Angin sore berhembus pelan di antara lorong-lorong sempit yang dilapisi batu andesit tua, membawa aroma tanah basah, dupa kuno, dan jejak waktu yang seakan berhenti berputar di sini. Kota Tua Seoul—daerah yang pernah menjadi jantung kerajaan berabad-abad silam—kini berdiri tenang, menyimpan ribuan rahasia di balik dinding-dinding kayu berukir, atap genteng melengkung, dan gerbang-gerbang besar yang pernah menyaksikan naik turunnya takdir manusia maupun makhluk gaib. Anindya Kirana melangkah perlahan, ujung sepatunya menyentuh permukaan batu yang telah dilalui ribuan tapak kaki sepanjang seribu tahun lebih. Di sampingnya, Seo Seung-hyun berjalan dengan tenang, tatapan matanya yang berwarna perak memancarkan cahaya lembut saat menangkap getaran energi kuno yang tersimpan di setiap sudut bangunan.
“Tempat ini… menyimpan begitu banyak kenangan,” ucap Anindya pelan, suaranya hampir tertelan suara angin yang berdesir di antara pepohonan pinus tua. “Aku bisa merasakannya—seolah setiap batu, setiap helai serat kayu, memiliki cerita yang ingin diceritakan.”
Seung-hyun menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat samar. “Kota ini bukan sekadar tempat tinggal manusia. Selama berabad-abad, ia menjadi tempat persembunyian, tempat berkumpul, sekaligus medan pertempuran bagi kaum kita. Di lorong ini, klan werewolf pernah bersembunyi dari kejaran pemburu zaman dulu. Di pelataran kuil itu, penyihir agung pernah merapal doa untuk menjaga keseimbangan alam. Dan di balik tembok istana yang kini hanya tersisa reruntuhan itu… Nagual dari berbagai bangsa pernah bersatu menghadapi ancaman yang nyaris menghancurkan dunia makhluk gaib sekaligus manusia.”
Mereka berjalan semakin jauh, menjauhi keramaian wisatawan yang sibuk mengabadikan momen dengan kamera dan tawa riang. Langkah kaki mereka membawa ke sebuah gang kecil yang hampir terlupakan, tersembunyi di antara dua bangunan bersejarah yang kini berfungsi sebagai museum. Di ujung gang itu terdapat sebuah pintu kayu tua yang tak bertuliskan nama, dihiasi ukiran motif harimau dan burung garuda yang menyatu—simbol pertemuan dua dunia yang jauh namun terikat takdir. Seung-hyun mengulurkan tangan, jari-jarinya menyentuh permukaan pintu yang dingin. Tanpa suara, pintu itu terbuka perlahan, seakan mengenali sosok yang berdiri di hadapannya.
Di dalamnya, sebuah ruangan luas dengan lantai batu yang mengkilap seperti cermin menyambut mereka. Di dinding-dindingnya tergantung lukisan-lukisan kuno yang menggambarkan peristiwa-peristiwa besar yang pernah terjadi di tanah ini: pertempuran melawan kegelapan, persekutuan antar makhluk berbeda, hingga pengorbanan besar yang menyelamatkan keseimbangan alam. Anindya melangkah mendekati salah satu lukisan yang menarik perhatiannya—gambaran sekelompok sosok dengan mata berkilau perak, bulu halus menyelimuti sebagian tubuh mereka, berdiri berdampingan dengan sosok yang memiliki aura hangat seperti matahari dan sosok yang memancarkan keanggunan seperti bulan purnama.
“Ini… peristiwa seribu tahun yang lalu?” tanyanya, matanya tak lepas dari gambar itu.
“Benar,” jawab suara berat dari arah pintu. Seorang pria tua berpakaian jubah sutra berwarna keemasan melangkah masuk, langkahnya ringan seakan tak menyentuh tanah. “Saat itu, ancaman kegelapan bernama Sang Penghisap Jiwa hendak melenyapkan seluruh makhluk gaib di muka bumi. Manusia pun terancam, karena tanpa kita menjaga keseimbangan, alam akan runtuh bersama mereka.”
Pria itu adalah Choi Dan-woo, sesepuh tertua dari kaum Alpha, yang telah hidup sejak masa kerajaan kuno. Ia menatap Anindya dengan pandangan penuh penghormatan, seakan melihat sosok leluhur yang telah lama hilang. “Kau adalah Nagual Darah Utama. Darahmu mengalir dari garis keturunan yang telah menjaga perjanjian abadi sejak zaman dahulu kala. Perjanjian yang menyatukan Werewolf, Vampir, Penyihir, Kitsune, Nagual, dan seluruh makhluk gaib lainnya untuk saling melindungi, bukan saling memusuhi.”
Anindya merasakan aliran darahnya berdesir hangat. Ingatan-ingatan yang bukan miliknya mulai muncul perlahan: bayangan leluhurnya yang berjalan di tanah ini, suara doa yang dirapal dalam bahasa kuno, janji yang diucapkan di bawah langit berbintang seribu tahun silam. “Aku… mulai mengerti. Mengapa takdir mempertemukanku dengan Seung-hyun. Mengapa aku harus datang ke sini.”
“Karena sejarah akan terulang,” Choi Dan-woo melanjutkan suaranya yang berat namun tenang. “Tanda Bulan Merah sudah mulai terlihat. Ancaman yang pernah dikalahkan seribu tahun lalu, kini bangkit kembali. Dan kali ini, kekuatannya jauh lebih besar. Ia mencari Nagual Darah Utama—karena hanya darahmu yang mampu membuka gerbang kekuatan purba sekaligus menutupnya kembali. Jika ia berhasil mendapatkanmu, seluruh dunia akan tenggelam dalam kegelapan abadi.”
Sementara itu, di sudut lain Kota Tua, Woo Ji-ho dan kelompoknya yang terdiri dari Park Kyung-min, Lee Min-hyuk, serta Bekah Lim sedang menyusuri reruntuhan bekas markas besar persekutuan makhluk gaib. Mereka menemukan gulungan-gulungan naskah kuno yang tersembunyi di balik dinding batu yang retak. Isinya menceritakan bagaimana para leluhur pernah bersatu meski memiliki perbedaan yang besar: vampir yang menahan haus darah demi menjaga manusia, werewolf yang mengendalikan amarahnya demi melindungi yang lemah, penyihir yang menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan bukan merusak, dan nagual yang menjadi jembatan penghubung antara semua bangsa.
“Lihat ini,” ucap Woo Ji-ho sambil menunjuk sebuah baris tulisan yang terbuat dari tinta emas yang tak pudar dimakan waktu. ‘Saat Bulan Merah terbit kembali, persatuan yang pernah terjalin harus bangkit kembali. Jangan biarkan perbedaan menjadi tembok pemisah, karena di dalam hati yang sama mengalir darah yang sama—darah penjaga dunia.’
Di tempat yang berbeda, kelompok Vampir yang dipimpin oleh Park Hyun-woo sedang menjaga perbatasan antara dunia manusia dan dunia gaib yang tersembunyi di balik bangunan tua bergaya Eropa peninggalan masa lalu. Mereka merasakan getaran energi gelap yang semakin kuat, seakan ada sesuatu yang sedang bergerak mendekat, mengumpulkan kekuatan dari ketakutan, kebencian, dan perpecahan yang ada di antara kaum mereka sendiri.
“Mereka mencoba memecah belah kita seperti dulu,” ucap Park Hyun-woo dengan suara rendah. “Mereka memanfaatkan rasa curiga, dendam masa lalu, dan perbedaan yang ada di antara kita. Tapi kali ini, kita tidak akan membiarkannya terjadi lagi.”
Kembali ke ruangan tersembunyi itu, Seung-hyun menggenggam tangan Anindya erat. “Kita tidak sendirian. Seluruh klan werewolf sudah bersiap. Kaum vampir telah setia menjaga perbatasan. Penyihir sedang meramu perlindungan paling kuat. Kitsune dan makhluk mitologi lainnya telah melacak jejak musuh. Dan sesama Nagual dari berbagai negara sedang berdatangan untuk berdiri di sampingmu.”