Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #13

Di Victor Rental and Studio

Mesin fotokopi itu berdengung pelan. Suaranya khas, yang cukup ritmis, sedikit monoton, tapi justru menenangkan bagi sebagian orang. Bagi Erwin, suara itu seperti latar yang pas untuk berpikir.

Ia berdiri di sudut ruangan Victor Rental and Studio, memegang beberapa lembar dokumen yang harus ia gandakan. Tempat itu tidak besar. Ada satu mesin fotokopi utama, dua komputer tua, dan rak berisi alat tulis yang sedikit berdebu.

“Mas, tunggu sebentar, ini masih antre,” kata penjaga toko, seorang pria muda dengan kaus lusuh tapi wajah yang cukup ramah.

“Iya, santai aja,” jawab Erwin.

Ia duduk di kursi plastik. Di sebelahnya, ada seorang ibu yang tampak gelisah. Tangannya memegang map merah, kakinya bergerak-gerak kecil seperti orang yang tidak sabar.

“Mas, ini lama banget, sih...” katanya tiba-tiba.

“Ya… antre, lah, Bu,” jawab si penjaga, sedikit kikuk.

“Tapi saya buru-buru!”

Erwin melirik sekilas.

Situasinya sederhana. Hanya antrean biasa. Namun, lagi-lagi ada sesuatu. Ia teringat bacaan subuh tadi.

“Tak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya…”

Ayat itu tiba-tiba terasa sangat kontras dengan suasana di depannya.

Ibu itu jelas tidak sedang menikmati proses. Ia sedang terjebak dalam sesuatu yang lain. Ibu ini terlihat sedang tergesa-gesa dan sedikit tertekan. Mungkin saja ibu ini merasa kurang.

Erwin menarik napas pelan. Bukankah itu juga wajah dari banyak orang hari ini?

Semua orang memiliki sesuatu. Namun sedikit yang benar-benar menikmati.

Mesin fotokopi itu kembali berbunyi. Kertas keluar satu per satu. Sementara itu, seorang anak muda masuk ke dalam toko. Ia langsung menuju rak alat tulis, mengambil pulpen, lalu ke kasir.

“Berapa, Bang?”

“Tiga ribu.”

Anak itu mengeluarkan uang, lalu tanpa banyak bicara langsung pergi. Sungguh cepat, efisien, dan tidak ada interaksi berarti.

Erwin memperhatikan situasinya. Masih memperhatikan. Bahwa ternyata semua orang datang dengan tujuan. Ternyata semua orang ingin menyelesaikan urusannya. Namun siapa yang benar-benar hadir di dalam proses itu sendiri?

Lihat selengkapnya