Pagi itu pasar sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Erwin melangkah pelan di antara lorong-lorong sempit yang dipenuhi pedagang. Bau khas pasar langsung menyambutnya. Suatu bau yang merupakan campuran antara sayur segar, tanah basah, ikan, dan sedikit aroma minyak goreng dari jajanan yang sudah mulai dijual sejak subuh.
Tangannya memasukkan ponsel ke saku. Hari ini ia sengaja tidak ingin terlalu banyak terdistraksi. Ia ingin hadir. Benar-benar hadir.
“Pete, Bang?” teriak seorang ibu penjual dari sebelah kiri. "Segar-segar, Bang. Lagi murah."
Erwin tersenyum kecil, lalu mendekat. Tumpukan pete hijau segar tersusun rapi di atas meja kayu.
“Berapa, Bu?”
“Sepuluh ribu satu papan.”
Ia mengangguk. “Satu ya, Bu.”
Sambil menunggu dibungkus, matanya menyapu sekitar. Orang-orang lalu lalang. Ada yang menawar, ada yang tertawa, ada yang mengeluh tentang harga juga.
Suasana ini membuat Erwin hidup. Sangat hidup. Situasi yang sederhana, tapi penuh dinamika.
Setelah itu, ia berjalan ke arah penjual kue. Ia sudah mengincar satu hal sejak tadi. Ia ingin makan onde-onde sebagai sarapan pagi. Kue basah yang bulat, hangat, dengan taburan wijen di luar. Salah satu makanan tradisional yang selalu berhasil membuatnya merasa pulang. Teringat akan almarhumah Mami.
“Bang, onde-ondenya lima.”
“Baru diangkat nih, Mas. Masih panas.”
Erwin tersenyum, membalas, “Langsung deh, lagi lapar banget saya, Bang.”
Ia menerima bungkusan kecil itu, lalu menyingkir sedikit dari keramaian. Mencari sudut untuk berdiri santai sambil makan.
Ia baru saja menggigit onde-onde pertama. Kulitnya renyah, isi kacang hijau yang manis langsung memenuhi mulutnya, ketika suara keras tiba-tiba memecah suasana.
“Lu tuh selalu kayak gini!”
Erwin menoleh refleks.
Dua orang pria, mungkin pedagang juga, berdiri saling berhadapan. Wajah mereka tegang.
“Gue kayak gimana, maksud lo?” balas yang satu, tidak kalah keras.
“Main ambil pelanggan orang!”
“Eh, gue nggak pernah maksa! Mereka yang dateng sendiri ke gue!”
“Bokis aja lo!”