Sejak kepulangan Anindya dan Seo Seung-hyun dari perjalanan panjang mereka melintasi benua, Kafe Senja Nusantara seolah memiliki aura yang berbeda. Bukan hanya karena harum kopi dan rempah yang kian kuat, melainkan juga bisikan-bisikan tak terlihat dari energi-energi kuno yang kini berputar lebih kencang di dalamnya. Bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang peka, atau, dalam kasus Anindya, oleh darah utamanya yang semakin kuat. Kota Tua memang telah menjadi saksi bisu, bukan hanya bagi kisah-kisah di masa lampau, tetapi juga bagi babak baru yang kini sedang ditulis. Lembaran baru ini, seperti yang ia rasakan, tidak hanya tentang kasih sayang dan persaudaraan, tetapi juga tentang kegelapan yang mulai mengancam.
Malam itu langit tampak begitu bersih, bintang-bintang berkelap-kelip terang seolah menyambut kedatangan mereka kembali. Namun bagi Anindya, kejernihan langit itu justru terasa menyembunyikan sesuatu di baliknya. Ia berdiri di ambang pintu belakang kafe, memandang ke arah halaman kecil yang ditumbuhi tanaman rempah warisan leluhurnya. Angin malam menyapu lembut wajahnya, namun ia bisa merasakan ada sesuatu yang lain terbawa bersamanya—sesuatu yang dingin, menyusup pelan, dan membuat bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.
Seo Seung-hyun menghampirinya dari belakang, lalu meletakkan selimut tebal berwarna gelap di atas bahu Anindya sebelum berdiri tegak di sampingnya. Hening sejenak, keduanya membiarkan suasana malam berbicara terlebih dahulu. Sebagai serigala terkuat dengan indra yang paling tajam, ia pun menangkap hal yang sama: suasana di sekitar mereka telah berubah. Tidak ada lagi ketenangan yang utuh seperti saat mereka baru saja melangkah pulang.
"Kau juga merasakannya?" tanya Anindya pelan, matanya tak beralih menatap pepohonan di kejauhan.
Seung-hyun mengangguk perlahan. "Sejak langit mulai gelap, aroma asing itu terus saja menyusup. Bukan semacam makhluk yang pernah kita temui selama ini. Baunya samar, seolah sengaja disembunyikan, namun berat sekali, seolah menindih seluruh tanah tempat kita berpijak."
Anindya menghela napas panjang, membiarkan hawa dingin masuk ke paru-parunya agar pikirannya semakin jernih. "Di Kota Tua tadi, saat kami merasa seolah semua telah terang benderang, ada getaran kecil yang sempat membuatku terhenti sejenak. Aku kira itu hanya sisa emosi dari penemuan kami, ternyata bukan. Itu adalah tanda peringatan. Bahwa sementara kita sibuk menyalakan pelita di tempat yang gelap, ada tangan lain yang sedang memadamkan cahaya satu per satu di tempat yang tak pernah kita duga."
Jauh dari tempat mereka berdiri, di balik tumpukan bebatuan yang tak tercatat di peta mana pun, di ruangan yang dindingnya lembap dan sejuk sepanjang masa, kegelapan sedang mengatur langkahnya sendiri. Di sana tak ada bintang yang bersinar, tak ada udara segar yang mengalir. Hanya ada hening yang begitu pekat, di mana suara jatuhnya setetes air saja sudah terdengar bagaikan guntur yang menggelegar. Di tengah ruangan itu terbentang peta raksasa yang digambar di atas lempengan batu, menampakkan seluruh persebaran makhluk-makhluk gaib di muka bumi ini. Titik-titik tanda telah dipasang di sana, sebagian berwarna emas melambangkan mereka yang setia pada jalan perdamaian, sebagian lagi berwarna hitam pekat melambangkan mereka yang telah memilih jalan lain.
Di hadapan peta itu berdiri sesosok wujud yang tertutup bayangan tebal. Tak seorang pun yang pernah melihat wajahnya dengan jelas, namun segenap makhluk di bawah perintahnya gemetar hebat hanya karena berada dalam jarak yang sama. Sosok itu mengusap jari di atas sebuah tanda emas yang sangat terang letaknya di persimpangan garis-garis besar: tempat kedudukan Anindya Kirana dan Seo Seung-hyun berada.
"Mereka berjalan persis seperti apa yang telah dirancang sejak lama," ucap suara berat itu bergema di seluruh penjuru ruangan. "Mereka menemukan sisa sejarah yang kutinggalkan, mereka menyatukan kekuatan yang terpecah, dan kini mereka merasa siap menghadapi apa saja. Sungguh menyenangkan melihat harapan yang begitu besar, karena semakin besar harapan itu, semakin hebat pula kehancurannya nanti."
Dari sela-sela bayangan, melangkah keluar dua sosok yang merupakan mata dan telinga utama bagi kekuatan ini. Mereka adalah makhluk yang sudah menyusup jauh ke dalam lingkaran kepercayaan, bahkan sejak Anindya belum sadar sepenuhnya akan jati dirinya.
"Segala gerak-gerik mereka terpantau sempurna," lapor salah satu dari mereka. "Pertemuan di Kota Tua itu semakin mengukuhkan persaudaraan di antara mereka. Elara, Ditya, dan makhluk-makhluk kuno lainnya kini semakin waspada, namun mereka belum menyadari dari arah bahaya sesungguhnya datang."
Sosok di hadapan peta itu tertawa pelan, tawa yang tak menyiratkan kebahagiaan sedikit pun, melainkan kepuasan melihat jaring yang semakin erat terjalin. "Biarkanlah mereka semakin bersatu. Semakin rapat ikatan itu, semakin mudah bagi kita untuk melumpuhkan semuanya sekaligus. Kekuatan Anindya sebagai Nagual Darah Utama memang luar biasa, namun setiap anugerah agung pasti memiliki sisi yang paling rentan. Dan sisi itulah yang akan kugunakan sebagai ujung tombak serangan kita."
Jari telunjuknya kini beralih menunjuk ke sebuah tempat tersembunyi di sudut peta. "Penyusupan ke dalam kelompok-kelompok besar harus dipercepat. Di kalangan serigala, ada yang merasa aturan baru Seung-hyun terlalu melemahkan kaumnya. Di kalangan penyihir, ada yang menginginkan kembali kekuasaan mutus seperti zaman dahulu. Di golongan vampir maupun lainnya, benih ketidakpuasan itu sudah lama tertanam. Sekarang tinggal sirami dengan keragu-raguan."
"Apakah tidak sebaiknya kita menyerang secara langsung?" tanya salah satu pengikutnya. "Pasukan kita sudah cukup banyak."
"Jangan bodoh," tegur sosok itu dingin seketika. "Menyerang terang-terangan hanya akan membuat mereka semakin erat bersatu melawan musuh bersama. Tapi jika pertempuran terjadi dari dalam, jika saling percaya itu runtuh karena fitnah dan kesalahpahaman, maka mereka akan jatuh dengan sendirinya tanpa perlu aku tumpahkan banyak tenaga. Sejarah besar tak diubah dengan pedang semata, melainkan dengan mengubah arah hati manusia dan makhluk."
Sementara itu kembali di halaman belakang Kafe Senja Nusantara, kecemasan perlahan merayap masuk ke dalam hati setiap orang yang tinggal di sana. Elara yang sedang merapikan bulu emasnya tiba-tiba mengangkat kepala tinggi-tinggi, matanya memancarkan cahaya samar. Ia merasakan getaran yang sama persis seperti saat ancaman besar akan datang mendekat. Ditya yang sedang berpatroli di atap pun turun perlahan, sayapnya terlipat rapat namun tetap siap dikembangkan kapan saja.
"Aku tidak bisa melihat bentuk musuhnya," kata Elara menghampiri Anindya dan Seung-hyun. "Seolah ada tirai tebal yang sengaja dipasang agar tak seorang pun bisa membaca rencananya. Namun satu hal yang pasti, rencana itu sangat rapi, sangat teliti, dan ditujukan tepat kepada kalian berdua, serta segala hal yang kalian cintai."
Anindya menggenggam erat tangan Seung-hyun, merasakan aliran kekuatan hangat yang mengalir menyatu dengan dirinya. Meski bahaya itu terasa begitu besar dan seolah tak terkalahkan, ia tidak merasa sendirian. "Biarlah tirai itu tetap tertutup untuk saat ini. Selama kita tetap berdiri tegak bersama, selama kita tidak membiarkan keraguan masuk ke dalam hati, tak ada rencana jahat apa pun yang akan mampu merobohkan kita."
Namun jauh di tempat gelap itu, senyum penuh kelicikan masih terukir jelas. Mereka tahu bahwa keyakinan yang kokoh sekalipun bisa retak perlahan jika dipukul terus menerus di tempat yang paling rapuh. Dan mereka sudah tahu persis di mana letak kerapuhan itu berada. Rencana di balik kegelapan itu belum sepenuhnya selesai, langkah-langkah kecilnya baru saja mulai dijalankan, menyusup ke setiap sudut kehidupan mereka tanpa pernah diketahui wujudnya.
Malam semakin larut, bintang tetap bersinar terang di langit, namun bayangan panjang telah terlempar jauh ke muka bumi. Pertanda bahwa babak pertempuran yang sesungguhnya bukan lagi tentang mencari jejak masa lalu, melainkan tentang mempertahankan apa yang sedang dibangun di masa kini, dari kehancuran yang dirancang dengan begitu kejam di balik kegelapan.
Anindya memejamkan mata sejenak, mencoba merentaskan kesadarannya lebih jauh, menembus lapisan-lapisan udara yang memisahkan tempatnya berdiri dengan persembunyian sosok yang sedang mengatur segala sesuatu. Darah di dalam tubuhnya berdesir hebat, seolah setiap tetesnya memiliki mata yang mampu melihat apa yang tertutup bagi mata biasa. Ia menyadari bahwa kekuatan yang kini semakin utuh ini, bukan sekadar anugerah warisan, melainkan beban pengingat bahwa sejak semula dirinya memang ditunjuk sebagai perisai di antara dua dunia yang kerap kali saling bertabrakan.