Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #30

Yongki, Sang Penderita Kanker Karsinoma

Malam mulai turun perlahan ketika Erwin Bimantara memarkir motornya di pelataran sebuah rumah sakit swasta di daerah Tangerang. Lampu-lampu gedung memantul di kaca helmnya yang sedikit berembun. Udara malam terasa lembap setelah hujan sore tadi. Di tangan kirinya ada kantong plastik berisi roti gandum, susu rendah gula, dan buah pir. Mereka adalah titipan sederhana untuk Yongki.

Yongki merupakan sahabatnya sejak zaman warnet dan rental PlayStation. Kini lelaki yang dulu paling keras tertawa saat main Winning Eleven itu harus terbaring karena kanker karsinoma yang perlahan menggerogoti tubuhnya.

Erwin berjalan melewati lorong rumah sakit yang berbau antiseptik. Langkahnya melambat ketika melihat beberapa keluarga pasien tidur di kursi tunggu. Ada ibu-ibu yang memeluk tas sambil tertidur duduk. Ada anak kecil yang rebahan di paha ayahnya. Ada lelaki tua yang terus menatap layar monitor kamar ICU.

Erwin menelan ludah. Dalam hati, ada saja yang terpikirkan oleh dirinya. Kadang hidup memang seperti itu. Semua orang terlihat baik-baik saja di luar, padahal diam-diam sedang bertarung melawan sesuatu.

Saat pintu kamar dibuka perlahan, Yongki tampak sedang duduk bersandar. Kepalanya sudah mulai botak akibat kemoterapi. Selang infus menempel di tangannya.

Namun ketika melihat Erwin masuk, Yongki malah nyengir, berkata, “Wih, dateng juga lu, Win.”

Erwin tersenyum kecil, membalas, “Yaelah. Masa iya gua ghosting orang sakit?”

“Harus jenguk gue, lah. Nanti, kalau gue meninggal, arwah gue bakal nguber-nguber lo.”

“Serem amat, Yong, hahaha...”

Mereka tertawa kecil. Namun tawa itu cepat redup ketika Erwin melihat mata Yongki yang mulai cekung. Badannya jauh lebih kurus dibanding kali terakhir mereka nongkrong di LUAR TERAS.

Erwin duduk di kursi samping ranjang, dan melanjutkan berbicara, “Gimana hari ini?”

Yongki mengangkat bahu. “Gitu, lah, Win. Kadang sakitnya kayak digigit dari dalem.”

Hening sebentar. Lalu Yongki menatap langit-langit kamar.

“Win…”

“Hm?”

“Lu pernah gak takut mati?”

Pertanyaan itu datang begitu saja. Erwin tidak langsung menjawab. Di luar kamar terdengar suara roda troli makanan lewat. Samar-samar ada bunyi televisi dari kamar sebelah. Erwin akhirnya menghela napas pelan.

“Pernah.”

“Takut kenapa?”

“Takut kalau gue belum siap aja, Yong. Takut gue udah keburu dipanggil Tuhan, padahal banyak impian belum tercapai.”

Yongki tersenyum miring, membalas, “Nah itu yang gue rasain.”

Erwin diam. Tatapannya jatuh pada Alkitab kecil di meja samping ranjang Yongki. Ada stabilo kuning menyelip di tengah halaman. Seperti biasanya kejadian itu datang lagi. Seperti ada benang tak terlihat yang terus menghubungkan kehidupan sehari-hari Erwin dengan renungan-renungan yang ia baca. Pikirannya langsung teringat pada ayat yang ia baca subuh tadi. Ke Bilangan 9. Tentang bangsa Israel yang masih berjalan di padang gurun. Mereka masih dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, tapi Tuhan tetap meminta mereka merayakan Paskah.

Erwin memandang Yongki lagi.

Menurutnya, manusia juga sebenarnya sedang dalam perjalanan. Perjalanan menuju sesuatu yang entah kapan sampainya. Ada yang masih muda. Ada yang sudah tua. Ada yang sehat. Ada yang sakit-sakitan pula. Namun semuanya sedang berjalan. Di tengah perjalanan itu, Tuhan meminta umat-Nya untuk tetap mengingat keselamatan. Harus tetap beribadah. Tetap datang kepada-Nya, bahkan di padang gurun.

Lihat selengkapnya