Pagi itu, setelah bersepeda cukup jauh menyusuri jalanan yang mulai ramai, Erwin berhenti di sebuah warung jus sederhana bernama Nur Juice. Tempatnya tidak besar. Itu hanya gerobak dengan tambahan beberapa kursi plastik dan meja kecil yang sudah mulai pudar warnanya. Yang entah kenapa, tempat seperti ini selalu punya daya tarik tersendiri. Mungkin karena kejujurannya. Tidak dibuat-buat. Tidak mencoba terlihat lebih dari yang sebenarnya.
Erwin memesan jus melon favoritnya.
“Tanpa gula ya, Bang,” kata Erwin singkat.
Penjualnya mengangguk sambil mulai memotong buah melon dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Pisau itu bergerak cepat, tapi rapi. Tidak ada bagian yang terbuang sia-sia. Semuanya dimanfaatkan.
Erwin duduk, menarik napas panjang.
“Yah, kalau begini pada akhirnya,” desis Erwin pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri, “aku ikhlas, Tuhan. Pakailah aku menjadi alat Engkau.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak direncanakan, tapi terasa jujur.
Belum sempat ia tenggelam lebih dalam dalam pikirannya, suara agak keras terdengar dari samping gerobak.
“Eh, jangan sembarangan ngomong ya!”
“Lah, saya cuma bilang jujur! Emang salah?”
Dua orang terlihat mulai berdebat. Awalnya kecil, tapi cepat memanas. Salah satu pelanggan itu mungkin kenalan si penjual.
“Lu itu kalau ngomong jangan bawa-bawa nama Tuhan seenaknya!”
“Kenapa? Kan gue cuma bilang ‘demi Tuhan’ doang!”
Erwin langsung menoleh.
Ada sesuatu yang terasa.. familier. Bukan tentang ributnya, tapi isi pembicaraannya. Mendadak ia teringat bacaan subuh tadi. Tentang seseorang dalam perkemahan Israel yang hidup di tengah umat Tuhan, tapi justru menghujat nama Tuhan.
Sekarang, di depan matanya, dalam konteks yang jauh lebih sederhana, ia melihat pola yang sama. Bahwa nama Tuhan disebut, tapi tanpa rasa hormat.
“Ah, cuma kata-kata doang, kali…” kata si pelanggan itu lagi, sambil mengangkat bahu.
Penjual jus sempat menghentikan aktivitasnya. Wajahnya terlihat tidak nyaman.