Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #12

Pelajaran Hidup di Warung Kue Basah

Pagi itu udara masih lembap, sisa embun belum sepenuhnya menguap dari aspal yang dilalui sepeda gunung milik Erwin. Ia mengayuh pelan, bukan karena lelah, tapi karena ia memang sedang menikmati ritme pagi yang jarang ia rasakan di hari-hari kerja.

Di kejauhan, seorang ibu penjual kue basah sudah membuka lapaknya. Meja kecil dengan tampah berisi jajanan tradisional tertata sederhana. Erwin langsung mengenali satu hal yang selalu menarik perhatiannya. Sudah pasti itu adalah knde-onde.

Ia berhenti. Untuk membeli onde-onde tersebut.

“Berapa, Bu?”

“Sepuluh ribu dapat empat, Mas.”

Erwin tersenyum kecil dan berkata, “Ya sudah, saya ambil satu bungkus.”

Saat ia menerima plastik kecil berisi empat bulatan hangat itu, tiba-tiba pikirannya terlempar ke sesuatu yang ia baca subuh tadi. Yang ia ingat itu tentang belenggu-belenggu yang mengikat hidup. Apa yang ia baca tadi itu seperti muncul begitu saja, tanpa aba-aba.

Ia menggigit onde-onde pertama. Masih hangat. Kacang hijaunya lembut sekali. Manisnya pas. Namun belum sempat ia menikmati sepenuhnya, suara dari sampingnya mulai menarik perhatian.

“Lah, Bu, saya kan langganan. Masa dikasihnya kecil-kecil begini?”

Suara itu berasal dari seorang pria, mungkin sekitar umur tiga puluhan. Pria itu berdiri dengan nada suara sedikit meninggi. Karena itu, si ibu penjual terlihat canggung.

“Loh, Pak, ini sama semua kok. Dari tadi juga begitu.”

“Tapi kemarin lebih besar!”

Nada suara pria itu makin keras. Beberapa orang yang lewat mulai melirik.

Erwin mengunyah pelan. Ia tidak langsung bereaksi. Namun di dalam dirinya, sesuatu seperti... ah, seperti biasa. Lagi dan lagi. Mungkin memang seperti ini takdir dirinya.

Erwin coba mengingat apa yang ia baca tadi. Tentang belenggu pertama, yang begitu ingin didengar.

Pria itu bukan sekadar protes tentang ukuran onde-onde. Ia mungkin lebih ingin didengar dan diakui. Ingin dianggap penting sebagai langganan si ibu-ibu tadi. Yang lebih menarik, reaksinya berlebihan untuk sesuatu yang sebenarnya sederhana.

Erwin menarik napas. Bukankah itu sering terjadi juga dalam dirinya?

Lihat selengkapnya