Angin sore berhembus lembut menyisir dedaunan di halaman belakang Kafe Senja Nusantara, membawa aroma tanah basah yang khas setelah hujan gerimis tadi siang. Di sudut teras yang tertutup atap rumbia, Anindya Kirana duduk bersandar pada kursi rotan tua yang selalu ditempati kakeknya puluhan tahun silam. Di hadapannya terhampar sebuah peti kayu jati berukir motif flora Nusantara yang halus, permukaannya memudar dimakan usia namun tetap kokoh seolah menolak untuk hancur sebelum rahasia di dalamnya terungkap sepenuhnya.
Tangannya yang gemar menyeduh kopi kini terhenti di udara, jari-jemarinya menyentuh lekukan ukiran yang terasa hangat meskipun peti itu sudah disimpan di gudang yang sejuk selama bertahun-tahun. Sejak mimpi panjang yang mempertemukannya dengan sosok leluhur di balik tirai kabut pekat semalam, Anindya merasa ada tarikan tak kasat mata yang memintanya membuka benda ini—sesuatu yang selalu dilarang kakeknya disentuhnya sebelum waktunya tiba.
"Warisan darahmu bukan sekadar kekuatan, Kirana. Itu adalah beban yang diturunkan dari generasi ke generasi, dan kamu baru boleh mengetahuinya ketika langit mulai memerah di kala senja."
Kata-kata kakeknya terngiang kembali jelas di telinganya seolah beliau baru saja berbicara tepat di sampingnya. Saat itu Anindya masih berusia sepuluh tahun, belum paham apa maksud ucapan itu selain sebuah peringatan agar tidak ceroboh. Kini, setelah perjalanan panjang menembus berbagai negeri, bertemu beragam makhluk gaib, dan mendekati sosok Seo Seung-hyun yang menyimpan banyak misteri sendiri, Anindya mulai menyadari bahwa segala hal yang terjadi belakangan ini bukan sekadar kebetulan semata. Semuanya terhubung seperti benang-benang halus yang ditenun takdir sejak ribuan tahun silam.
Suara langkah berat memecah kesunyian. Anindya menoleh dan mendapati Seung-hyun berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap yang digulung hingga siku, memperlihatkan bekas luka samar di lengan kanannya—bekas pertarungan saat melindunginya dari serangan makhluk bayangan di Pantai Selatan tempo hari. Mata keperaknya yang biasa tajam kini tampak lembut penuh pengertian. Ia tidak bertanya, hanya berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelahnya, seolah sudah tahu betul apa yang sedang dipikirkan Anindya saat ini.
"Kamu sudah siap?" tanyanya pelan, suaranya rendah namun menenangkan seperti aliran sungai di balik rimbunan hutan.
Anindya mengangguk pelan, napasnya terasa sedikit berat. "Entahlah, Seung-hyun. Aku merasa seumur hidup aku hanya mengetahui separuh dari siapa diriku sebenarnya. Kakek selalu berkata aku adalah keturunan pelindung, tapi tak pernah menjelaskan lebih jauh apa makna sebenarnya menjadi Nagual Darah Utama. Hingga kini, setelah melihat betapa besar bahaya yang mengancam, aku sadar bahwa pengetahuanku terlalu sedikit."
Seung-hyun mengulurkan tangan besarnya, menepuk pelan punggung tangan Anindya yang tergeletak di tutup peti. "Aku mengerti perasaanmu. Sebagai Alpha klan terkuat, sejak kecil aku sudah dipersiapkan untuk memimpin, namun baru belakangan ini aku tahu bahwa tugasku sesungguhnya saling berkaitan erat dengan garis keturunanmu. Kakekmu dan pemimpin klan kami ratusan tahun silam pernah membuat sumpah suci untuk saling menjaga. Semua rahasia itu kini tiba waktunya terungkap."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Anindya mencarilah kunci kecil yang digantungkan pada kalung emas peninggalan ibunya. Kunci itu berbentuk ukiran burung Garuda yang sedang merentangkan sayap, permukaannya mengilap seolah selalu dijaga kekuatan sihir agar tak pernah berkarat. Ketika kunci itu masuk ke lubang gembok di bagian depan peti, terdengar bunyi klik halus seiring gembok tua itu terbuka sendiri tanpa hambatan.
Begitu tutup peti terangkat perlahan, aroma kayu cendana bercampur bunga kenanga langsung menyeruak keluar, membawa kenangan masa kecil Anindya saat sering duduk di pangkuan kakek sambil mendengarkan dongeng-dongengnya. Di dalamnya tersimpan naskah-naskah kulit kayu, gulungan peta yang terbuat dari kulit hewan eksotis, sebuah benda bulat berwarna merah pekat, serta sebuah jubah tenun motif batik kuno yang benang-benangnya tampak berkilau seolah terjalin dari cahaya sendiri.
Anindya mengambil naskah paling atas yang tulisannya masih sangat jelas, tertulis dalam huruf Jawa Kuno yang dulu diajarkan kakeknya. Saat mata Anindya menyusuri setiap baris kalimat, tangannya semakin bergetar hebat hingga Seung-hyun segera merangkul bahunya untuk menopang agar ia tidak jatuh terperosok oleh guncangan perasaan yang meluap-luap.
Di sanalah semuanya tertulis. Sejak ribuan tahun silam, di tengah kepulauan Nusantara yang masih diselimuti kekuatan gaib murni, lahirlah sosok pertama Nagual Darah Utama—penjelmaan semangat keseimbangan yang dikirimkan para leluhur untuk menjaga batas antara dunia makhluk gaib dan dunia manusia, serta mencegah kekuatan gelap yang terperangkap di pusat bumi agar tidak bangkit kembali. Tidak sembarang orang dapat membawa darah ini. Hanya ada satu keturunan dalam setiap masa, yang diturunkan secara bergantian dari garis ibu maupun ayah dengan tanda khusus berupa bintik merah berbentuk bulan sabit di belakang telinga kiri.
Kekuatan Nagual Darah Utama jauh melampaui jenis Nagual lain yang tersebar di seluruh dunia. Mereka mampu berubah wujud menjadi hewan pelindung sesuai sifat aslinya, menyembuhkan segala penyakit dan luka parah hanya dengan sentuhan, memahami bahasa seluruh makhluk hidup, bahkan dapat membuka pintu antar dimensi bila diperlukan. Namun kekuatan terbesarnya sekaligus menjadi beban terberatnya: darahnya adalah satu-satunya penawar sekaligus kunci dari segala hal yang berkaitan dengan Ramalan Bulan Merah. Darah murninya dapat menstabilkan energi makhluk yang kehilangan kendali, namun juga dapat diburu dan diserap kekuatannya oleh mereka yang menginginkan dominasi mutlak di muka bumi.
"Jadi... selama ini aku bukan sekadar keturunan biasa. Aku adalah sasaran utama dari siapapun yang ingin mengacaukan tatanan dunia," bisik Anindya, matanya mulai berkaca-kaca. Bayangan berbagai kejadian aneh yang dialaminya sejak kecil mulai tersambung menjadi satu cerita utuh. Seringnya ia dikejar makhluk tak dikenal, selalu ada tarikan aneh bila mendekati tempat-tempat bersejarah, serta mimpi-mimpi tentang peperangan zaman dahulu yang tak pernah ia ketahui ceritanya. Semua itu bukan kebetulan. Semuanya karena darah yang mengalir di dalam tubuhnya.
Seung-hyun merapatkan pelukannya, meletakkan dagunya di atas ubun-ubun Anindya. "Itulah sebabnya kakekmu menyembunyikan identitasmu sebaik-baiknya, Anindya. Itulah sebabnya kamu dikirim jauh ke Korea dan membuka kafe ini di tempat yang tidak terlalu mencolok. Beliau ingin kamu tumbuh dengan damai terlebih dahulu, sebelum akhirnya harus memikul tanggung jawab yang seberat ini."
Anindya melanjutkan membaca lembar demi lembar naskah itu. Tertulis bahwa pada zaman dahulu, ketika kekuatan gelap itu hampir menembus permukaan bumi, Nagual Darah Utama didampingi oleh lima perwakilan ras makhluk gaib terkuat: pemimpin serigala, raja penyihir, ketua kaum vampir, pemimpin kaum Lycan, dan penjaga bangsa Kitsune. Bersama-sama mereka mengikat kekuatan jahat itu kembali ke tempat asalnya dan membuat perjanjian abadi bahwa keturunan mereka akan terus bersatu kembali bila ancaman itu bangkit lagi.
Namun seiring berjalannya waktu, perjanjian itu perlahan terlupakan. Perselisihan antar ras makhluk gaib terjadi, kepercayaan retak, dan identitas Nagual Darah Utama disembunyikan rapat-rapat hingga nyaris tidak ada yang tahu keberadaannya. Hingga kini, saat tanda-tanda kembalinya kekuatan gelap mulai terlihat dan Bulan Merah akan segera muncul di ufuk langit, barulah warisan itu harus kembali dijunjung tinggi.
Di antara naskah-naskah itu terdapat pula surat pribadi dari kakeknya yang baru ditulis sesaat sebelum beliau meninggal dunia. Tulisan tangan beliau masih rapi meskipun terlihat sedikit gemetar:
"Cucuku tersayang Kirana, jika engkau membaca surat ini, berarti takdir telah menjemputmu sebagaimana ia menjemputku dan para leluhur kita sebelumnya. Maafkan Kakek yang selama ini banyak merahasiakan hal darimu. Kakek hanya ingin engkau memiliki masa kecil yang bahagia, tidak dikelilingi rasa takut dan beban yang belum tentu sanggup kau pikul di usia belia.
Darah yang mengalir di nadimu adalah anugerah sekaligus ujian terbesar. Banyak yang akan mencarimu demi keuntungan pribadi, banyak pula yang akan datang untuk melindungimu. Di antara mereka, carilah pemimpin serigala bermata perak yang dijanjikan legenda. Ia akan menjadi perisaimu sekaligus pendamping setia dalam menjalankan tugas suci ini. Jangan pernah meragukan hatinya, karena sumpah leluhur telah menyatukan jalan kalian berdua jauh sebelum kalian lahir ke dunia ini.
Kekuatanmu baru akan bangun sepenuhnya ketika kau mampu menerima jati dirimu seutuhnya, terlepas dari segala rasa takut dan keraguan. Ingatlah, Nagual tidak bertempur sendirian. Keberhasilan tugasmu bergantung pada persatuan seluruh saudara kita dari berbagai penjuru dunia. Jangan memusuhi siapapun tanpa alasan yang jelas, namun jangan pula lengah terhadap tipu daya yang akan datang silih berganti.