Irma pamit lebih dulu. Katanya ada telepon dari rumah, nada suaranya datar, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang belum selesai. Ia berdiri, menatap Erwin sejenak, lalu menoleh ke Irwin.
“Jangan lama-lama ya,” kata Irwin.
Irwin mengangguk. “Iya.”
Erwin hanya tersenyum tipis. Ia tahu bahwa ini belum selesai.
Beberapa detik setelah Irma pergi, suasananya berubah. Yang tadinya ringan, kini menjadi lebih berat. Irwin menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatap Erwin langsung.
“Gue mau ngomong serius,” kata Irwin.
Erwin mengangguk. “Silakan.”
Irwin menarik napas panjang. Seolah sedang memilih kata yang tepat.
“Menurut lo… Irma berubah nggak?”
Pertanyaan itu tidak sederhana. Erwin tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, lalu kembali ke Irwin.
“Berubah itu luas pemahamannya,” kata Erwin pelan. “Semua orang, toh, bisa berubah.”
Irwin menggeleng. “Bukan gitu maksud gue.”
Ia mendekatkan tubuhnya sedikit dan melanjutkan ucapannya, “Gue curiga dia… lagi deket sama orang lain.”
Sunyi. Pengakuan Irwin itu menggantung. Erwin tidak kaget. Namun ia juga tidak langsung setuju.
Erwin hanya bertanya, “Dasarnya?”
Irwin tertawa kecil, tapi hambar. “Perasaan.”
Erwin diam.
“Terus?” tanya Erwin.
“Chat yang mulai berubah. Cara ngomong dia juga berubah. Kadang kayak… jauh aja dari gue. Tapi dari luar... yah, kelihatan biasa aja.”
Erwin menghela napas pelan. Tanpa sadar, matanya melirik ke ponselnya. Layar masih terbuka. Sebuah postingan di Threads muncul di linimasa. Seorang selebritas sedang menulis panjang soal perselingkuhan. Komentar di bawahnya berantakan. Ada yang berspekulasi, menebar asumsi, dan tak sedikit yang melemparkan sindiran.
Potongan kalimat yang tidak utuh: “yang dibela ga pantes dibela, wkwk…”
“Padahal lu juga belum tau…”
“Cuitan gini bisa jadi asumsi liar…”
“Banyak terjadi di kota-kota besar…”
Erwin menatap itu cukup lama. Lalu perlahan ia mengunci layar ponselnya. Ia kembali ke Irwin.
“Lo yakin?” tanya Erwin.
Irwin terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan dan berkata, “Jujur… nggak.”
“Terus?”
“Makanya gue minta tolong lo.”
Erwin mengernyitkan dahi dan bertanya, “Sama gue?”