Langit sore di komplek tempat Bu Marta tinggal tampak mendung tipis. Jalanan perumahan yang biasanya ramai anak-anak main sepeda, kali ini agak lengang. Erwin memarkir mobilnya di depan sebuah rumah bercat krem dengan pagar putih kecil. Di depan pagar itu tergantung papan bertuliskan:
MARTA SNACKS
Menerima Pesanan Kue Basah & Kue Kering
Aroma mentega dan nanas langsung menyeruak bahkan sebelum Erwin menekan bel rumah.
Tak lama kemudian pintu dibuka. Muncul sosok Bu Marta dengan celemek bunga-bunga dan tangan penuh tepung.
“Eh, Erwin... Nastarnya udah jadi semua. Masuk dulu, Win.”
“Ganggu nggak, Bu?”
“Ganggu apanya? Justru lagi sepi begini. Anak-anak lagi sekolah. Suamiku sibuk di gereja.”
Erwin masuk sambil melepas sandal. Rumah Bu Marta sederhana, tapi hangat. Di meja makan ada toples-toples plastik bening berisi kastengel, putri salju, lidah kucing, dan nastar yang masih hangat. Di sudut dapur, dua perempuan paruh baya sedang sibuk menimbang adonan.
“Ini yang pesen lima toples, kan?”
“Iya, Bu.”
Bu Marta tertawa kecil.
“Wah, lumayan juga ya. Udah mulai jadi reseller nih.”
Erwin ikut tertawa. “Nggak lah, Bu. Buat dibagi-bagi.”
Namun sambil menunggu Bu Marta membungkus pesanannya, mata Erwin justru tertumbuk pada sesuatu yang tertempel di dekat dispenser air.
Sebuah kertas kecil yang di dalamnya ada tulisan tangangak miring.
“Kadang manusia tidak capek karena hidupnya berat. Tapi karena hatinya terus bersungut-sungut.”
Entah kenapa, tulisan itu langsung menyentil sesuatu dalam dirinya. Yang seperti biasa juga, terjadi lagi. Pikiran Erwin kembali terhubung pada renungan yang tadi pagi ia baca tentang Bilangan 21. Saat bangsa Israel berkelana di padang gurun dan hanya makan manna, lalu banyak keluhan dan ular-ular berbisa.
Erwin memandangi toples nastar di depannya. Nastar hangat dengan selai nanas legit. Harum mentega memenuhi ruangan. Tiba-tiba ia membayangkan bangsa Israel yang setiap hari makan manna dari surga lalu berkata: “Makanan hambar ini membuat kami muak.”
Padahal itu makanan mukjizat. Padahal itu bukti Tuhan masih memelihara mereka. Erwin menghela napas pelan.
“Lucu ya, Bu…” katanya tiba-tiba.