Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #18

Dilarang Makan Donat sampai...

Gerai donat itu tidak terlalu ramai pagi itu. Lampu-lampu hangat memantul di kaca etalase, memamerkan deretan donat berlapis cokelat, gula halus, dan topping warna-warni yang seolah berteriak: "Pilih aku". Erwin duduk di pojok, memegang secangkir kopi hangat, sementara satu donat cokelat masih utuh di piringnya.

Ia belum menggigitnya. Bukan karena tidak lapar. Namun karena pikirannya lagi-lagi ditarik ke sesuatu yang lebih dalam.

Erwin menghela napas pelan.

“Ini lagi… ini lagi…” gumamnya lirih.

Sejak beberapa hari terakhir, hidupnya seperti dipenuhi pola yang aneh. Binatu, minimarket, konter pulsa, apotek, bahkan warung jus. Ah, semuanya seperti berbicara kepadanya. Bukan suara literal, tapi kejadian-kejadian kecil yang terasa seperti gema dari apa yang ia baca saat teduh.

Pagi ini, di gerai donat ini, ia tahu bahwa sesuatu akan terjadi lagi.

Di meja sebelah, seorang ibu muda duduk bersama anaknya yang mungkin masih SD. Si anak memandangi donat dengan mata berbinar.

“Ma, aku mau yang ini…” katanya menunjuk donat dengan topping marshmallow.

Ibunya tersenyum, tapi menggeleng dan membalas, “Kamu kan lagi batuk. Kata dokter, jangan dulu makan yang manis-manis.”

Wajah anak itu langsung berubah.

“Tapi aku mau…” rengeknya.

Ibunya tetap tenang saat menjawab, “Kalau kamu mau sembuh, kamu harus nurut. Nanti kalau sudah sehat, Mama beliin lagi, ya.”

Si anak terdiam. Wajahnya masih cemberut, tapi ia akhirnya mengangguk pelan.

Erwin memperhatikan itu. Entah kenapa, kata-kata itu menusuk.

"Kalau mau sembuh, harus nurut."

Ia menunduk. Tangannya perlahan menyentuh donat di depannya.

Imamat 26. Nats yang ia baca pagi itu kembali terngiang. Tentang berkat dan kutuk. Tentang hujan yang turun pada waktunya. Tentang tanah yang memberi hasil. Pun, tentang penyakit, kekeringan, dan kehancuran.

Erwin dulu sering mendengar orang membahas ini dengan nada menakutkan. Seolah Tuhan itu seperti sistem hukuman, yang salah sedikit, langsung dihajar.

Namun hari ini, entah kenapa, ia melihatnya berbeda. Yang bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai konsekuensi.

Tiba-tiba, dari arah kasir, terdengar suara agak keras, “Loh, tadi saya pesannya dua lusin, bukan satu lusin!”

Lihat selengkapnya