Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #5

Pertengkaran di Konter Pulsa

Pagi itu langkah Erwin terasa lebih ringan. Jogging-nya tidak seberat beberapa hari lalu. Napasnya lebih teratur, tubuhnya mulai terbiasa. Ia berlari menyusuri jalan yang sama, melewati pepohonan yang masih basah oleh sisa embun.

Akan tetapi, seperti hari-hari sebelumnya, jogging, baginya, itu bukan sekadar olahraga. Itu seperti ruang berjalan. Ruang untuk berpikir. Ruang untuk mencerna apa yang ia baca juga. Apalagi, pagi ini, yang ia baca bukan sesuatu yang ringan.

Dari Kejadian 34. Yentang Dina dan kekerasan seksual. Pun, tentang diamnya Yakub, dan kemarahan Simeon dan Lewi.

"Ada yang jauh lebih mengganggu—" Erwin berhenti sejenak, sekadar untuk mengatur napas. "— keluarga yang kehilangan pusat moralnya."

Erwin memperlambat langkahnya. Keringat mulai menetes dari pelipisnya. Ayat itu masih terngiang dalam kepalanya.

“Yakub… diam.”

Ia mengernyitkan dahi. Ia mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Yakub

Kenapa diam? Kenapa seorang ayah bisa diam ketika anaknya diperlakukan seperti itu?

Itu bukan sekadar kelalaian. Itu kegagalan sebagai seorang ayah. Bukan hanya itu. Karena ketika Simeon dan Lewi membalas dengan kekerasan, pun Yakub tidak mengecam karena itu salah. Justru ia mengecam karena…

“Karena pelakunya mencemarkan namaku.” Erwin menghela napas panjang.

Ada nama, reputasi, dan citra. Apakah itu yang lebih penting?

Ia berhenti di pinggir jalan. Menundukkan kepala. Sebelah tangan di lutut. Ada sesuatu dalam cerita itu yang terasa sangat dekat. Vukan karena ia pernah mengalami hal yang sama. Namun karena polanya. Masih ada sampai hari ini.

Ia melanjutkan jalan, kali ini tidak berlari. Lebih santai saja.

Di depan, ada konter kecil. Konter yang merupakan tempat langganannya beli pulsa dan kuota. Ia teringat kuotanya hampir habis.

“Sekalian aja,” gumamnya.

Ia masuk ke konter itu. Tempatnya sempit, hanya cukup untuk dua atau tiga orang berdiri. Di dalam ada seorang penjaga, yang seorang anak muda, mungkin awal dua puluhan usianya.

“Bang, isi kuota 20 giga,” kata Erwin.

“Siap, Mas.”

Erwin menunggu.

Di sampingnya, ada seorang perempuan. Wajahnya tegang. Di tangannya, ponsel yang terus ia genggam erat.

Di depannya, berdiri seorang pria. Nada suaranya tinggi.

Lihat selengkapnya