Jembatan kayu yang kami pijak berderu pelan seolah berbisik menyambut langkah kami. Di ujung sana, gerbang tinggi berukir pola daun dan sulur tanaman berdiri kokoh meski tampak telah melewati berabad-abad waktu. Tak ada gembok, tak ada pengawal yang terlihat. Hanya angin sejuk beraroma rumput basah dan bunga melati liar yang menyapu wajah kami, seolah mengundang masuk tanpa perlu kata-kata.
“Inilah Lembah Hijau,” ucap Ditya pelan, bulu-bulu emas di sayapnya berkilau lembut tertimpa sinar matahari yang merayap turun dari celah awan. “Tanah ini berdiri sejak sebelum kerajaan pertama di Nusantara berdiri. Di sini, waktu berjalan berbeda. Satu hari di luar mungkin terasa seperti setahun di sini, namun satu kisah yang didengar di sini, akan abadi teringat hingga ribuan tahun kemudian. Tanah ini tak akan pernah melupakan siapa pun yang pernah melangkahkan kakinya, baik yang datang membawa niat suci maupun yang berniat jahat. Jejak mereka akan terukir selamanya di setiap helai rumput dan setiap tetes embun yang turun ke bumi.”
Aku menatap lebar hamparan di hadapan kami. Rumput berwarna hijau zamrud membentang sejauh mata memandang, dihiasi bunga-bunga bermahkota perak dan emas yang tak pernah layu meski tak pernah disiram. Di kejauhan, terlihat deretan pohon raksasa yang batangnya seolah terbuat dari cahaya lembut, dan di tengahnya berdiri sebuah bangunan berbentuk seperti daun teratai raksasa yang menguncup, terbuat dari kayu hitam yang mengeluarkan aroma wangi menenangkan hati. Sejauh mata memandang, tak ada tanda-tanda kerusakan, tak ada jejak kebakaran maupun pertikaian. Tanah ini terasa begitu damai, seolah dilindungi oleh kekuatan yang tak terlihat namun begitu kuat hingga tak ada kejahatan yang sanggup melangkah masuk. Namun di balik kedamaian itu, ada getaran halus yang menyentuh jiwaku, seolah ribuan suara sedang memanggil namaku secara bersamaan, berbisik-bisik tentang janji yang telah lama tertunda, tentang harapan yang hampir padam ditelan zaman.
Seo Seung-hyun berjalan di sampingku, tangannya menggenggam erat jemariku. Kehangatan kekuatan serigala yang ia pancarkan terasa menenangkan, menyeimbangkan getaran asing yang mulai menyelimuti tubuhku. Matanya yang berwarna perak menatap sekeliling dengan kewaspadaan tinggi, namun perlahan alisnya yang sempat terkerut perlahan terurai seolah ia pun mengenali sesuatu yang tersimpan jauh di dalam ingatan batinnya.
“Energi di sini begitu murni, begitu penuh kehidupan,” bisiknya, suaranya rendah namun penuh kekaguman. “Tak ada jejak kegelapan yang sempat mencemari tanah ini, namun aku bisa merasakan bahwa tempat ini telah menyaksikan begitu banyak darah tertumpah dan begitu banyak air mata yang jatuh demi menjaga kemurniannya. Rasanya seolah setiap jengkal tanah ini menyimpan kenangan yang sangat berat namun mulia.”
“Karena tempat ini adalah saksi awal dari segala sesuatu,” suara berat namun lembut terdengar dari arah samping. Kami berbalik serentak, melihat sesosok pria tua berjalan perlahan mendekat. Ia mengenakan jubah panjang berwarna dedaunan kering, rambut dan janggutnya seputih kapas, namun kulitnya tetap kencang dan matanya bersinar tajam namun penuh kasih sayang. Di pundak kanannya hinggap seekor burung elang berwarna keemasan, sementara di belakangnya terlihat Ditya menunduk hormat dengan sayap yang terlipat rapat. “Selamat datang, Anindya Kirana. Keturunan terakhir dari Darah Penjaga Keseimbangan. Dan selamat datang juga bagimu, Seo Seung-hyun. Pemimpin serigala yang memilih hati daripada ambisi semata. Kami telah menanti kalian jauh lebih lama daripada yang bisa kalian bayangkan.”
Pria itu berhenti tak jauh dari kami, menatapku lama seolah sedang membaca setiap jejak kehidupan yang telah kulalui sejak lahir hingga saat ini, setiap luka yang pernah kurasakan, setiap harapan yang pernah kuimpikan, dan setiap ketakutan yang sempat menghantuiku. Hatiku berdebar kencang, entah karena takut atau karena rasa rindu yang tiba-tiba menyergap seolah-olah aku pernah pulang ke tempat ini ribuan kali sebelumnya, seolah ini adalah rumah yang sejak dulu kucari namun tak pernah kutemukan hingga saat ini.
“Aku adalah Ki Ageng Wana,” ucapnya sambil memberi hormat sederhana, sebuah penghormatan yang seharusnya hanya ditujukan kepada mereka yang memegang amanah tertinggi di muka bumi. “Penjaga Lembah Hijau dan arsip segala kisah yang pernah tertulis maupun yang tak sempat tertulis di permukaan bumi ini. Di sini tersimpan segala sesuatu yang pernah diketahui, yang diketahui namun disembunyikan, dan yang belum diketahui oleh siapa pun selain para leluhur tertinggi. Kami telah menantikan kedatanganmu sejak bulan merah pertama kali muncul di ufuk timur ribuan tahun yang lalu, sejak sumpah terakhir wasiatkan bahwa hanya tanganmulah yang sanggup mengembalikan keseimbangan yang sempat retak.”
“Aku… aku tak mengerti semuanya,” suaraku sedikit bergetar meski kucoba sekuat tenaga untuk tetap tegar. “Selama ini aku hanya berpikir bahwa aku hanyalah seorang gadis biasa yang memiliki kemampuan aneh, yang pernah hidup di masa yang jauh dari segala hal gaib seperti ini. Mengapa harus aku? Mengapa Darah Nagual Utama harus kembali muncul saat ini juga, saat dunia seolah terancam oleh kegelapan yang entah dari mana datangnya? Dan apa hubungannya semua ini dengan Lembah Hijau ini? Mengapa tempat ini terasa begitu akrab namun sekaligus begitu asing bagiku?”
Ki Ageng Wana tersenyum tipis, senyum yang sarat akan pengertian dan belas kasih. Ia melambaikan tangannya perlahan, gerakan yang begitu sederhana namun membawa perubahan besar di hadapan mata kami. Tiba-tiba udara di sekeliling kami berubah seolah menjadi air yang jernih, membiarkan kami melihat melampaui wujud fisik tempat ini. Pemandangan di hadapan kami perlahan berubah, rumput hijau berubah menjadi hamparan tanah subur yang dihuni ribuan orang dengan wajah penuh damai, tanpa rasa takut, tanpa rasa curiga. Bangunan-bangunan sederhana namun indah berdiri rapi, dibangun dengan rasa hormat terhadap alam di sekitarnya. Dan di antara mereka, makhluk-makhluk gaib dari segala jenis hidup berdampingan tanpa rasa curiga maupun benci. Manusia makan sehidangan dengan penyihir, serigala berjalan damai bersama rubah berekor sembilan, naga terbang rendah sambil melambaikan kepala menyapa penduduk yang sedang berjalan, Garuda melayang di angkasa membawa kabar bahagia dari satu ujung negeri ke ujung yang lain.
“Inilah dunia ribuan tahun yang lalu, sebelum segala perselisihan bermula,” suara Ki Ageng Wana terdengar seolah datang dari kejauhan namun begitu jelas menyentuh telinga, seolah diucapkan tepat di samping telinga kami. “Dahulu kala, sebelum langit memisahkan diri dari bumi dan sebelum setiap makhluk menentukan nasibnya masing-masing, ada satu kaum yang ditugaskan oleh para leluhur tertinggi untuk menjaga pintu penghubung antara alam semesta, tempat di mana kekuatan langit dan kekuatan bumi bertemu dan menyatu. Kaum itu adalah kaum Nagual. Dan di antara kaum Nagual, ada satu garis darah yang diturunkan khusus dari perjanjian antara dewa penjaga bumi dan dewi pelindung kehidupan. Itulah Darah Utama yang mengalir di dalam nadimu, Anindya. Darah yang mengandung esensi keseimbangan itu sendiri, yang mampu menyatukan segala hal yang tampaknya tak bisa disatukan.”
Pemandangan berubah kembali perlahan. Kini terlihat sekelompok orang berdiri melingkar di tengah lapangan luas yang sama persis dengan tempat kami berdiri saat ini. Di tengah lingkaran itu berdiri sepasang suami istri bersinar terang seolah terbuat dari cahaya matahari dan cahaya rembulan yang menyatu. Mereka sedang menuangkan tetesan darah ke dalam sebuah bejana batu besar berukiran rumit yang kini berdiri diam di tengah ruangan suci di sana. Wajah mereka penuh keteguhan hati, namun juga terlihat jelas betapa beratnya pengorbanan yang sedang mereka lakukan.