Kereta KRL itu melaju pelan meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Pintu otomatis tertutup dengan bunyi khas yang sudah terlalu sering Erwin dengar, sampai-sampai suara itu seperti tidak lagi punya makna. Ia berdiri di dekat pintu, satu tangan menggenggam strap gantungan, satu tangan lagi memegang gelas plastik berisi es teh manis yang masih dingin.
Ia menyesap perlahan. Manisnya terasa sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Namun justru itu yang membuat pikirannya mendadak kosong. Berlalu begitu saja. Itu seperti ruang yang baru saja dibersihkan. Persetan, kenangan itu masuk tanpa diundang.
Omong-omong, toko olahraga di Gandaria City terlihat sedikit ramai.
Erwin menghela napas kecil.
Pagi tadi, ia sempat mampir ke sana. Awalnya cuma niat lihat-lihat sepatu lari. Sudah lama ia ingin mulai jogging lagi. Bukan karena tren, bukan karena ingin terlihat sehat di Instagram. Lebih ke arah.. mungkin karena ia merasa hidupnya mulai berat, sehingga terpikirkan untuk lebih meringankan diri dengan aktivitas workout. Entah kenapa, lari terasa seperti cara yang jujur untuk menghadapi sesuatu.
Di dalam toko itu, semuanya terlihat terang. Lampu putih, rak-rak tertata rapi, sepatu-sepatu tersusun seperti karya seni. Ada aroma khas karet dan kain baru. Musik pelan mengalun, terlalu netral untuk diingat.
Di situ, ia bertemu kejadian kecil yang anehnya terus menempel di pikirannya.
Seorang pegawai toko. Mungkin pegawai itu seorang anak muda. Bisa jadi seusia dirinya. Pegawai itu sedang melayani seorang pelanggan pria. Dari penampilannya, pria itu tampak mapan. Kaos polo, jam tangan mahal, sepatu bersih tanpa debu. Namun nada suaranya, kasarnya bukan main.
“Ini ukuran salah! Saya tadi bilang 42, kenapa dikasih 41?” bentaknya.
Pegawai itu terlihat gugup, saat meladeninya, “Maaf, Pak, mungkin saya salah dengar. Saya ambilkan yang—”
“Lah, kok bisa salah dengar? Kamu gabut atau gimana?”
Orang-orang mulai melirik. Termasuk Erwin.
Pegawai itu menunduk. Wajahnya merah, tapi ia tetap berusaha tersenyum saat membalas, “Maaf, Pak. Saya langsung ganti sekarang.”
Namun pria itu belum selesai. Ia masih tetap membentak, “Pelayanan toko ini kayak gini? Nggak profesional banget! Manager kamu mana? Saya mau complaint!”
Di titik itu, sesuatu dalam diri Erwin terusik. Ia merasa tidak nyaman. Ada dorongan kecil untuk mendekat, mungkin menenangkan, atau sekadar berdiri di dekat pegawai itu sebagai bentuk dukungan.
Namun faktanya ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri di kejauhan. Sekadar mengamati. Terus saja ia diam sampai waktunya akhirnya membawanya pergi jauh dari toko olahraga tersebut.
Tahu-tahu kereta sudah berguncang pelan. Erwin kembali menyesap es tehnya, kini tinggal setengah.
Pikirannya beralih ke saat teduh pagi tadi. Masih teringat dengan bacaan dari Efesus 5.
“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan…”
Ia ingat betul bagaimana ia membaca ayat itu sambil duduk di pinggir kasur. Masih setengah mengantuk. Namun entah kenapa, kata “terang” itu terasa seperti menampar pelan.
Terang.