Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #2

Jogging di Sekitar Kopitiam

Pagi itu, napas Erwin masih belum sepenuhnya teratur saat ia memperlambat langkahnya di sekitar Danau Sogo, Alam Sutera. Keringat membasahi kaosnya, menempel di punggung, sementara earphone yang tadi memutar musik kini hanya menggantung tanpa suara. Ia sengaja mematikannya sejak putaran terakhir.

Ia ingin mendengar. Bukan mendengar suara lagu yang ia putar tadi. Lebih ke arah mendengar suara napasnya sendiri. Juga, suara-suara yang ada di sekitarnya. Itu seperti suara langkah kaki orang-orang di sekitarnya. Ada juga suara air danau yang tenang. Sesekali terganggu oleh angin atau riak kecil dari ikan yang muncul ke permukaan.

Jogging pagi ini terasa berbeda. Bukan rasanya yang lebih ringan. Karena justru lebih berat. Seolah setiap langkah bukan hanya menggerakkan tubuh, tapi juga menyeret sesuatu dari dalam dirinya. Mungkin Erwin sedang menyeret beragam pergumulan hidupnya yang tak ada habisnya.

Sekonyong-konyong ia berhenti. Menundukkan kepala. Kedua tangannya bertumpu di lutut. Langsung ia menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan.

“Gila… udah lama nggak lari secapek ini,” gumamnya pelan.

Namun bukan hanya merasakan lelah. Ada sesuatu dari bacaan jam empat subuh tadi yang masih tertinggal. Masih menempel dalam kepala. Mengganggu dengan cara yang aneh. Itu bukan seperti gangguan yang ingin dihindari, tapi seperti pertanyaan yang menolak untuk diabaikan.

Sontak ia teringat dengan Keluaran 29. Tentang mezbah, korban bakaran, hingga pengudusan yang dilakukan berulang-ulang.

Ia ingat bagaimana ia sempat mengernyitkan dahi saat membacanya.

Kenapa harus terus-menerus? Kenapa harus tujuh hari? Kenapa sekali saja itu seperti tidak pernah cukup?

Erwin mengusap wajahnya dengan handuk kecil, lalu berjalan pelan keluar area jogging. Perutnya mulai terasa kosong. Tenggorokannya kering.

Di sana ada kopitiam. Itu yang langsung terlintas di kepalanya. Yah, tidak jauh dari danau, ada sebuah kopitiam kecil yang sering ia lewati, tapi jarang ia singgahi. Hari ini, entah kenapa, ia merasa ingin duduk di sana.

Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di kursi kayu dengan meja marmer yang sedikit retak di sudutnya. Suasananya sederhana. Aroma kopi hitam pekat bercampur dengan bau roti bakar dan mentega.

“Es kopi susu satu, sama roti kaya butter,” katanya ke pelayan.

Pelayan itu mengangguk cepat.

Erwin bersandar. baru saja ia hendak membuka ponselnya, ketika suara dari meja sebelah menarik perhatiannya.

Dua pria. Salah satunya lebih tua, mungkin sekitar lima puluhan. Yang satu lagi lebih muda, mungkin karyawan. Nada bicara pria yang lebih tua itu begitu tajam.

“Kamu pikir ini bisa ditutupin terus?” katanya, suaranya ditekan tapi jelas terdengar.

Pria yang lebih muda tampak gelisah saat menjawab, “Pak, saya cuma—”

“Cuma apa? Cuma ambil sedikit? Cuma pinjam?”

Erwin melirik sekilas.

Pria muda itu menunduk. Tangannya saling menggenggam, seperti orang yang sedang menahan sesuatu.

“Saya niatnya mau balikin, Pak…”

“Kapan? Setelah ketahuan?”

Hening. Suasana di meja itu berubah menjadi berat. Bahkan suara sendok beradu dengan gelas dari meja lain terasa seperti terlalu keras.

Erwin menahan napas.

“Ini bukan soal uangnya,” lanjut pria yang lebih tua. “Ini soal integritas. Kamu kerja di sini, karena kamu, saya dan lainnya percayai. Tapi kamu malah…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Lihat selengkapnya