Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #9

Pertengkaran antara Pak Ogah dan Pengamen

Pintu minimarket itu terbuka otomatis ketika Erwin melangkah masuk. Udara dingin langsung menyambut, kontras dengan panas siang yang mulai menyengat di luar. Aroma khas yang campuran plastik baru, sabun, dan pendingin ruangan, langsung terasa familier.

Ia mengambil keranjang. Hari ini sederhana saja untuk belanja pagi. Hanya mau membeli detergen, sabun cuci piring, dan sampo. Hal-hal kecil yang sering terlupakan. Hal-hal yang bisa jadi merupakan rutinitas ibu-ibu komplek. Hal-hal yang sering tidak dipikirkan oleh bapak-bapak komplek.

Erwin berjalan menyusuri rak. Tangannya otomatis mengambil detergen yang biasa ia pakai. Lalu sabun cuci piring, dan sampo. Semuanya dilakukan secara cepat dan efisien. Seperti hidup yang sering ia jalani tanpa banyak refleksi.

Namun belum sempat ia menuju kasir, suara gitar kecil terdengar dari depan pintu. Seorang pengamen masuk. Suaranya tidak terlalu merdu, tapi cukup keras untuk menarik perhatian.

“Hosanna… Hosanna…”

Erwin terdiam sejenak.

Lagu itu. Lagu yang sama yang ia dengar di gereja. Tentang Yesus masuk ke Yerusalem. Yang disambut dengan sorak-sorai. Seperti merayakan sebuah kemenangan. Yang mana Yesus dielu-elukan dengan ranting palem.

Namun di sini, pengamen itu menyanyikannya dengan suara serak. Dengan gitar yang nadanya sedikit fals. Pun, dengan mata yang sesekali melirik orang-orang yang mungkin memberi uang.

Sangat kontras. Padahal di gereja, itu dibawakan dengan megah. Di sini, dinyanyikan secara sederhana. Bahkan nyaris menyedihkan.

Pengamen itu berhenti di dekat kasir. Beberapa orang pura-pura tidak mendengar. Beberapa orang lainnya hanya melirik. Kasir tetap sibuk memindai barang. Seolah lagu itu tidak pernah diperdengarkan oleh pengamen tersebut.

Di situlah, seorang pria di luar kaca terlihat melambaikan tangan. Orang itu sepertinya berprofesi sebagai pak ogah. Ia membantu mengatur kendaraan di depan minimarket. Sesekali ia masuk, lalu keluar lagi. Untuk kali ini ia masuk, langsung mendekati pengamen.

“Bang, jangan di dalam. Di luar aja.”

Pengamen itu berhenti dan menatap, “Bang, ini saya lagi cari makan juga. Sama seperti Abang.”

“Ya, tapi jangan di dalam sini. Ganggu, dah. Seriusan, ganggu bener.”

Nada suaranya si pak ogah mulai meninggi. Erwin berdiri di lorong sampo, saat memperhatikan obrolan mereka berdua. Hanya diam dan mengamati. Lagi, dan seperti biasa.

Kejadiannya kecil, tapi terasa besar.

Pengamen itu menghela napas, berkata, “Semua orang juga cari makan, Bang.”

Pak ogah menggeleng. “Ya, tapi ada tempatnya.”

Lihat selengkapnya