Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #29

Erwin dan Tukang Loak Misterius

Malam itu angin di taman komplek terasa lembap. Lampu-lampu jalan memantulkan warna kekuningan di paving block yang masih sedikit basah sisa hujan sore tadi. Erwin duduk sendirian di bangku semen dekat pohon flamboyan yang mulai menggugurkan daun-daunnya.

Di tangannya ada sebungkus rokok harga enam belas ribu. Bukan rokok mahal. Namun itu cukup untuk menemani pikirannya yang akhir-akhir ini terasa terlalu penuh. Ia menyalakan sebatang, lalu menghembuskan asap perlahan.

Dari kejauhan terdengar suara motor lewat, disusul bunyi televisi dari rumah-rumah komplek. Ada yang sedang nonton sinetron, ada yang karaoke fals, ada juga suara anak kecil menangis minta jajan.

Erwin memandang langit.

“Kenapa akhir-akhir ini semua kejadian kayak nyambung terus ya…” gumam Erwin pelan.

Pikirannya masih dipenuhi obrolan bersama Irma di LUAR TERAS kemarin. Tentang kecurigaan Irwin. Tentang rasa percaya. Tentang bagaimana manusia sering membungkus ketakutan dengan alasan-alasan yang terlihat masuk akal.

Belum sempat ia menghabiskan setengah batang rokoknya, tiba-tiba seorang lelaki tua datang dari arah gerbang komplek sambil mendorong gerobak loak kecil. Gerobaknya penuh kardus, botol plastik, besi-besi karatan, kipas rusak, dan kabel kusut. Bajunya lusuh. Celananya belel. Sandalnya bahkan berbeda warna kanan dan kiri. Tanpa permisi, lelaki itu langsung berjalan ke balik pohon besar sekitar lima meter dari bangku Erwin. Lalu suara air kencing terdengar jelas.

Erwin langsung mengernyit jijik.

“Ya ampun…” bisik Erwin refleks. Ia membuang muka sambil menahan napas.

Beberapa detik kemudian, lelaki itu keluar dari balik pohon sambil menguap santai, lalu duduk di bangku lain tak jauh dari Erwin. Anehnya, ia juga mengeluarkan rokok. Jenis yang sama. Bahkan mereknya sama. Erwin melirik orang itu sekilas. Lelaki itu tertawa kecil.

“Rokok rakyat, Mas,” katanya sambil mengangkat bungkus rokoknya.

Erwin cuma tersenyum tipis, walau sebenarnya masih agak risih.

Bau pesing samar terbawa angin.

“Capek, Pak?” tanya Erwin basa-basi.

“Namanya nyari barang bekas, Mas,” Lelaki itu menyalakan rokoknya. “Kadang dapet banyak. Kadang malah nggak dapet sama sekali.”

Erwin mengangguk pelan.

Malam kembali hening. Namun seperti biasa, pikirannya mulai bekerja lagi.NEntah kenapa, situasi sederhana itu kembali mengingatkannya pada renungan yang tadi sore ia baca tentang Korah, Datan, dan Abiram. Tentang pemberontakan, iri hati yang menyamar jadi kekudusan, serta tentang manusia yang merasa dirinya paling benar.

Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun…”

Kata-kata itu terngiang lagi di kepala Erwin. Ia menghembuskan asap rokok panjang-panjang.

Lucu ya, pikirnya.

Lihat selengkapnya