Malam itu LUAR TERAS jauh lebih sepi dibanding biasanya. Hujan baru saja reda. Aroma kopi bercampur tanah basah masuk pelan dari area outdoor yang lampunya remang-remang. Erwin duduk diam sambil memutar sendok kecil di dalam cangkir americano miliknya. Di depannya, Irma sedang menatap layar ponsel sambil sesekali menghela napas.
“Ada apa?” tanya Erwin akhirnya.
Irma memutar layar ponselnya sedikit ke arah Erwin. “Ini… postingan orang-orang hari ini aneh semua, Win.”
Erwin membaca cepat. Ada yang membahas khotbah pendeta tentang hidup dan pencobaan. Ada yang curhat soal pajak dan situs pemerintah yang membuat stres. Ada yang membicarakan perceraian artis. Ada yang panik karena anak demam tengah malam. Itu semua seperti potongan-potongan hidup manusia. Sangat campur aduk.
“Lucu ya,” gumam Irma. “Timeline social media kayak isi kepala manusia sekarang.”
Erwin tersenyum kecil, membalas, "Dunia yang berisik.”
“Iya.”
Mereka terdiam beberapa detik.
Di sudut kafe, lagu instrumental jazz pelan mengalun. Barista sedang membersihkan mesin kopi. Di luar, motor-motor lewat dengan suara ban membelah jalanan yang masih basah.
Erwin sebenarnya sudah gelisah sejak tadi. Ia tahu malam ini ia harus jujur. Kalau tidak, semuanya akan makin rumit.
“Irma,” kata Erwin pelan.
“Apaan?”
“Ada yang mau gue omongin.”
Irma langsung menatapnya dan berkata, “Serius banget mukanya.”
Erwin tertawa kecil hambar. “Karena emang serius.”
Irma perlahan meletakkan ponselnya.
“Apa?”
Erwin menarik napas panjang. Lalu akhirnya ia berkata, “Irwin pernah minta gue nyelidikin lo.”
Hening. Henar-benar hening. Bahkan suara mesin kopi seperti menghilang sesaat.
Irma menatap Erwin tanpa berkedip dan bertanya, “Maksud lo?”
Erwin menunduk sebentar, menjawab, “Dia curiga sama lo.”
Wajah Irma perlahan berubah. Bukan marah, melainkan kecewa. Saking kecewanya, ia hanya membalas, “Oh.”
Satu kata itu terdengar jauh lebih berat daripada bentakan.
Erwin terburu-buru berkata, “Gue gak pernah ngelakuin yang aneh-aneh kok, Ma. Gue juga gak mau jadi mata-mata.”
“Tapi lo tetep dengerin dia kan, pada akhirnya.”
Kata-kata Irma itu menusuk tepat. Yang membuat Erwin terdiam. Karena Irma benar.
Irma menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya kosong ke arah luar kafe.
“Capek ya,” kata Irma lirih.
“Capek yang gimana?”
“Capek hidup di zaman semua orang gampang curiga.”
Erwin langsung teringat postingan Thread tadi.