Irma datang lebih cepat dari yang Erwin perkirakan. Dari kejauhan, Erwin sudah melihatnya melambaikan tangan. Namun kali ini, Irma tidak sendiri. Di sampingnya, seorang pria berjalan santai, mengenakan kemeja rapi tapi dengan gaya yang terlalu sadar kamera. Rambutnya disisir rapi, sepatu mengilap, dan langkahnya penuh percaya diri.
“Win!” sapa Irma.
Erwin berdiri, tersenyum, dan membalas, “Irma… akhirnya.”
Lalu Irma menoleh ke pria di sampingnya, berkata, “Oh iya, kenalin. Ini Irwin.”
Erwin mengangguk, menjabat tangan pria itu.
“Erwin,” kata Erwin singkat.
Irwin tersenyum tipis dan berkata, “Nama kita mirip ya.”
“Iya,” jawab Erwin, “cuma beda tipis… satu huruf, satu nasib mungkin.”
Irma tertawa kecil. Irwin ikut tersenyum, tapi ada sesuatu yang entah itu apa. Erwin belum bisa menjelaskan, tapi ada kesan yang terasa tidak sepenuhnya tulus.
Mereka duduk bertiga. Pelayan datang, Irma dan Irwin memesan. Erwin hanya menatap, masih mencoba membaca situasi.
“Gimana komsel nanti?” tanya Irma.
“Santai aja, Ma. Tapi kayaknya bakal berat juga pembahasannya,” jawab Erwin.
Irwin langsung menyela, “Bahas apa emang?”
Erwin menatapnya sejenak, menjawab, “Soal integritas… soal iman yang nggak cuma di mulut.”
Irwin mengangguk cepat. “Oh, iya iya… penting sih itu. Gue juga sering ikut pembahasan kayak gitu.”
Erwin diam.
“Sering ikut…” kata itu menggantung di pikirannya.
Percakapan berlanjut ringan. Tentang bisnis MLM mereka, tentang target, tentang tim. Irwin terlihat cukup vokal. Bahkan cenderung dominan.
“Kalau di tim gue,” kata Irwin sambil menyandarkan tubuhnya, “yang penting itu mindset. Lo harus kelihatan sukses dulu, baru orang percaya.”
Erwin mengangkat alis sedikit, bertanya, “Kelihatan?”
Irwin mengangguk mantap. “Ya iyalah. Branding itu segalanya. Orang nggak peduli lo beneran sukses atau nggak. Yang penting hasilnya kelihatan.”
Kata-kata Irwin itu menancap dalam kepala Erwin. Erwin tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
Irma tampak sedikit canggung. Ia menyesap minumannya.
“Ya… tapi tetap harus jujur juga kan,” kata Irma pelan.
Irwin tertawa kecil. “Jujur? Ya jujur itu penting… tapi realitasnya, dunia nggak sesederhana itu.”
Erwin menatap Irwin lebih dalam. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ke potongan ayat dan renungan yang tadi pagi ia baca. Tentang seseorang yang dulu setia. Tentang komunitas yang dulu benar. Namun segala sesuatunya berubah 180 derajat.