Pintu otomatis minimarket itu terbuka pelan ketika Erwin melangkah masuk. Pendingin ruangan langsung menyambut wajahnya yang masih sedikit berkeringat setelah berjalan kaki dari rumah. Rak-rak tertata rapi, lampu terang, dan aroma khas campuran sabun, makanan instan, dan kopi saset memenuhi udara.
Erwin mengambil keranjang kecil. Isinya sederhana saja. Hanya kebutuhan rumah tangga seperti detergen, sabun cuci piring, dan sampo. Kebutuhan rumah tangga biasa. Saking biasanya, sampai terlupakan.
Ia sempat tersenyum kecil.
“Aneh ya,” gumamnya dalam hati, “justru di hal-hal biasa kayak gini… Tuhan kayak lagi ngomong terus.”
Belum sampai dua langkah dari rak sampo, suara agak keras terdengar dari arah kasir.
“Lah, saya kan udah bilang tadi, kembalian saya kurang!” suara seorang ibu terdengar tinggi.
Kasir muda di balik meja terlihat tegang. “Maaf, Bu, tadi sudah saya hitung—”
“Jangan maaf-maaf terus! Ini bukan soal maaf, ini soal kejujuran!”
Erwin berhenti. Ia tidak mendekat, tapi cukup untuk melihat.
Di belakang ibu itu, seorang bapak yang tampaknya baru selesai belanja ikut menimpali, “Ya kalau kurang, ya dikasih, Mbak. Masa segitu aja ribut?”
Kasir itu makin panik. Tangannya gemetar membuka laci uang. Di sisi lain, seorang pengamen yang dari tadi duduk di dekat pintu ikut berdiri, memperhatikan dengan wajah penasaran.
Situasinya sebenarnya sepele saja. Namun keributannya mulai panas.
Erwin menghela napas pelan. Lagi-lagi kejadian seperti ini. Seperti refleks, pikirannya langsung melompat ke apa yang ia baca subuh tadi.
“Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ‘Enyahlah Iblis… engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.’”
Erwin tersenyum tipis, tapi kali ini ada getir di dalamnya.
Kadang iblis itu tidak selalu datang dalam bentuk yang jelas. Tidak selalu berupa kejahatan besar. Kadang ia datang dalam bentuk niat baik yang salah arah.
Seperti Petrus, misalnya. Ia tidak membenci Yesus. Ia justru mengasihi Yesus. Ia ingin melindungi-Nya dari penderitaan. Namun justru di situ letak masalahnya. Karena ia ingin Yesus tanpa salib.
Erwin melipat tangan di depan dada, bersandar sedikit pada rak.
“Lucu ya…” bisiknya pelan, “kita juga suka kayak Petrus gitu juga.”