Restoran all-you-can-eat itu sangat berisik. Dentingan piring, suara daging yang mendesis di atas grill, tawa kecil yang bersahut-sahutan. Yang semuanya bercampur jadi satu seperti orkestra yang tidak pernah benar-benar diam. Erwin duduk di salah satu sudut meja panjang, tepat di depan panggangan kecil yang mulai memerah. Di sebelahnya, Irma tampak sibuk mengatur potongan daging, sementara Irwin menuangkan saus ke mangkuk kecil.
Di ujung meja, seorang pria berkacamata dengan wajah tenang dan suara yang dalam mulai membuka persekutuan.
“Teman-teman,” kata Edhi Suryatama, pemimpin komsel mereka, seorang pendeta pratama yang gaya bicaranya tidak pernah menggurui tapi selalu menusuk. “Hari ini kita belajar dari Bilangan 14:3…”
Erwin langsung terdiam. Ayat itu sudah ia baca tadi siang. Lagi-lagi.
Lalu Erwin tersenyum tipis dan berkata pelan, “Ya ampun… lagi?”
Edhi melanjutkan, “Bangsa Israel bertanya, ‘Mengapakah Tuhan membawa kami ke negeri ini…?’ Padahal mereka sudah melihat mujizat.”
Irma berhenti sejenak, menatap Edhi. Irwin juga ikut diam. Bahkan suara daging yang tadi berisik seperti ikut menurunkan volumenya.
Erwin menatap panggangan di depannya. Daging yang awalnya merah perlahan berubah warna. Entah secara proses, kepanasan, dan waktu.
Persis seperti iman.
“Kadang,” lanjut Edhi, “masalah kita bukan kurang bukti. Tapi hati kita yang tidak mau percaya.”
Kata-kata pendeta itu seperti dilempar tepat ke arah Erwin. Ia menelan ludah. Hari ini, sejak pagi sampai malam, ia seperti dikejar-kejar oleh pola yang sama. Binatu, konter pulsa, kedai kopi, bahkan obrolan dengan Irwin tentang Irma... semuanya terasa seperti potongan jigsaw yang mengarah ke satu hal, yaitu hati manusia. Sekarang, di sini, di tengah daging panggang dan saus sambal, pesan itu muncul lagi.
“Gue mulai curiga,” bisik Erwin pelan ke dirinya sendiri, “ini bukan kebetulan.”
Irma tiba-tiba menyenggol tangannya dan berkata, “Win, dagingnya kebakar tuh.”
Erwin tersentak. “Eh iya, iya…”
Ia buru-buru membalik daging itu. Terlambat sedikit, tapi masih bisa diselamatkan.
Edhi melanjutkan, “Yang kedua, kita belajar tentang suara mayoritas. Ada sepuluh pengintai yang bilang tidak mungkin. Hanya dua yang percaya. Tapi yang sepuluh itu lebih viral.”
Irwin mengangguk pelan. “Kayak sekarang ya, Pak. Yang ramai belum tentu benar.”
Edhi tersenyum dan menjawab, “Tepat sekali. Viral itu bukan ukuran kebenaran.”
Erwin langsung teringat postingan Thread yang ia lihat tadi. Tuduhan, asumsi, hingga spekulasi. Semua orang seperti berlomba-lomba menjadi hakim tanpa bukti. Sekarang Irwin duduk di sampingnya, yang meminta dia menyelidiki Irma.
Erwin menarik napas panjang.
“Berarti…” pikir Erwin, “gue juga bisa jadi bagian dari sepuluh pengintai itu.”
Erwin menoleh ke arah Irma. Perempuan itu sedang tertawa kecil sambil mencoba membalik jamur di panggangan.