Pagi itu Erwin tidak langsung pulang setelah ibadah Paskah. Ada satu hal kecil yang tertunda. Mengambil pakaiannya di binatu.
Ia berjalan santai menyusuri jalan kompleks, matahari mulai naik, tidak terlalu terik, tapi cukup hangat. Suasana kota pelan-pelan kembali ke ritmenya. Tidak lagi sehening Jumat Agung, tidak lagi semeriah pagi Paskah di gereja.
Biasa saja. Seperti hidup pada umumnya.
Di depannya, papan kecil bertuliskan “Star Laundry” terlihat. Tempat langganannya. Tidak mewah. Hanya ruko sederhana dengan kaca depan yang sedikit buram karena uap setrika.
Erwin mendorong pintu.
“Mas, mau ambil laundry?” sapa mbak penjaga, tanpa melihat dulu.
“Iya, Mbak. Atas nama Erwin.”
Ia berdiri menunggu, sambil memperhatikan sekitar. Mesin cuci berdengung pelan. Tumpukan pakaian rapi di rak. Bau pewangi pakaian memenuhi ruangan.
Sungguh binatu yang bersih, rapi, dan terkontrol. Nerbanding terbalik dengan isi pikirannya akhir-akhir ini. Namun belum sempat ia tenggelam lebih dalam, suara dari pojok ruangan menarik perhatiannya.
Seorang ibu, mungkin pelanggan juga, sedang berbicara dengan nada setengah mengeluh kepada temannya.
“Ya gimana lagi… mungkin ini sudah takdir aku...” keluh si ibu.
Erwin sedikit menoleh.
Ibu itu melanjutkan, kali ini lebih pelan, tapi cukup terdengar: “Mungkin Tuhan punya rencana sendiri kenapa harus begini jalannya. Jangan dilawan. Ikuti saja. Seperti mengikuti aliran sungai yang mengalir.”
Temannya mengangguk pelan.
Seolah itu jawaban yang bijak. Seolah itu semacam penerimaan.
Erwin diam. Kalimat itu terdengar familier. Bahkan terlalu familier. Seperti sesuatu yang sering diucapkan orang-orang. Termasuk dirinya, di waktu-waktu tertentu.
Entah kenapa, pagi ini, kalimat itu terasa berbeda. Tidak lagi menenangkan, tapi sedikit mengganggu.
Ia menunduk sedikit. Seperti biasa, pikirannya langsung tersambung ke renungan subuh tadi.
Tentang hati, pusat hidup, hingga tentang bagaimana Allah tidak mencari sekadar persembahan fisik, melainkan hati yang sepenuhnya milik-Nya.