Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #7

Keributan kala Acara Paskah

Halaman gereja pagi itu jauh lebih ramai dari Jumat Agung beberapa hari lalu. Spanduk bertuliskan “Bazar Paskah – Untuk Pembangunan Gereja” terbentang di depan gerbang. Meja-meja berjejer, penuh dengan makanan, minuman, pakaian, hingga barang-barang kecil yang dijual jemaat.

Suasananya sangat hidup. Lebih terang, riuh, dan meriah. Benar-benar mencerminkan makna Paskah yang sebenarnya. Tentang bagaimana Yesus bangkit dari orang mati.

Erwin melangkah pelan, masih dengan sepatu jogging-nya. Keringat belum sepenuhnya kering di lehernya. Ia memang sengaja datang sedikit lebih awal, sekalian setelah jogging.

Di tangannya ada botol air mineral. Matanya menyapu sekitar. Orang-orang tersenyum, menyapa, menawarkan dagangan.

“Mas, cobain ini, deh. Brownies-nya enak banget.”

“Bang, beli kopi susu, sekalian bantu pembangunan gereja.”

Ia tersenyum kecil, mengangguk sopan. Namun di balik semua itu, entah kenapa, ia merasakan sesuatu yang familier. Sesuatu yang tidak sepenuhnya bersih. Bukan dalam arti salah. Yang ia rasakan sangat bercampur.

Ini seperti hari-hari sebelumnya. Seperti biasa, pikirannya langsung kembali ke saat teduh subuh tadi. Ke Imamat 6.

Tuhan berfirman kepada Musa…”

Erwin menarik napas dalam.

Segalanya dimulai dari Allah. Bukan dari manusia apalagi usaha dan inisiatif manusia. Allah yang kali pertama bergerak untuk semata-mata menyediakan jalan. Allah juga yang membawa damai hakiki.

Erwin lalu melangkah mendekat ke salah satu meja bazar. Seorang ibu dengan ramah menawarkan kue.

“Mas, beli ya. Ini buat pembangunan gereja kita.”

Erwin mengangguk, mengambil satu, bertanya, “Berapa, Bu?”

“Seikhlasnya aja, Mas.”

Ia mengeluarkan uang, lalu berjalan lagi. Di situlah, ia melihat sesuatu. Tidak jauh dari pintu masuk aula. Dua orang pria, tampaknya panitia, sedang berbicara dengan nada yang mulai meninggi.

“Harusnya stand ini di depan, bukan di sini!” kata yang satu.

“Lah, dari awal juga sudah disepakati di sini!” balas yang lain.

“Siapa yang sepakat? Saya nggak pernah tanda tangani apa pun! Jangan ngarang-ngarang kamu!”

“Sudahlah, jangan diungkit di sini! Lagi ada acara kebangkitan Yesus! Nggak enak dilihat sama anak-anak!”

Lihat selengkapnya