Warnet itu masih berdiri, seperti kapsul waktu yang lupa diperbarui. Di antara deretan ruko di BSD yang sudah banyak berubah menjadi kafe estetik dan coworking space modern, MaxTreel-Net tampak seperti peninggalan era lama. Papan namanya sudah agak pudar. Di dalam, suara kipas CPU berdengung, bercampur dengan klik-klik mouse dan ketukan papan tik yang tak pernah benar-benar berhenti.
Erwin mendorong pintu kaca.
“Masih ada ya tempat kayak gini…” gumamnya pelan.
Ia melangkah masuk. Aroma khas warnet langsung menyergap. Campuran antara debu, pendingin ruangan, dan kopi saset. Di sudut ruangan, beberapa anak muda fokus menatap layar. Ada yang main permainan daring, ada yang menggulir media sosial, ada juga yang tampak serius mengetik.
Erwin mengambil satu bilik kosong. Ia duduk. Menatap layar monitor yang menyala pelan. Namun sebenarnya pikirannya tidak di sana. Masih di FYP Tiktok pagi tadi.
“Meskipun kita ga punya dapur MBG, ga punya kebun sawit, ga punya tambang nikel, dan ga punya kuasa atas Selat Hormuz… hidup harus tetap bersyukur.”
Erwin terkekeh kecil. “Lucu… tapi benar juga.”
Tangannya belum menyentuh papan tik. Matanya malah mengamati sekitar. Di bilik sebelah, dua orang pemuda sedang berbicara agak keras.
“Gue bilang juga apa, bro! Kalo crypto naik lagi, kita gas all in!” kata yang satu, penuh semangat.
“Ya tapi kemarin lu juga bilang gitu… terus nyungsep,” jawab temannya, sedikit sinis.
“Ya itu kan timing-nya aja udah salah! Sekarang beda!”
Nada suara mereka makin naik.
Di ujung ruangan, seorang pria paruh baya sedang membuka beberapa tab sekaligus. Ada grafik saham, berita ekonomi, dan satu lagi tampaknya sedang melakukan pinjaman daring. Wajahnya tegang.
Sementara di dekat kasir, seorang anak SMA terlihat gelisah. Ia membuka dompet, menghitung uangnya, lalu melihat ke arah penjaga.
“Mas… bisa nambah waktu dulu? Nanti saya bayar,” katanya pelan.
Penjaga warnet itu mengangguk, tapi raut wajahnya menunjukkan keraguan.
Erwin menyandarkan punggungnya. Lagi-lagi kejadian itu muncul. Bukan kejadian besar. Bukan dramatis. Namun pola yang sama. Masih tentang hati manusia.
Ia menutup mata sebentar.
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang…”
Ayat itu seperti berputar di kepalanya. Bukan uangnya, melainkan cintanya.
Erwin membuka mata. Tampak dua pemuda di sebelahnya sekarang hampir berdebat.