Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #26

Langit berwarna darah

Udara pagi yang semula terasa sejuk dan menenangkan tiba-tiba berubah menjadi berat, seolah seluruh beban masa lampau dan takdir yang tertulis sedang menekan setiap helaan napas siapa saja yang berada di sekitar Kafe Senja Nusantara. Tidak ada guntur, tidak ada badai yang datang mendadak, hanya keheningan yang begitu pekat hingga terdengar menakutkan. Burung-burung yang biasanya berkicau riang di dahan pohon rindang di halaman kafe kini telah lenyap entah ke mana, menyisakan dahan yang bergoyang pelan seolah digerakkan oleh sesuatu yang tidak terlihat mata. Di kejauhan, garis cakrawala yang biasanya cerah keemasan perlahan mulai berubah rona. Bukan jingga hangatnya matahari yang terbit, melainkan semerah darah yang perlahan menyelimuti seluruh penjuru langit, seolah langit sendiri sedang menangis menumpahkan segala luka yang telah lama terpendam.


Anindya Kirana berdiri tegak di ambang pintu kafe, tangannya mencengkeram bingkai kayu jati itu hingga buku-buku jarinya memutih. Getaran hebat merambat dari dalam dadanya, bukan karena takut, melainkan karena darah Nagual Utamanya sedang merespons energi gelap yang begitu besar dan kuat datangnya dari segala arah. Setiap urat nadanya seolah menyala terasa panas, memberitahunya bahwa ramalan yang selama ini mereka pelajari, baca, dan coba cegah akhirnya benar-benar tiba. Langit Berwarna Darah adalah pertanda dimulainya masa kritis, saat batas antara dunia makhluk cahaya dan dunia kegelapan perlahan runtuh, dan siapa pun yang memegang kekuasaan gelap akan berusaha sekuat tenaga untuk membalikkan keadaan selamanya demi kepentingan mereka sendiri.


Di sampingnya, Seo Seung-hun berdiri dengan sikap siaga penuh, matanya yang berwarna perak berkilau tajam memindai setiap sudut yang terlihat maupun tersembunyi. Sebagai seorang Alpha Werewolf terkuat, indra penciumannya menangkap bau anyir dan busuk yang menyengat, bau energi yang tidak berasal dari kehidupan mana pun, melainkan dari kehancuran murni. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri tegak, namun ia tidak akan pernah membiarkan ketakutan itu menguasai dirinya. Tangan kanannya perlahan merapat ke bahu Anindya, menyampaikan kekuatan lewat sentuhan itu, membiarkan wanitanya tahu bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, ia akan tetap berdiri di sana sebagai tameng yang tidak akan pernah roboh. "Mereka datang semua," ucapnya perlahan namun tegas, suaranya berat namun tenang. "Mereka tidak lagi bersembunyi di balik bayangan."


Anindya mengangguk pelan, matanya tidak lepas menatap langit yang semakin lama semakin merah pekat seolah seluruh dunia sedang dicelupkan ke dalam genangan darah. "Mereka tahu kita telah menyatukan kekuatan persekutuan," sahutnya, suaranya sedikit bergetar namun penuh keyakinan. "Mereka tahu bahwa kita telah memegang kunci keseimbangan, sehingga mereka memutuskan untuk menyerang duluan sebelum kita sempat mengamankan semuanya sepenuhnya. Ini bukan sekadar serangan biasa, Seung-hyun. Ini adalah langkah penghabisan dari mereka yang ingin menguasai segala hukum alam."


Belum sempat kata-kata itu usai terucap, langkah kaki terdengar serempak mendekat dari segala arah. Hiroshi Tanaka muncul lebih dulu di ujung jalan setapak, wajahnya yang biasanya tenang kini tampak serius menyiratkan kewaspadaan tinggi. Di belakangnya beriringan datang Elena Varga, Liam O'Neill, Sofia Moretti, beserta seluruh Nagual dari berbagai negara yang telah bersatu dalam satu tujuan yang sama. Tidak lama kemudian, anggota klan serigala yang dipimpin langsung oleh Seo Min-woo dan Kang Seok-jin mulai memenuhi sisi kanan dan kiri halaman kafe dengan barisan yang rapi dan siap tempur. Di atap-atap bangunan sekitar, Lee Dong-min beserta kaum Lycan bersembunyi di tempat-tempat tinggi dengan pandangan yang tak pernah lepas mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan. Dari kejauhan terdengar sayap yang mengepak perlahan namun gagah, menandakan Elara, Ditya, Meiying, Rahma, Arjuna, dan seluruh makhluk bersayap telah mengambil posisi di angkasa, siap menyergap apa pun yang mencoba turun dari langit merah itu.


Han Ji-won memimpin barisan para Penyihir, melantunkan doa perlindungan yang lembut namun bergetar hebat energinya, membentuk benteng tak kasat mata yang perlahan menyelimuti seluruh area tempat mereka berkumpul. Park Hyun-woo beserta kaum Vampir pun telah bersiap, tidak lagi menyembunyikan taring maupun kekuatan mereka, karena hari ini bukan waktunya untuk bersikap lunak pada mereka yang menginginkan kehancuran. Sari Dewi, Rina Wijaya, Bima Pratama, dan Dika Santoso berdiri tegak di antara barisan, meski baru beberapa waktu lalu mereka menyadari jati diri asli mereka, hari ini mereka tampak sama teguhnya dengan mereka yang telah menyadari kekuatan sejak lama. Mereka tidak lagi merasa asing, mereka merasa memiliki tempat, merasa menjadi bagian dari satu tubuh besar yang berjuang demi kebaikan bersama.


Semakin lama warna merah di langit semakin pekat, hingga matahari seolah tertelan sepenuhnya oleh warna itu. Cahayanya tidak lagi hangat, melainkan memancarkan sinar kemerahan yang dingin dan menakutkan. Dari balik kabut tipis yang perlahan merayap masuk ke daratan, sosok-sosok bayangan mulai terlihat bergerak tidak beraturan. Tubuh mereka tidak berbentuk sempurna, seolah terbuat dari debu kelabu dan sisa-sisa energi jahat yang dikumpulkan selama ribuan tahun. Tidak ada wajah yang terlihat jelas, namun dari sana terpancar keinginan untuk menghancurkan apa saja yang menghalangi jalan mereka. Di antara ribuan sosok bayangan itu, terlihat pula mereka yang dulunya pernah berdiri bersama, kini telah berubah sepenuhnya dikendalikan oleh kehendak kegelapan yang begitu kuat. Mereka bukan lagi diri mereka yang dulu, melainkan boneka yang dikirim untuk meruntuhkan persaudaraan yang telah dibangun dengan susah payah.


"Jangan tergoyahkan!" seru Anindya lantang, suaranya bergema memenuhi segenap penjuru hingga didengar oleh setiap makhluk yang hadir. "Mereka ingin kita saling menyakiti hati, mereka ingin persekutuan ini retak sebelum pertempuran dimulai. Ingatlah janji kita, ingatlah tujuan kita berdiri di sini hari ini! Bukan untuk dendam, melainkan demi menjaga dunia tempat kita hidup, demi menjaga setiap makhluk yang tidak mampu membela dirinya!"


Seung-hun melangkah sejajar di samping Anindya, tangannya kini menggenggam erat tangan wanitanya. Ia menatap ke arah barisan musuh yang semakin mendekat, tatapannya tegas dan penuh kewibawaan seorang pemimpin. "Siapa pun yang masih memiliki sedikit pun sisa kesadaran, berhentilah selagi masih ada waktu," suaranya berat dan berwibawa, terdengar hingga telinga siapa saja yang mendengarnya. "Kami tidak memusuhi kalian, namun kami tidak akan membiarkan kalian menghancurkan apa yang telah dijaga leluhur kita sejak zaman dahulu. Tetaplah berdiri bersama kami, atau kalian akan terjatuh bersama kegelapan yang kelak akan menelan kalian juga."


Tidak ada jawaban yang datang selain teriakan melengking yang menyayat hati, seolah ribuan jiwa yang tersiksa berteriak serempak. Gelombang pertama serangan pun dilepaskan, berupa hembusan angin yang membawa racun halus yang mampu melenyapkan kekuatan siapa pun yang terkenanya. Namun Han Ji-won dan seluruh Penyihir sudah siap, mereka melambaikan tangan serentak mengerahkan tembok pelindung berwarna keemasan dan keunguan yang memantulkan kembali serangan itu hingga menghilang ditelan udara. Elara dan Ditya memimpin pasukan makhluk terbang melesat turun, melepaskan semburat cahaya dari sayap mereka yang membakar setiap bayangan yang mencoba menerobos masuk.


Pertempuran pun akhirnya pecah sepenuhnya di bawah langit yang berwarna merah darah. Suara benturan kekuatan terdengar memekakkan telinga, tanah bergetar hebat seolah mau terbelah dua. Anindya merasakan kekuatan Nagual Utamanya mengalir deras tanpa henti, menyatu dengan kekuatan Elixir Penstabil yang telah mereka persiapkan dengan susah payah. Ia tidak bertarung semata-mata untuk menyerang, melainkan untuk menyatukan energi seluruh makhluk yang ada di sana agar perlindungan mereka semakin kokoh dan kekuatan serangan mereka semakin terarah. Ia merasakan sakit melihat bagaimana mereka harus berhadapan dengan orang yang pernah mereka kenal, namun ia juga sadar bahwa ini adalah ujian terbesar bagi kesetiaan dan kepercayaan yang telah dibangun.


Di tengah keriuhan itu, Anindya melihat sesosok bayangan yang lebih besar dan kuat perlahan muncul di tengah pasukan lawan. Sosok itu memancarkan kekuatan yang jauh di atas yang lain, seolah dialah pengendali utama dari segala kegelapan yang terjadi saat ini. Sosok itu menatap tepat ke arah Anindya, seolah sudah lama menantikan pertemuan ini. Dari kejauhan, terdengar suara berat yang seolah bergema dari lubuk bumi yang paling dalam. "Kau pikir persatuan yang rapuh ini akan mampu menghentikan apa yang sudah ditakdirkan sejak ribuan tahun lalu? Kau pikir darahmu itu akan cukup untuk melawan arus takdir yang tak terelakkan?"


Anindya mempererat genggamannya pada tangan Seung-hun, lalu melangkah maju satu langkah. "Takdir tidak pernah ditulis oleh kegelapan sendirian," jawabnya tegas tanpa rasa takut sedikit pun. "Takdir kita ditentukan oleh apa yang kita pilih untuk diperjuangkan. Dan hari ini, kami memilih cahaya. Kami memilih kedamaian. Dan kami akan membuktikan bahwa persatuan inilah yang sesungguhnya lebih kuat dari apa pun di dunia ini."


Langit merah itu seolah semakin bergemuruh mendengar jawaban itu, seolah sedang menguji seberapa teguh hati mereka yang berdiri di bawahnya. Tidak ada yang tahu seberapa lama pertempuran ini akan berlangsung, tidak ada yang tahu seberapa berat pengorbanan yang harus diberikan. Namun satu hal yang pasti, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat mundur selangkah pun. Di bawah naungan langit yang berwarna merah darah itu, mereka berdiri bersandar satu sama lain, menyadari bahwa bahaya terbesar memang baru saja datang, namun di situlah kekuatan sejati persekutuan mereka akan benar-benar diuji hingga ke titik terujung.


Sinar merah perlahan berkilau tajam di mata setiap makhluk, menandakan bahwa pertempuran ini bukan sekadar tentang kemenangan atau kekalahan, melainkan tentang memastikan bahwa esok hari matahari tetap akan terbit, dan bahwa cahaya abadi itu kelak akan kembali bersinar terang menyinari dunia yang sedang diguncang badai. Di tengah segala kerusuhan dan ketakutan yang menyelimuti, satu keyakinan tetap utuh tersimpan di hati Anindya maupun Seung-hun, juga di hati siapa saja yang berdiri bersama mereka: selama kita melangkah beriringan tanpa berubah arah sedikit pun, tidak ada kegelapan yang mampu bertahan selamanya.

Lihat selengkapnya