulah silsilah keluarga ibunya.


"Ramalan Bulan Merah bukan sekadar pertanda datangnya bencana," jelas Marco Aurelio suaranya dalam dan berat, tangannya meraba permukaan air danau yang perlahan berubah warna menjadi merah samar. "Ini adalah momen di mana kekuatan keseimbangan akan berpindah tangan. Kalau jatuh ke tangan yang benar, kedamaian abadi akan tercipta. Tapi kalau dicuri oleh mereka yang berniat jahat, maka dunia tidak akan pernah sama lagi. Dan sayangnya, kami menduga pihak musuh sudah mulai membangun kekuatan cukup lama."


Lihat selengkapnya