Lampu bioskop perlahan meredup. Erwin duduk di kursinya, baris tengah, agak ke samping. Berondong jagung di pangkuannya masih hampir penuh. Ia bahkan tidak terlalu memperhatikan film yang sedang diputar. Namun kelihatannya itu sebuah film drama yang katanya bagus, tapi pikirannya belum sepenuhnya membawa alur filmnya tersebut.
Seperti masih ada sisa-sisa pagi tadi. Saat jogging di sekitar kopitiam. Ada percakapan tentang kesalahan dan kesempatan. Entah kenapa, semuanya itu belum selesai di dalam dirinya.
Layar di depannya menampilkan adegan emosional. Tokoh utama sedang berteriak, meluapkan kemarahan yang selama ini ditahan. Musik mengiringi. Terlihat dramatis, seharusnya. Namun perhatian Erwin tiba-tiba terpecah.
Dari kursi beberapa baris di depannya, terdengar suara bisik-bisik yang awalnya pelan, lalu mulai meninggi.
“Udah aku bilang, jangan bahas ini di sini,” suara perempuan. Tertahan, tapi jelas kesal.
“Lah, kapan lagi mau coba dibahas?” balas laki-laki. "Kamu itu ngindar mulu, tauk!"
Erwin mengernyit sedikit.
Beberapa penonton mulai melirik.
“Ini bukan tempatnya,” kata si perempuan lagi.
“Terus kapan? Kamu tuh selalu gitu. Kalau ada masalah, diemin aku seenak jidatnya kamu. Main hilang gitu aja.”
Nada suaranya mulai meninggi. Tidak sampai teriak, tapi cukup mengganggu keheningan bioskop.
“Karena aku capek! Capek harus jelasin hal yang sama terus ke kamu! Paham kamu?”
Hening sejenak. Namun, film di layar tetap berjalan. Namun bagi Erwin, adegan nyata di depannya justru terasa lebih kuat.
“Jadi ini salah aku?” kata si laki-laki, nadanya berubah. Lebih tajam.
“Aku nggak bilang gitu.”
“Tapi kamu mikir gitu, kan?”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Justru di situ, ketegangan terasa semakin tebal.
Erwin menahan napas. Entah mengapa, ada sesuatu yang familier. Bukan karena ia pernah berada di situasi yang sama persis, melainkan karena pola itu terasa sangat manusiawi.
Saling menyerang. Saling bertahan. Saling merasa paling benar. Lalu tiba-tiba, ada seperti kilatan yang datang tanpa permisi.
Sekonyong-konyong ia teringat khotbah hari Minggu kemarin. Dari Yohanes 10.
“Lalu timbul lagi pertentangan…”
Ia menatap layar, tapi pikirannya sudah jauh.
Yesus hanya berkata satu hal sederhana. Bahwa Ia adalah gembala. Gembala yang baik, yang menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya.
Harusnya itu kabar baik. Harusnya itu menenangkan. Harusnya itu memberi harapan pula.
Akan tetapi, kenapa malah menimbulkan pertentangan? Kenapa orang-orang marah?Kenapa sampai ada yang berkata, “Ia kerasukan setan dan gila”?