Langit di atas kawasan Kafe Senja Nusantara masih diselimuti gelap samar, meski di ufuk timur mulai terlihat secercah warna jingga pucat yang perlahan menyebar memecah kegelapan. Udara pagi terasa lebih sejuk dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh subur di sekeliling halaman tempat itu. Semalam berlalu tanpa ada gangguan yang berarti, namun ketenangan itu sama sekali tidak membuat hati Anindya Kirana menjadi tenang sepenuhnya. Sejak kepulangan mereka kembali ke tempat yang menjadi rumah baginya itu, getaran aneh terus dirasakan mengalir di sepanjang pembuluh darahnya, seolah ada sesuatu yang selama ini terlelap di dalam sanubarinya kini mulai bergerak perlahan hendak terbangun.
Anindya duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar anyaman halus di ruangan paling dalam kafe, ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang diizinkan atau memiliki ikatan darah dengan garis keturunannya. Di sekelilingnya tersusun rapi lilin-lilin berwarna putih keemasan yang apinya bergerak lurus ke atas tanpa terhempas angin sekalipun, seolah-olah mereka dijaga oleh kekuatan yang tidak kasat mata. Matanya terpejam rapat, kedua telapak tangannya terbuka ke atas bertumpu pada kedua lutut, berusaha sekuat tenaga untuk merespons setiap sinyal yang dikirimkan oleh tubuhnya sendiri.
Di ambang pintu, Seo Seung-hyun berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Anindya, namun ia juga tidak sanggup berpaling pergi meninggalkannya sendirian di saat-saat yang terasa begitu penting ini. Mata keperakannya menatap lekat ke arah sosok wanita yang dicintainya itu, penuh dengan perpaduan rasa khawatir dan bangga yang mendalam. Sejak pertemuan pertama di tempat yang kini menjadi saksi segala kisah mereka bermula, ia sudah tahu bahwa Anindya bukanlah wanita biasa. Darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah darah para pemimpin penjaga, darah Nagual Darah Utama yang keberadaannya sudah dikabarkan lenyap berabad-abad lamanya. Dan kini, tampaknya waktunya telah tiba bagi kekuatan sesungguhnya dari garis keturunan itu untuk benar-benar bangun sepenuhnya.
Perlahan namun pasti, cahaya keemasan yang sangat lembut mulai memancar dari poros tubuh Anindya. Awalnya hanya terlihat seperti remah-remah sinar matahari yang terperangkap di balik kulit, namun lama-kelamaan cahaya itu semakin melebar dan semakin terang, hingga membuat seluruh ruangan itu seolah diterangi oleh ribuan bintang kecil yang turun ke bumi. Getaran yang dirasakannya semakin kuat, disertai dengan ribuan bayangan kenangan yang sama sekali bukan miliknya melainkan milik para leluhurnya yang pernah memegang kekuatan ini sebelumnya. Ia melihat medan pertempuran yang dahsyat, melihat persekutuan yang kokoh antar bangsa, melihat pengkhianatan yang menyakitkan, hingga melihat bagaimana kekuatan ini akhirnya harus disembunyikan demi menjaga keseimbangan dunia agar tidak runtuh seketika.
Rasa panas yang menyengat perlahan menjalar, bukan rasa panas yang membakar hingga menghancurkan, melainkan rasa hangat yang meresap ke setiap serat tulang dan ototnya, membersihkan segala sisa-sisa energi gelap yang pernah sempat merasukinya, serta mengisi setiap ruang yang kosong di dalam jiwanya. Napasnya sempat tersengal pelan, karena beban kekuatan yang kini mulai menyatu sepenuhnya itu ternyata jauh lebih besar daripada apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tidak hanya mewarisi kekuatan fisik atau kemampuan mengendalikan unsur alam semata, melainkan juga mewarisi tanggung jawab besar yang dipikul oleh setiap pendahulunya: menjaga batas antara dunia makhluk halus dan dunia manusia, menjaga persatuan antar berbagai bangsa makhluk gaib, serta memastikan bahwa kekuatan jahat yang selama ini berusaha bangkit tidak akan pernah mendapatkan jalan masuk untuk merusak kedamaian.
"Tarik napas pelan-pelan, Sayang. Biarkan ia menyatu sepenuhnya, jangan dilawan," ucap Seung-hyun dengan nada suara yang sangat lembut namun terdengar tegas, seketika suaranya menembus keheningan ruangan dan sampai dengan jelas di telinga Anindya.
Kata-kata itu seolah menjadi kunci yang dicarinya. Anindya menuruti saran itu, menarik napas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya perlahan, membiarkan seluruh energi yang bergejolak itu menemukan tempat yang tepat di dalam dirinya. Cahaya yang semula memancar terang benderang kini perlahan meredup kembali, menyusup masuk kembali ke dalam tubuhnya hingga tak ada sisa yang terlihat dari luar, namun perubahan yang terjadi sungguh terasa nyata. Ketika Anindya akhirnya membuka matanya, sorot matanya kini terlihat berbeda. Masih sama lembutnya, namun di balik kelembutan itu terpancar wibawa yang begitu besar, ketenangan yang tak tergoyahkan, serta pengetahuan luas yang selama ini tersimpan rapat di dalam benak leluhurnya kini telah terbuka baginya.
Anindya bangkit berdiri perlahan, tubuhnya terasa jauh lebih ringan, lebih kuat, dan lebih segar daripada sebelumnya. Setiap gerakannya kini terasa luwes seolah ia sudah terbiasa membawa kekuatan raksasa ini seumur hidupnya. Ia melangkah mendekati Seung-hyun, dan begitu tangan Seung-hyun terulur menyambutnya, Anindya merasakan bahwa ia kini bisa merasakan setiap emosi, setiap kekuatan, dan setiap niat baik dari sosok itu tanpa perlu banyak bicara. Ikatan batin yang terjalin di antara keduanya kini menjadi semakin kuat tak terputus.
"Aku bisa merasakan semuanya, Seung-hyun. Segala apa yang pernah terjadi, segala apa yang sedang direncanakan, dan segala apa yang mungkin akan datang menghadapi kita," ucap Anindya pelan, namun suaranya bergema penuh ketenangan. "Mereka yang merencanakan keburukan itu benar-benar tidak menyadari bahwa selama ini mereka hanya membangun jebakan untuk diri mereka sendiri. Kekuatan ini tidak diciptakan untuk melenyapkan sesama, melainkan untuk melindungi apa yang seharusnya terjaga."
Seung-hyun mengangguk pelan, tangannya merapat memegang bahu Anindya, menatapnya dengan penuh kekaguman yang tak terlukiskan. "Kau telah membuktikan dirimu layak menerimanya, Anindya. Darah itu mengalir di dalam nadimu, namun hatimu yang murnilah yang membuat kekuatan ini kembali bersinar dengan cahaya yang sesungguhnya. Sekarang kita tahu bahwa waktu kita tidak banyak. Langkah musuh semakin dekat, dan mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil menghancurkan segala persekutuan yang telah kita bangun bersama."
Berita tentang kekuatan Anindya yang akhirnya bangun sepenuhnya menyebar bagai kilat di antara barisan sekutu mereka. Satu per satu pemimpin dari berbagai bangsa makhluk gaib datang menghadap, bukan untuk mempertanyakan kebenaran hal itu, melainkan untuk memastikan kembali kesetiaan mereka sepenuhnya berada di bawah pimpinan Nagual Darah Utama. Hiroshi Tanaka datang membawa penghormatan yang tulus, disusul dengan wakil-wakil dari kaum Penyihir, Vampir, Lycan, Kitsune, hingga para makhluk mitologi langka seperti Elara sang Feniks, Ditya sang Garuda Muda, Meiying sang Fenghuang, dan banyak lagi lainnya. Semua menyadari bahwa dengan terbangunnya kekuatan ini, keseimbangan dunia yang sempat terancam miring kini kembali tegak lurus, meski tantangan yang dihadapi justru akan semakin berat.
Di ruangan pertemuan yang luas di lantai dua kafe, Anindya berdiri di tempatnya sejenak, memandangi wajah-wajah di depannya yang memancarkan harapan sekaligus kesiapan untuk berkorban apa saja demi kebenaran. Ia sadar bahwa ia tidak lagi berjuang hanya demi dirinya sendiri atau demi orang-orang terdekatnya, melainkan demi seluruh kehidupan yang ada di permukaan bumi ini. Ia melangkah maju sedikit, dan seketika seluruh ruangan itu hening seketika, menanti apa yang akan disampaikannya.
"Kawan-kawan sekalian," mulainya dengan tenang namun tegas, suaranya terdengar jelas sampai ke telinga setiap orang yang hadir. "Selama ini kita sibuk mencari jejak, sibuk mencari kebenaran yang sempat hilang ditelan masa, dan sibuk membuktikan bahwa kita bisa bersatu meski berbeda asal usul. Kini saatnya kita berhenti hanya mencari dan mulai melindungi apa yang sudah kita temukan. Musuh kita berpikir bahwa dengan menyembunyikan fakta dan menanamkan benih perselisihan, mereka akan mudah menguasai segalanya. Namun mereka lupa satu hal: cahaya tidak akan pernah padam hanya karena seseorang menutup matanya."
Anindya mengangkat tangannya perlahan, dan seketika itu juga udara di sekelilingnya berubah menjadi hangat, diikuti dengan munculnya bayangan-bayangan lambang persekutuan dari setiap bangsa yang hadir di sana, bersinar berpadu dalam satu cahaya keemasan yang menyatu sempurna tanpa ada yang saling menindih. "Kekuatan yang kini mengalir sepenuhnya di dalam diriku ini, bukanlah milikku seorang saja. Ini adalah kekuatan dari para leluhur kita semua, kekuatan alam semesta, dan kekuatan persatuan kita. Mulai hari ini, kita tidak lagi menanti serangan datang. Kita akan memperkokoh benteng pertahanan di setiap penjuru, kita akan menguatkan ikatan persaudaraan ini, dan kita akan menghadapi setiap rencana jahat mereka dengan kepala tegak dan hati yang bulat."