Langkah kaki kami terhenti di ambang pintu kayu besar yang menghadap ke halaman tengah Lembah Hijau. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon rindang di sekeliling yang seolah berbisik satu sama lain. Sejak memasuki tanah ini, rasa damai yang semula menyelimuti hati perlahan berganti dengan kecemasan yang tak bisa kujelaskan asalnya. Seolah ada mata yang mengawasi setiap gerak-gerik kami, bukan dengan niat jahat, melainkan dengan ketelitian yang menusuk hingga ke dalam sanubari.
Di sampingku, Seo Seung-hyun berdiri tegak. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, namun aku tahu betul ia pun merasakan hal yang sama. Sesekali tangannya bergerak perlahan menyentuh pinggiran ukiran bulan sabit yang tergantung di lehernya—pusaka yang menjadi tanda pengenal kaum Nagual penjaga keseimbangan dunia. Ditya yang berjalan beberapa langkah di depan menoleh perlahan, sayap emasnya yang kini terlipat rapi di punggung berkilau samar terkena cahaya matahari senja.
“Kalian tidak perlu merasa cemas,” ucapnya lembut, seolah bisa membaca apa yang sedang kupikirkan. “Siapapun yang datang ke sini dengan niat tulus akan disambut seperti saudara lama. Namun bagi yang menyembunyikan sesuatu atau membawa maksud terselubung, tanah ini sendiri yang akan memberikan ujiannya.”
“Ujian seperti apa?” tanyaku, suaraku terdengar sedikit bergetar meski aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
“Ujian tentang apa yang kalian pegang teguh,” jawab Ditya sambil menunjuk ke arah halaman luas yang kini perlahan tertutup kabut tipis berwarna putih keperakan. “Kesetiaan pada diri sendiri, kesetiaan pada asal-usulmu, dan kepercayaan kepada orang yang berdiri di sampingmu. Banyak yang datang ke sini dengan niat baik, namun gagal di tengah jalan karena keraguannya sendiri.”
Seung-hyun merangkul bahuku perlahan, memberikan kekuatan yang seketika mengalir hangat ke seluruh tubuhku. “Apapun yang terjadi, kita menghadapinya bersama. Ingat itu.”
Sebelum sempat aku menjawab, kabut di depan kami berputar perlahan lalu terbelah dua. Di sana kini berdiri seorang sosok yang tampak setengah manusia dan seolah menyatu dengan alam di sekelilingnya. Kulitnya berwarna persis seperti kayu jati yang sudah tua, matanya bening seperti mata air pegunungan, dan rambutnya menjuntai panjang menyerupai akar tanaman yang menjalar ke mana-mana. Di tangannya memegang sebilah tongkat dari ranting pohon yang ujungnya berhias permata hijau menyala lembut.
“Selamat datang di tempat yang terlindungi dari pandangan dunia,” suaranya bergema bagai suara gemuruh air terjun yang jauh, namun terdengar jelas di telinga kami. “Aku adalah penjaga gerbang hati lembah ini. Sebelum kalian melangkah lebih jauh menuju inti segala rahasia yang kalian cari, kalian harus membuktikan bahwa jiwa kalian layak memegang amanah tersebut.”
“Kami datang bukan untuk mengambil apa yang bukan hak kami,” ujar Seung-hyun tegas namun tetap sopan. “Kami datang untuk mencari kebenaran, agar kami bisa melindungi apa yang seharusnya dijaga.”
“Kata-kata memang mudah diucapkan,” sahut penjaga itu sambil mengayunkan tongkatnya perlahan. “Tapi hati manusia dan makhluk lain penuh dengan lorong gelap yang bahkan pemiliknya pun belum tentu mengetahuinya. Mari kita lihat apakah kesetiaan kalian sekuat ucapan kalian.”
Seketika itu juga pemandangan di sekeliling kami berubah sepenuhnya. Dinding pepohonan, udara sejuk, dan sosok penjaga itu lenyap seolah tak pernah ada. Kini aku mendapati diriku berdiri sendirian di tengah ruangan yang sangat kukenali: ruang tengah Kafe Senja Nusantara di Gangnam, tepat di hari pertamaku mengetahui siapa diriku sebenarnya. Langit di luar jendela tampak gelap gulita, hujan turun deras memukul kaca, dan di hadapanku berdiri sosok yang selama ini kurindukan lebih dari siapapun: mendiang ibuku.
Wajah ibu tampak persis seperti yang selalu ada dalam ingatanku, tersenyum lembut dengan tatapan yang penuh kasih sayang. Namun ada sesuatu yang berbeda, suaranya terdengar meyakinkan namun menyembunyikan jebakan. “Nak, tinggalkan semua hal aneh ini. Lupakan tentang darahmu, lupakan tentang Seo Seung-hyun dan semua bahaya yang mengikutinya. Pulanglah bersamaku, kita bisa hidup tenang seperti sedia kala, tak ada lagi rahasia, tak ada lagi yang menyakitimu.”
Hatiku terasa sesak luar biasa. Betapa indahnya tawaran itu. Jika aku memilihnya, segala kelelahan ini akan berakhir seketika. Aku bisa kembali menjadi Anindya Kirana yang biasa, bukan orang yang terbelah antara dua dunia. Namun perlahan ingatanku melayang pada tatapan mata Seung-hyun, pada janji para leluhur, pada ribuan kisah yang belum selesai. Ibu yang berdiri di depanku ini bukanlah beliau yang sesungguhnya. Ini hanyalah bayangan yang diciptakan untuk menguji seberapa teguh pendirianku.
“Aku merindukanmu setiap detik, Bu,” ucapku sambil menahan air mata yang hampir jatuh. “Tapi aku tahu kau tidak benar-benar ada di sini. Dan meskipun kau benar-benar memintaku begitu, aku tidak bisa meninggalkan apa yang harus kujalani. Kesetiaanku bukan hanya pada rasa aman, tapi juga pada kebenaran dan orang-orang yang kini menjadi keluargaku.”
Sosok ibu itu perlahan memudar tertiup angin, diiringi senyum yang tampak bangga. Sekali lagi suasana berubah, kini aku berada di tempat asing yang suram. Di hadapanku terbaring tubuh Seung-hyun yang tak bergerak, dikelilingi oleh kabut hitam pekat yang perlahan menyedot sisa nyawanya. Di samping telingaku terdengar bisikan-bisikan halus yang menusuk hati: “Semuanya sia-sia. Dia akan mati dan kau sendirian selamanya. Serahkan saja warisanmu pada mereka yang berkuasa, maka nyawanya akan selamat.”
Tangan gemetar hendak kuraihkan benda pusaka yang terselip di saku, siap kuberikan begitu saja demi menyelamatkannya. Namun seketika itu juga aku teringat pesan leluhur: warisan itu bukan milikku untuk diperjualbelikan atau ditukar dengan apapun. Keselamatan satu nyawa tidak boleh dibayar dengan kehancuran ribuan kehidupan lain. Aku merangkak mendekat, menggenggam tangannya erat sambil berdoa sekuat tenaga. “Aku tidak akan memberikannya. Aku percaya padamu, dan aku percaya kita bisa melewati ini bersama.”
Cahaya perak tiba-tiba memancar dari tubuhku, membakar segala kegelapan di sekeliling. Saat kabut menghilang, aku kembali berdiri di halaman Lembah Hijau. Di hadapanku kini Seung-hyun berdiri tegak dengan tatapan bangga, di sampingnya Ditya dan penjaga gerbang tadi menatapku hormat.
“Kau tidak goyah meskipun dihadapkan pada kerinduan terbesar dan ketakutan yang paling menyakitkan,” ujar penjaga itu perlahan. “Kini giliranmu, pewaris garis darah pelindung.”
Aku memperhatikan Seung-hyun yang kini memasuki ujiannya. Pemandangan di depannya berubah menjadi masa lalu kelam yang tak pernah ia ceritakan sepenuhnya padaku: saat ia dikhianati oleh sahabat terpercayanya sendiri demi kekuasaan. Sosok sahabat itu kini berdiri di hadapannya sambil menawarkan jalan mudah untuk membalas dendam, namun dengan syarat Seung-hyun harus meninggalkan jalan kebenaran dan mengkhianati semua yang ia jaga selama ini.