Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #20

Berserah kepada Tuhan di Coffeeshop

Erwin duduk di sudut coffeeshop LUAR TERAS, tempat yang tidak terlalu besar tapi punya suasana hangat. Dindingnya dihiasi lampu kuning temaram, dan aroma kopi yang baru digiling terasa seperti pelukan yang diam-diam menenangkan. Di depannya, segelas kopi susu dingin mulai berembun. Ia belum menyentuhnya.

Tangannya sibuk membuka buku renungan yang sudah agak lusuh di bagian pinggir. Di sampingnya, Alkitab kecil berwarna cokelat tua, yang entah sudah berapa tahun menemaninya.

Ia sedang menunggu Irma, rekan bisnisnya di perusahaan dengan sistem MLM bernama Hor Zhuang. Dunia yang penuh dengan janji pertumbuhan, jaringan, dan ambisi.

Erwin menarik napas panjang.

“Kenapa ya, Tuhan… di mana-mana selalu kejadian kayak gini?” gumamnya pelan.

Matanya tertuju pada Mazmur yang tadi pagi ia baca.

“Karena tanpa alasan mereka memasang jaring terhadap aku…”

Ia tersenyum tipis.

“Tanpa alasan…” ulangnya.

Seolah-olah kalimat itu hidup, bernapas, dan mengikutinya ke mana pun ia pergi.

Belum sempat ia tenggelam lebih jauh, suara ribut kecil terdengar dari meja sebelah. Ada dua orang pria sedang berbicara dengan nada tinggi. Tampaknya keduanya adalah pebisnis. Awalnya pelan, tapi semakin lama semakin panas.

“Lu tuh kok hobi main belakang?” kata yang satu, setengah berbisik tapi penuh emosi.

“Main belakang gimana? Gue kerja sesuai sistem!” balas yang lain.

Erwin melirik sekilas.

Ah, lagi-lagi. Polanya sama.

Ia tidak kenal mereka. Tidak tahu masalahnya. Entah kenapa, hatinya langsung terhubung. Tanpa alasan yang jelas, tapi konflik muncul di hadapan matanya.

Ia kembali menunduk, tapi telinganya tetap menangkap potongan-potongan percakapan.

“Gue yang ngajarin lu dari nol!”

“Terus sekarang lu ambil downline gue?”

Erwin menghela napas.

Dunia ini, kadang memamg seperti itu. Selalu tentang siapa yang punya, siapa yang kehilangan.

Ia menatap buku renungannya lagi, lalu membaca pelan bagian yang tadi ia garis bawahi:

Tidak semua penderitaan karena dosa pribadi. Kadangkala, kita diserang justru karena kita benar.”

Ia terdiam. Kata-kata dalam buku renungan itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.

Tiba-tiba ia teringat beberapa bulan lalu. Saat ia dituduh memotong jalur distribusi dalam bisnisnya. Padahal tidak. Ia tahu dirinya tidak. Namun tetap saja tuduhan itu datang. Tanpa alasan, bukti, dan ruang untuk menjelaskan.

Erwin tersenyum pahit.

“Oh… jadi ini maksudnya, ya,” gumamnya.

Di sisi lain ruangan, barista memanggil nama seseorang. Mesin kopi mendesis. Musik indie pelan mengalun.

Lihat selengkapnya