Pagi itu, Erwin datang lebih cepat dari biasanya. Komsel di Summarecon Mall Serpong masih satu jam lagi dimulai. Ia memilih menunggu di Starbucks, duduk di kursi dekat kaca, memandang lalu-lalang orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Di tangannya, segelas kopi americano mulai mendingin. Di layar ponselnya, ia membaca postingan panjang tentang “Fate Chiasso” dan Pope Francis.
Erwin mengernyit kecil.
“Fate Chiasso… bikin keributan, tapi dalam arti positif,” gumamnya pelan.
Ia membaca ulang bagian demi bagian. Tentang rosario, ziarah, Ekaristi. Tentang gereja yang seharusnya bersuara, dan bukan hanya sekadardiam. Ini juga tentang ironi. Ironi ketika keributan itu berubah jadi kemarahan, konflik, dan saling serang.
Ia menghela napas.
“Kayaknya bukan cuma gereja sih… manusia juga gitu,” pikirnya.
Tepat saat itu, sesuatu yang familier kembali terjadi. Bukan suara keras. Bukan kejadian besar pula. Pola itu terjadi lagi.
Di meja sebelah, dua orang pria sedang berbicara dengan nada tinggi. Awalnya terdengar seperti diskusi biasa. Namun lama-lama berubah jadi debat.
“Gereja itu harus tegas!” kata yang satu.
“Lah... tegas tapi tanpa kasih, ya percuma!” balas yang lain.
Nada mereka naik. Kepala mulai menggeleng. Tangan ikut bergerak.
Erwin menoleh pelan. Entah kenapa isi pembicaraan mereka seperti lanjutan dari apa yang baru saja ia baca.
Ia tersenyum tipis dan berkata, “Lagi-lagi…”
Tak jauh dari situ, seorang barista menjatuhkan gelas plastik. Suaranya cukup keras. Semua orang menoleh sejenak, lalu kembali ke aktivitas masing-masing. Ternyata ada seorang ibu yang duduk sendirian tampak kesal karena pesanannya lama. Ia mengomel pelan. Seorang anak kecil menangis karena es krimnya jatuh.
Keributan kecil. Selanjutnya ada fragmen-fragmen kecil. Namun semuanya seperti membentuk satu tema besar.
Erwin menyandarkan punggungnya dan berkata pelan, “Fate chiasso…”
Ia mengulang kata itu dalam hati, “Tapi keributan macam apa sih yang Tuhan mau?”