Konter kecil itu masih sama seperti dulu. Masih ada lampu neon yang agak redup. Etalase kaca berisi kartu perdana berbagai operator. Lalu ada tulisan spidol di kertas karton: “Pulsa – Paket Data – Transfer – Bayar Listrik.”
Di atasnya, papan kecil bertuliskan: Bumi Ayu Cell.
Erwin berdiri di depan, masih menunggu. Menunggu untuk dilayani.
“Isi paket, Bang?” tanya penjaga konter, seorang pria sekitar empat puluhan dengan kaos oblong dan sandal jepit.
“Iya, yang biasa aja. Yang bulanan. Satu giga aja.”
Pria itu mengangguk, tangannya lincah mengetik di ponsel. Sementara di belakang Erwin, antrean mulai terbentuk. Seorang ojek daring. Seorang ibu-ibu. Lalu ada seorang remaja yang terus menatap layar ponselnya tanpa henti.
Semuanya sibuk. Semuanya kelihatan membutuhkan koneksi. Ironisnya, manusia memang membutuhkan sinyal. Namun sering kehilangan koneksi yang paling penting.
Erwin tersenyum tipis. Lalu ia dikagetkan oleh suara kencang yang datang mendadak.
“Bang, cepat dong! Saya buru-buru nih!”
Suara dari belakang. Dari seorang remaja. Nada suaranya tidak sabar. Meskipun demikian, ternyata penjaga konter tidak menoleh.
“Sebentar, ya. Ini lagi proses.”
“Ya, tapi dari tadi lama banget sih!”
Nada suara si remaja mulai meninggi.
Erwin melirik ke belakang.
Remaja itu terlihat gelisah. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai. Jarinya terus menggulir layar.
Tiba-tiba, penjaga konter berhenti. Menatapnya. Diam sejenak. Lalu berkata pelan, tapi tegas: “Kalau mau cepat, jangan isi di sini, Dik.”
Hening. Udara mendadak terasa berat. Remaja itu sekonyong-konyong terdiam. Tidak menyangka ia dibalas seperti itu.