Angin laut bertiup kencang, menerpa ujung jubah Anindya hingga kainnya berkibar liar menari mengikuti irama alam yang tampak sedang murka. Di hadapannya, garis pertemuan antara langit dan samudera tampak seolah menyatu tak bertepi—sebuah tempat yang menurut cerita para tetua di berbagai penjuru dunia, adalah batas terakhir yang boleh dijamah oleh makhluk hidup. Ujung Dunia. Namanya terdengar begitu sederhana, namun setiap suarannya membebani dada dengan rasa sepi yang tak terlukiskan. Kabut tebal seakan tak pernah lelah bergulung perlahan dari permukaan air yang gelap, menyelimuti segala sesuatu di bawahnya dengan selimut putih pucat yang dingin dan lembap.
Anindya melangkah perlahan di atas punggung tebing batu vulkanik yang terjal dan berlumut, telapak kakinya merasakan setiap getaran halus yang merambat dari kedalaman bumi. Di sebelahnya berjalan Seung-hyun, tubuhnya memancarkan kehangatan alami khas serigala Alpha yang seolah berusaha melawan dinginnya udara yang menusuk hingga ke tulang. Di belakang mereka berjalan anggota rombongan yang came dari berbagai suku bangsa makhluk gaib: Mbah Kirana sesama keturunan Nagual yang ditemukannya di perjalanan sebelumnya, disertai dua orang penyihir tertua dari benua Eropa, seorang penjaga kisah dari bangsa Kitsune, serta tiga prajurit terpilih dari pasukan Seung-hyun. Tidak banyak orang yang sanggup menempuh perjalanan sejauh ini, melintasi tujuh samudera dan belasan hutan terlarang hanya demi mencapai tempat yang tak tertulis di peta manapun.
"Jarak kita tinggal sedikit lagi," ucap Mbah Kirana perlahan, suaranya terdengar samar seakan tertelan deru ombak yang menghantam karang di bawah sana. Lelaki tua berambut memutih itu menatap lurus ke depan, sepasang matanya memancarkan cahaya keemasan samar yang menembus tebalnya kabut. "Kabut ini bukanlah uap air biasa, Nak. Ini adalah selubung yang diciptakan para leluhur ribuan tahun silam, guna melindungi rahasia terbesar di muka bumi ini dari mata mereka yang belum berhak mengetahuinya. Hanya darah Nagual murni yang sanggup membelahnya tanpa tersesat selamanya di dalamnya."
Anindya mengangguk pelan, tangannya meremas ujung selendang yang melilit pinggangnya. Sejak meninggalkan tempat pertemuannya dengan sesama kaumnya hari sebelumnya, hatinya dipenuhi tanda tanya yang makin lama makin besar. Segala cerita yang didengarnya tentang Ramalan Bulan Merah, tentang asal-usul bangsa Nagual, serta tentang mengapa dialah satu-satunya Darah Utama yang tersisa, semuanya seakan mengarah ke tempat ini. Ujung Dunia. Tempat di mana langit menyentuh bumi, tempat di mana kisah permulaan segala sesuatu tertulis di atas piringan batu yang abadi.
"Apakah benar apa yang diceritakan para tetua, Mbah?" tanyanya ragu. "Bahwa di sana tersimpan kisah tentang bagaimana dunia ini terbentuk, bagaimana kita makhluk-makhluk gaib ini diciptakan, dan mengapa pertemuan antara Nagual dan Alpha Seung-hyun dianggap sebagai awal dari kehancuran maupun kebangkitan?"
Lelaki tua itu menoleh sejenak, senyum tipis terukir di bibirnya yang keriput. "Segala pertanyaan yang kau miliki hari ini, semuanya akan menemukan jawabannya begitu kau melangkah melewati tirai kabut itu. Namun ingatlah pesanku, Nak. Kebenaran jarang sekali datang dengan wajah yang indah dan menyenangkan. Seringkali ia terasa begitu pahit hingga nyaris tak sanggup kau telan."
Seung-hyun merangkulkan lengannya ke bahu Anindya, menariknya mendekat seolah ingin melindunginya dari segala kemungkinan buruk yang mungkin mengintai. "Apapun yang akan kita temui di sana, kita hadapi bersama. Kau tidak sendirian," bisiknya lembut namun tegas, kata-kata itu meresap menembus hingga ke dalam sanubari Anindya, meleburkan sebagian besar ketakutan yang selama ini membayangi pikirannya.
Mereka pun melangkah terus, membelah kabut yang semakin lama semakin terasa pekat dan berat. Anehnya, begitu kakinya melangkahi batas samar di mana kabut itu dimulai, suasana seketika berubah drastis. Suara deburan ombak yang sedari tadi terdengar menggelegar perlahan memudar hingga lenyap sama sekali. Angin yang bertiup kencang kini seakan berhenti, berganti dengan keheningan yang begitu dalam hingga terdengar dentak detak jantung masing-masing orang yang melangkah. Cahaya matahari yang tadinya terang benderang kini seolah diredam, berubah menjadi sorot redup berwarna keperakan yang menyebar merata ke segala penjuru.
Saat kabut itu perlahan menipis dan lenyap di belakang mereka, mata mereka terpaku tak berkedip menyaksikan pemandangan di hadapan yang nyaris tak masuk akal.
Di sana, di tengah hamparan luas tanah datar yang berwarna abu-abu pucat halus seperti debu bintang, berdiri sebuah bangunan yang bentuknya tak dapat digambarkan dengan kata-kata manusia. Ia tidak tampak seperti istana, bukan pula seperti kuil atau tempat pemujaan. Struktur bangunan itu terbentuk dari pilar-pilar batu raksasa yang melayang di udara tanpa penyangga apapun, saling menyilang dan membentuk pola rumit menyerupai susunan rasi bintang yang tak pernah dilihat siapa pun. Di bagian tengahnya terdapat sebuah altar batu datar yang sangat besar, di atasnya terlihat berjejer puluhan lempengan batu berwarna hitam pekat yang memancarkan cahaya samar-samar. Dan yang paling menakjubkan, di langit di atas sana tidak terlihat matahari maupun bulan, melainkan sepasang bola cahaya—satu berwarna merah menyala sempurna, dan satu lagi berwarna perak bersih—yang melayang berdampingan menatap lurus ke bawah seakan dua mata raksasa yang sedang mengawasi gerak-gerak mereka.
"Ini... sungguh tempat legenda itu nyata adanya," bisik salah satu penyihir tua, matanya terbelalak takjub sambil memegangi dadanya. Tubuhnya gemetar hebat seakan tak percaya bahwa dirinya akhirnya sanggup menginjakkan kaki di tempat yang selama ini hanya ada dalam kitab-kitab kuno terlarang. "Tempat di mana para leluhur menitipkan pesan untuk generasi yang datang belakangan."
Langkah kaki mereka serentak terhenti tepat di tepi hamparan tanah itu. Sebuah penghalang tak kasat mata tampak berdiri tegak, memisahkan tempat mereka berdiri dengan bangunan suci di tengah sana. Seketika udara bergetar, dan dari keheningan itu terdengar suara lantang yang bukan berasal dari mulut siapa pun, melainkan seolah bergema dari setiap butir tanah, setiap helai udara, dan setiap cahaya yang ada di sana.
"Siapakah yang berani mendatangi tempat terlarang ini? Apakah kalian datang untuk memohon pengetahuan, ataukah kalian datang untuk mencuri rahasia yang belum waktunya terungkap?"
Anindya maju selangkah ke depan, dadanya membusung penuh keyakinan meski jantungnya berdegup kencang. "Namaku Anindya Kirana. Aku adalah keturunan terakhir Nagual Darah Utama. Aku datang bukan untuk mencuri, melainkan untuk mencari jawaban atas segala hal yang selama ini menyelimuti takdirku. Aku datang untuk mengetahui kebenaran tentang Ramalan Bulan Merah."
Suara itu terdiam sejenak, seakan sedang menimbang-nimbang ucapannya. Tak lama kemudian, penghalang di hadapan mereka perlahan menghilang seolah tak pernah ada.
"Masuklah. Namun ingatlah, apa yang akan kalian ketahui mulai saat ini akan mengubah seluruh pandangan kalian tentang dunia tempat kalian berpijak. Tak ada jalan kembali setelah kebenaran ini menyentuh hati kalian."
Satu per satu dari mereka melangkah masuk, merasakan sensasi aneh seakan jiwanya ditimbang terlebih dahulu sebelum diizinkan mendekat ke altar batu raksasa itu. Begitu berdiri tepat di hadapan lempengan-lempengan batu hitam tersebut, permukaannya perlahan berubah tembus pandang, menampakkan bayangan-bayangan kejadian masa lalu yang berputar bagai guliran film raksasa di hadapan mata mereka.
Di sana terlihat permulaan zaman, saat bumi masih baru saja terbentuk dan hening belaka. Kemudian datanglah enam kekuatan agung yang turun dari langit untuk menghidupkan dunia ini. Mereka adalah para Penjaga Pertama. Salah satunya membawa api kehidupan, satu lagi membawa air kejernihan, yang ketiga membawa angin perubahan, yang keempat membawa bumi tempat berpijak, yang kelima membawa cahaya petunjuk, dan yang terakhir membawa bayangan keseimbangan. Dari penyatuan kekuatan keenamnya lahirlah segala makhluk yang menghuni muka bumi: manusia, hewan, serta makhluk-makhluk gaib yang memiliki sifat campuran dari setiap kekuatan tersebut. Nagual diciptakan sebagai jembatan penghubung antara kelima kekuatan itu, satu-satunya makhluk yang sanggup menyerap dan menyelaraskan semuanya di dalam diri. Werewolf lahir sebagai perwujudan kekuatan bumi dan angin, Vampir sebagai perpaduan api dan bayangan, Penyihir menguasai aliran cahaya dan elemen alam, dan seterusnya hingga tak ada yang terlewatkan.
Namun kedamaian itu tidak berlangsung selamanya. Ribuan tahun silam, terjadilah perselisihan hebat di antara para makhluk tersebut. Saling mengklaim diri sebagai bangsa yang paling kuat, paling mulia, dan paling berhak menguasai dunia. Pertikaian itu meluas hingga membakar hutan, mengeringkan samudera, dan meratakan gunung-gunung tinggi. Melihat kehancuran yang semakin parah, Penjaga Pertama yang berwujud Nagual Darah Utama pada masa itu, memutuskan untuk mempertaruhkan nyawanya demi menyatukan kembali kekuatan-kekuatan yang terpecah belah. Ia bersumpah bahwa darah keturunannya kelak akan datang di masa paling gelap, untuk kembali menyatukan hati seluruh bangsa makhluk. Namun syaratnya berat: Darah Utama itu tidak sanggup melakukannya sendirian. Ia harus menemukan pasangan yang membawa kekuatan setara, sosok yang lahir dari garis keturunan paling murni dan paling berkuasa dari golongan makhluk terkuat lainnya.
Di bayangan itu terlihat jelas: sosok Nagual wanita itu berdiri berdampingan dengan seorang pemimpin serigala Alpha bermata perak yang berkilau. Di saat itulah Ramalan Bulan Merah ditetapkan. Ketika bulan berubah warna menjadi merah pekat seolah meneteskan darah, berarti saatnya keturunan mereka telah lahir dan bertemu. Jika mereka bersatu hati menjaga keseimbangan, dunia akan pulih kembali dan kedamaian abadi akan tercipta. Namun jika pertemuan itu berakhir dengan permusuhan atau ketidakseimbangan, maka kehancuran total akan datang menyelimuti segalanya, dan kehidupan di bumi ini akan musnah sepenuhnya.
"Jadi... bukan aku yang membawa malapetaka," gumam Anindya lirih, air mata perlahan mengalir di pipinya yang sedari tadi menahan tangis. Selama ini ia berpikir dirinya adalah pembawa sial yang ditakdirkan merusak tatanan dunia, padahal kenyataannya dialah satu-satunya harapan yang ditunggu-tunggu sejak ribuan tahun lalu. "Aku diciptakan khusus untuk menyelamatkan semuanya."
Di sebelahnya, Seung-hyun diam terpaku menatap bayangan itu. Selama hidupnya ia selalu mendengar cerita bahwa Alpha bermata perak seperti dirinya lahir untuk memimpin dan menaklukkan, ternyata sebenarnya tugas utamanya jauh lebih besar dari itu. Ia diciptakan untuk melengkapi sosok Anindya, untuk berdiri di sampingnya dan memastikan sang Nagual tidak terjatuh saat memanggil seluruh kekuatan alam semesta.