Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #19

Perbaiki Aku di Bengkel Ini, Tuhan!

Bengkel itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai. Bau oli, suara kunci pas beradu dengan baut, dan deru mesin yang sesekali dinyalakan menciptakan suasana yang khas. Yang kasar, berisik, tapi entah kenapa, membuat batin Erwin merasa manusiawi dan serasa menapak di bumi.

Erwin duduk di kursi plastik dekat meja kasir. Mobilnya sedang diangkat di atas dongkrak hidrolik. Seorang montir di bawahnya tampak sibuk memeriksa bagian mesin yang entah apa namanya. Erwin tidak terlalu paham.

Ia hanya tahu satu ha bahwa mobilnya bermasalah.

Seperti biasa, di tempat seperti ini pun, pikirannya tidak pernah benar-benar kosong.

“Pak, ini kayaknya bukan cuma oli, ya…” suara montir terdengar dari bawah mobil.

“Kenapa, Mas?” tanya pemilik bengkel.

“Ini ada bagian yang aus. Kalau cuma ganti oli, nanti rusak lagi.”

Erwin mendengar itu. Bagi dia, kata-kata itu sederhana. Namun langsung seperti, mengunci sesuatu di dalam pikirannya. Bukan hanya di permukaan. Seperti ada yang lebih dalam. Yang membuat ia sekonyong-konyong menunduk. Tangannya saling menggenggam.

Tiba-tiba ia teringat webinar rohani yang ia ikuti beberapa waktu lalu. Teringat akan Yohanes 3:16. Ayat yang terlalu sering didengar. Terlalu sering dihafal oleh murid sekolah minggu setiap perayaan Natal. Namun jarang benar-benar dipikirkan.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini…"

Erwin menarik napas pelan.

“Begitu besar…” gumamnya.

Selama ini, ia selalu mengira ia paham arti kalimat itu. Namun duduk di bengkel, melihat mobilnya yang rusak bukan karena luar, tapi karena bagian dalam yang aus, ia mulai melihat sesuatu yang lain.

Kasih Allah itu bukan sekadar perasaan baik. Bukan sekadar Tuhan menyayangi kita. Ah, seperti ada sesuatu yang masuk sampai ke bagian terdalam. Ke bagian yang rusak. Ke bagian yang bahkan kita sendiri sering tidak sadar.

“Pak, ini harus diganti, ya. Kalau nggak, nanti bisa lebih parah.” seru montir yang masuk dalam keadaan memeriksa.

Erwin mengangkat kepala. “Kalau diganti… langsung beres, Mas?”

Montir itu menggeleng. “Ya… nggak juga sih, Pak. Tapi ini langkah awal. Kalau yang ini dibiarkan, nanti ngerusak yang lain.”

Erwin terdiam.

Kata-kata itu terasa seperti bukan lagi tentang mobil. Ia teringat bagian lain dari webinar itu. Tentang manusia yang berdosa. Tentang hati yang rusak. Tentang kehidupan yang terlihat baik-baik saja di luar, tapi perlahan hancur dari dalam. Pun, tentang kasih Allah yang tidak menunggu kita jadi baik dulu.

Sekonyong-konyong Erwin pun teringat dengan Roma 5:8. Bahwa Kristus mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Erwin tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya