Irma mengaduk kopinya perlahan. Bunyi sendok beradu dengan gelas kaca terdengar pelan, nyaris tenggelam oleh musik yang mengalun di LUAR TERAS. Di depan mereka, suasana mulai sedikit lebih ramai. Siang bergeser menuju sore.
“Jadi…” Irma membuka percakapan sambil menatap Erwin, “target bulan ini masih realistis nggak menurut lo?”
Erwin tersenyum tipis.
“Kalau ngomong realistis… di MLM tuh relatif.”
Irma tertawa kecil. “Ya juga sih.”
Mereka sempat membahas angka, jaringan, strategi rekrut, dan potensi pasar. Semua terdengar seperti percakapan bisnis pada umumnya. Entah kenapa, bagi Erwin, hari itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang terus mengganggu. Atau lebih tepatnya, menyadarkan.
Irma kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berkata, “Tapi jujur ya, Win… gue lagi capek juga.”
Erwin menatapnya dan bertanya, “Capek?”
“Iya… bukan capek fisik doang. Capek hati juga. Kadang orang di bawah kita tuh… susah banget diatur. Ada yang tiba-tiba ngilang, ada yang malah ngomongin kita di belakang.”
Erwin mengangguk pelan. “Tanpa alasan?”
Irma menatapnya tajam, membalas, “Persis.”
Erwin tersenyum tipis dan berkata, “Gue lagi baca sesuatu tadi soal itu.”
Irma mengangkat alis, bertanya, “Rohani lagi ya?”
“Selalu,” jawab Erwin santai.
Irma tersenyum, membalas, “Share dong. Barangkali bisa nguatin gue.”
Erwin membuka kembali Alkitabnya, lalu menunjuk satu bagian.
“Kadang… kita dibenci bukan karena kita salah.”
Irma terdiam, lalu berkata, “Terus kenapa?”
Erwin menatapnya, dan menjawab, “Karena hati orang lain… lagi nggak beres.”
Irma menghela napas panjang, berkata, “Dalem juga…”
Sejenak mereka diam. Lalu Irma tiba-tiba berkata, “Ngomong-ngomong soal rohani… gue kemarin ikut diskusi. Bahas soal Latria… sama apa ya… Hyper apa gitu.”
“Hyperdulia,” jawab Erwin cepat.
Irma tersenyum dan berkata, “Iya itu.”
Erwin tertawa kecil. “Jarang-jarang lo bahas beginian.”
Irma mengangkat bahu, dan melanjutkan kata-katanya, “Ya pengen ngerti aja. Bedanya apa sih sebenernya?”
Erwin mengangguk pelan. “Oke… gini ya.”
Sebelum menjelaskan, Erwin sedikit merapikan duduknya terlebih dahulu.
“Latria itu… penyembahan yang cuma boleh ditujukan ke Tuhan.”
Irma mengangguk. “Berarti kayak ibadah, doa, penyembahan… itu semua bentuk Latria?”
“Betul.”
“Terus Hyperdulia?”
Erwin mengambil napas, lalu menjawabnya, “Hyperdulia itu penghormatan tertinggi… tapi bukan penyembahan. Biasanya dikaitkan dengan penghormatan kepada Maria.”