Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #6

Drama Kehidupan dalam Gereja

Langit sore itu mulai meredup ketika Erwin melangkah masuk ke halaman gereja. Suasana berbeda dari biasanya. Tidak ada tawa lepas, tidak ada obrolan santai yang panjang. Jumat Agung selalu membawa nuansa yang lebih sunyi, dalam, dan jujur. Untuk Erwin Bimantara, tepatnya.

Lalu Erwin berjalan pelan menuju aula ibadah utama. Di tangannya ada Alkitab kecil yang sudah mulai usang di bagian pinggirnya. Langkahnya mantap, tapi hatinya masih membawa banyak hal dari beberapa hari terakhir.

Tentang terang, kekudusan, pertengkaran antara sesama ciptaan Tuhan, keadilan adikodrati, hingga tentang dosa yang begitu licin.

Hari ini, ia datang dengan satu kerinduan sederhana. Hanya mau diam di hadapan salib. Namun langkahnya terhenti bahkan sebelum ia masuk ke dalam aula. Karena, di dekat pintu masuk, ada keributan kecil. Tidak besar. Tidak sampai teriak-teriak seperti di pasar. Namun itu sudah cukup untuk membuat orang-orang melirik.

Seorang pria—berpakaian rapi, tampaknya salah satu pelayan gereja—sedang berbicara dengan nada tinggi kepada seorang perempuan yang terlihat lebih muda.

“Kamu itu harusnya koordinasi dulu, lah!” katanya, suaranya ditekan tapi jelas emosi.

Perempuan itu terlihat gugup saat membalas, “S-saya sudah coba hubungi, Pak…”

“Kok bisa mikirnya coba-coba? Ini bukan soal coba-coba, Culi! Ini ibadah Jumat Agung, Ci, bukannya acara rohani biasa!”

Beberapa orang di sekitar mulai mempercepat langkah, pura-pura tidak melihat. Beberapa lainnya melirik sekilas, lalu berbisik.

Erwin hanya berdiri diam. Ada sesuatu yang terasa ironis. Di dalam, orang-orang akan memperingati kematian Kristus. Di luar, tepat di pintu masuk…

Masih ada drama, ketegangan, hingga luka yang saling ditorehkan, walau dalam bentuk yang lebih samar-samar. Tanpa sadar, Erwin berbisik pelan, hampir seperti refleks:

“Kalau kita niatnya mencari Tuhan dalam gereja… jangan lihat majelis, pengerja, gembala Tuhan, atau jemaatnya. Mereka bisa saja brengsek. Fokus sajalah ke salib Kristus.”

Ia terdiam setelah mengucapkannya. Kalimat itu terasa keras, tapi sangat jujur, malah.

Perempuan itu akhirnya hanya mengangguk, menahan sesuatu di matanya. Ia pergi pelan. Sementara pria itu masih berdiri, menarik napas panjang, lalu merapikan bajunya. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Lihat selengkapnya