Bulan Senja Merah

Maghfira Izani
Chapter #28

Kafe Tempat Semua Berawal

Matahari terbenam dengan lembut di ufuk barat, menyisakan semburat jingga dan ungu yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut, seolah langit sendiri sedang merapikan selimut malam untuk menyelimuti bumi dengan damai. Di sudut kota yang tenang, tempat di mana jalanan mulai sepi dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, Kafe Senja Nusantara masih berdiri tegak, sama seperti hari-hari sebelumnya. Cahaya hangat dari jendela kacanya memancar keluar, menyapa siapa saja yang lewat, seolah menjadi penanda bahwa di sinilah tempat pulang yang sesungguhnya. Di sinilah segala sesuatu bermula—pertemuan, perpisahan, perjuangan, harapan, cinta, dan takdir yang akhirnya bersatu menjadi satu kisah utuh yang tak akan pernah terlupakan.


Pintu kafe berdentang pelan saat dibuka, mengeluarkan bunyi yang sudah begitu akrab di telinga. Udara hangat yang beraroma campuran harum kopi yang baru diseduh, wangi rempah-rempah khas Nusantara, dan sedikit wangi kayu manis menyambut siapa saja yang melangkah masuk. Ruangan itu terasa begitu nyaman, dengan dinding yang berwarna krem lembut, dihiasi lukisan-lukisan pemandangan alam dari berbagai penjuru dunia. Meja-meja kayu jati tersusun rapi, dan di setiap sudutnya terasa kehangatan yang bukan hanya datang dari perapian kecil, melainkan dari kehadiran orang-orang yang saling mengasihi.


Anindya berdiri di balik meja panjang, tangannya bergerak lincah menyeka gelas-gelas kaca hingga bening berkilau. Wajahnya tampak tenang dan damai, seolah semua beban berat yang pernah memikul pundaknya kini telah luruh bersama kabut pagi. Matanya yang berwarna cokelat keemasan jernih menatap sekeliling ruangan dengan rasa syukur yang mendalam.


Tepat saat itu, pintu kafe kembali terbuka. Seo Seung-hyun melangkah masuk dengan senyum lembut yang selalu ia bawa setiap kali pulang ke rumah ini. Namun belum sempat ia menyapa, dua sosok kecil berlarian riang melesat dari balik meja, berlari kian kemari di dalam ruangan tanpa memedulikan sekelilingnya.


Di pergelangan tangan kanan anak laki-laki itu, tampak tanda lahir berwarna kemerahan yang bentuknya persis seperti ular yang melingkar rapat dan menggigit ujung ekornya sendiri, seolah tak memiliki awal maupun akhir—simbol keabadian yang utuh. Matanya berwarna perak keabu-abuan, persis seperti mata ayahnya, namun di tengah pelupuk matanya terpancar bintik cokelat keemasan lembut yang diwarisi dari ibunya.


Sedangkan di pergelangan tangan kiri anak perempuannya, terlihat tanda lahir yang serupa namun tak sama persis: berbentuk dua ekor ular kecil yang saling melingkar menyatu, seolah berpelukan tak terpisahkan. Matanya berwarna cokelat keemasan jernih persis seperti mata Anindya, namun setiap kali ia bergerak atau menatap ke arah cahaya, terpancar kilau perak samar yang diwarisi dari Seung-hyun.


Kedua tanda lahir itu memancarkan cahaya kemerahan yang lembut namun nyata, berdenyut pelan seolah memiliki nyawa sendiri, dan hanya bisa dilihat oleh mereka yang mengalirkan darah istimewa.


“Wahai dua anak nakal! Berhentilah berlari di dalam kafe! Nanti terantuk dan terluka!” Teguran Anindya terdengar tegas namun tetap menyimpan kelembutan, membuat kedua anak itu seketika berhenti melangkah. Mereka menundukkan kepala, sadar bahwa kelakuan mereka tadi memang terlalu riuh dan kurang sopan di dalam ruangan.


Anindya kemudian menoleh ke arah Seung-hyun. Tatapan matanya cokelat keemasannya seakan berkata tanpa suara: “Lihatlah kelakuan anak-anakmu.”


Melihat lirikan mata istrinya itu, Seung-hyun seketika tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang rapi. Ia lalu mengangkat tangan dan menggaruk-garuk bagian atas kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal, persis seperti orang yang salah tingkah namun tak kuasa menahan rasa bangga dan sayang yang meluap-luap.


Melihat ayahnya tersenyum begitu, anak laki-laki itu mengangkat wajahnya yang semula cemberut, lalu melangkah mendekat dengan kedua tangannya terangkat tinggi-tinggi, meminta agar digendong oleh sang ayah. Matanya yang berwarna perak keabu-abuan dengan bintik keemasan di tengahnya menatap wajah Seung-hyun dengan pandangan penuh harap.


“Ayah... gendong aku,” pintanya dengan suara renyah yang membuat hati siapa pun yang mendengarnya luluh seketika.


Seung-hyun tersenyum makin lebar, lalu dengan lembut mengangkat tubuh mungil putranya dan mendekapnya erat di dada. Anak itu memeluk leher ayahnya dengan erat, lalu tiba-tiba bertanya dengan nada penasaran, “Ayah... kapan ya tamu-tamu dari Nusantara itu datang? Katanya mereka akan datang ke sini, sudah lama sekali kami menunggu.”


Mendengar pertanyaan polos itu, Seung-hyun menatap Anindya sejenak sebelum kembali menatap putranya dengan senyum hangat. “Mereka akan datang, Nak. Pada waktunya nanti. Kafe ini selalu terbuka bagi siapa saja, dan tamu-tamu dari Nusantara pun pasti akan datang menemui kita.”


Anindya tersenyum melihat pemandangan itu, hatinya terasa penuh dan hangat membayangkan pertemuan yang kelak akan terjadi. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Seung-hyun yang sedang menggendong putra mereka, lalu menatap putrinya yang berdiri menatap mereka dengan mata cokelat keemasan yang berkilau perak. Cahaya kemerahan dari tanda lahir di pergelangan tangan kedua anaknya perlahan meredup, seolah ikut tenang bersama hati pemiliknya.


“Sudah... jangan terus-terusan mengganggu Ayah,” ucap Anindya pelan namun penuh kasih sayang sambil menyentuh lembut pipi putrinya. “Nanti kalau tamu-tamu itu datang, kalian boleh menyapa mereka dengan sopan. Sekarang bersikaplah tenang dan baik.”

Lihat selengkapnya