Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #17

Saat Erwin Sakit Radang Tenggorokan

Pagi itu tenggorokan Erwin terasa seperti digesek amplas. Terasa kering, perih, dan setiap kali ia menelan ludah, ada rasa nyeri yang menusuk sampai ke telinga. Ia sudah mencoba minum air hangat, bahkan menahan diri untuk tidak banyak bicara. Namun tetap saja, belum membaik.

Akhirnya, dengan langkah sedikit malas, ia berjalan ke sebuah apotek kecil di pinggir jalan. Lampu neon di dalamnya terang, kontras dengan langit pagi yang masih agak pucat. Rak-rak berisi obat tersusun rapi. Bau khas yang merupakan campuran alkohol, plastik, dan sesuatu yang steril, langsung menyambutnya.

“Selamat pagi, Kak, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang apoteker perempuan di balik meja.

Erwin mengangguk pelan, suaranya serak. “Radang tenggorokan, Mbak… udah dua hari.”

Perempuan itu memperhatikan sebentar, lalu bertanya beberapa hal singkat. Setelah itu, ia mulai mengambil beberapa obat dari rak.

“Ini nanti diminum ya, Kak,” katanya sambil menaruh tiga kotak kecil di atas meja.

“Doxycycline, ini antibiotik. Lalu Lanadexon untuk anti-inflamasi. Sama Alleron buat bantu alerginya kalau ada.”

Erwin mengangguk lagi. Namun matanya tertahan pada satu hal sederhana. Perhatiannya tertuju ke cara minumnya.

“Yang ini diminum sampai habis ya, Kak. Walaupun nanti sudah merasa baikan,” lanjut si apoteker sambil menunjuk Doxycycline.

“Kalau antibiotik nggak dihabisin, nanti bisa kebal.”

Erwin mengernyitkan dahi sedikit, dan bertanya, “Kebal?”

“Iya. Bakterinya bisa jadi lebih kuat. Jadi nanti kalau sakit lagi, obatnya nggak mempan.”

Kata-kata si apoteker itu sederhana. Namun entah kenapa, langsung menusuk ke dalam pikirannya.

Ia terdiam sejenak. Ada sesuatu yang seperti tersambung.

Setelah itu, ia membayar obatnya, lalu duduk sebentar di kursi kecil yang tersedia di pojok apotek. Menunggu rasa pusingnya reda. Lalu, tangannya memegang kotak Doxycycline itu.

Lihat selengkapnya