Malam itu hujan baru saja reda ketika Erwin kembali datang ke rumah sakit tempat Yongki dirawat. Bau tanah basah samar masuk dari sela pintu lobi yang otomatis terbuka-tutup setiap ada pengunjung datang. Di tangannya ada dua gelas minuman hangat dan sekantong kecil roti sobek cokelat.
“Buset,” kata Yongki sambil terkekeh saat melihat Erwin masuk ke kamar. “Lu tiap dateng kayak mau piknik aja.”
“Daripada lu makan bubur rumah sakit terus.”
“Buburnya enak tauk, Win.”
“Penderita kanker emang jadi gampang bohong, dah.”
Yongki tertawa kecil.
Malam itu wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Mungkin efek obat. Mungkin juga karena hari itu rasa nyerinya sedang sedikit bersahabat.
Erwin melirik kursi roda di pojok ruangan, dan bertanya ke arah Yongki, “Jalan-jalan bentar mau?”
Yongki menaikkan alis, yang bertanya balik, “Keluar?”
“Biar lu gak stres liatin tembok mulu.”
Yongki diam sebentar sebelum mengangguk pelan. “Boleh juga.”
Beberapa menit kemudian, Erwin mendorong kursi roda Yongki menyusuri lorong rumah sakit yang mulai lebih sepi. Lampu-lampu putih memantul di lantai keramik yang mengilap.
Ada suara mesin monitor dari beberapa kamar. Ada keluarga pasien yang tertidur sambil duduk. Ada anak kecil yang menangis karena takut disuntik.
Rumah sakit memang tempat aneh. Di satu sisi ada harapan. Di sisi lain ada ketakutan.
Saat mereka sampai di area taman kecil rumah sakit, udara malam terasa dingin dan segar. Beberapa pasien lain tampak duduk di bangku taman.
Yongki menunjuk seorang bapak gemuk yang sedang berjalan pelan sambil membawa tiang infus.
“Oh, bapak-bapak itu, maksud lo, Win?” Yongki menggeleng-gelengkan kepalanya. “Emang kelihatan sehat. Perutnya buncit gitu. Tapi sebetulnya dia sama kayak gue juga. Penderita kanker juga, Win.”
Erwin menoleh cepat, bertanya, “Serius lo, Yong?”
Yongki mengangguk. “Gue baru tahu… sel-sel kanker nggak cuma bikin orang yang kena jadi kurus kerontang.”
Erwin terdiam. Ia memperhatikan bapak itu lagi. Dari luar memang tampak seperti om-om biasa yang habis makan sate terlalu banyak. Tak ada wajah pucat. Tak ada tubuh kurus.
Tiba-tiba Erwin merasa seperti ditampar sesuatu. Manusia memang sering tertipu penampilan luar. Ada orang yang terlihat kuat, ternyata diam-diam sedang hancur. Ada orang yang kelihatannya sehat, ternyata sedang melawan penyakit. Ada juga orang yang tampak rohani, ternyata sedang kehilangan arah.
Pikiran itu membuat Erwin teringat sesuatu yang tadi sore ia baca di media sosial. Tentang gereja-gereja yang suka meminta jemaat baru berdiri lalu seluruh ruangan tepuk tangan.
Ia tersenyum kecil sendiri.
“Kenapa lagi lu?” tanya Yongki.
“N-nggak. Kepikiran postingan orang aja.”
“Postingan galau? Soal seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan?”
“Bukan, lah. Bukan yang sereceh itu.”
Erwin duduk di bangku taman dekat kursi roda Yongki.