Erwin membaca pesan dari Irma itu sambil duduk di tepi tempat tidur. Malam sudah cukup larut, tapi pikirannya belum juga tenang. Notifikasi WhatsApp dari Irma masuk beberapa menit lalu, dan dari cara ia menulis, Erwin langsung tahu bahwa ini bukan sekadar cerita biasa.
“Win… gue lagi di-silent treatment lagi.”
Erwin menarik napas pelan. Ia lanjut membaca.
“Udah dua harian malah. Gue nggak ngerti salah gue di mana. Ditanya baik-baik, dia cuma jawab singkat. Atau malah nggak jawab sama sekali. Capek banget rasanya…”
Erwin memejamkan mata sebentar. Ia bukan orang yang memiliki banyak pengalaman tentang kehidupan percintaan. Bahkan bisa dibilang, ia masih belajar memahami relasi dari jauh. Hanya dari pengamatan, dari cerita orang, dan dari firman yang ia baca. Namun justru karena itu, ia tidak ingin menjawab sembarangan.
Ia tidak mau sekadar menghibur. Ia ingin jujur kepada Irma, sahabatnya. Makanya spontan ia membuka kembali Alkitab kecilnya yang tadi sore sempat ia baca. DaribKidung Agung pasal 4.
Kalimat demi kalimat kembali terlintas. Tentang seorang laki-laki yang memuji perempuan. Yang bukan sebagian, tapi seluruhnya. Dengan detail, penuh hormat dan memuji keindahan yang dimiliki si perempuan.
Erwin mengetik pelan: “Maaf ya, gue jawabnya mungkin agak panjang…”
Ia berhenti sejenak, lalu lanjut.
“Gue tadi siang lagi baca Kidung Agung 4. Aneh sih… tapi kayaknya nyambung sama yang lo alami sekarang.”
Ia tersenyum kecil.
“Di situ, mempelai laki-laki nggak cuma suka sama ceweknya. Dia menghargai dia secara utuh. Dari kepala sampai kaki. Bukan cuma fisik, tapi cara dia melihat perempuan itu yang penuh hormat.”
Ia berhenti lagi. Memikirkan kata-kata berikutnya.
“Dan gue jadi kepikiran satu hal, Irma…”
Jari-jarinya mengetik lebih lambat.
“Cinta yang sehat itu nggak bikin kita bingung terus-menerus soal posisi kita.”
Ia menatap layar, lalu lanjut.
“Kalau seseorang benar-benar menghargai lo, dia nggak akan menghukum lo dengan diam tanpa penjelasan.”
Erwin menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia tahu kata-kata ini bisa terasa tajam. Namun ia tidak mau memutar-mutar dalam memberikan jawabannya kepada Irma.
“Silent treatment itu Sebenarnya bukan komunikasi. Itu bentuk penarikan diri. Dan kalau dilakukan terus-menerus, itu bisa jadi bentuk kontrol.”