Pagi itu udara masih dingin ketika Erwin mengayuh sepedanya pelan menyusuri jalanan BSD yang belum terlalu ramai. Kaos hitamnya sedikit basah oleh keringat, sementara earphone di telinganya hanya menggantung sebelah. Ia baru saja menyelesaikan rute pendek favoritnya mengitari kompleks dan boulevard.
Namun sejak subuh tadi perutnya terasa tidak nyaman. Asam lambungnya naik lagi. Akhirnya sebelum pulang, ia mampir sebentar ke apotek kecil dekat ruko. Membeli antasida dan obat lambung, lalu duduk sebentar sambil minum air mineral dingin.
“Kurang tidur sama kebanyakan kopi nih kayaknya,” gumam Erwin.
Sekarang, setelah gowesan paginya selesai, Erwin berhenti di sebuah konter pulsa bernama BINTANG CELL. Konter kecil itu berada di samping binatu dan kios fotokopi. Tempat sederhana yang sudah bertahun-tahun menjadi langganannya. Ia masuk sambil membawa helm sepeda.
“Bang, isi e-wallet dong.”
Penjaga konter mengangguk.
Sambil menunggu proses transfer, Erwin membuka ponselnya. Linimasa media sosial pagi itu penuh sekali dengan debat. Tentang hubungan, ekonomi, masa depan, luar negeri, hingga bare minimum.
Ia membaca satu postingan cukup lama:
“Jaman sekarang lebih gampang jadi as you should person dibanding thank you person...”
Erwin terkekeh kecil. “Ini bener juga sih…”
Belum selesai membaca, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Woiii. Gowes pagi-pagi lu?”
Erwin menoleh.“Ferdi?!”
Seorang laki-laki berkacamata dengan jaket varsity berdiri sambil tertawa lebar. Di sebelahnya ada seorang perempuan manis berambut pendek yang memegang minuman kopi botolan.
“Kenalin,” kata Ferdi. “Ini Anamaria.”
Erwin mengangguk sopan. “Halo.”
“Erwin ya?” kata Anamaria ramah. “Sering diceritain sama Ferdi.”
“Waduh jangan yang jelek-jelek dong, Fer, nyeritain soal gue.”
Mereka tertawa kecil.
Ferdi ternyata sedang membeli paket data dan token listrik.
“Lu masih suka nongkrong di LUAR TERAS?” tanya Ferdi.
“Kadang.”
“Gila, kita udah lama banget nggak ketemu.”
Erwin mengangguk.
Entah kenapa, seperti biasa, terjadi lagi. Percakapan kecil itu tiba-tiba menyambung dengan apa yang sejak tadi dibacanya di media sosial. Tentang apresiasi, rasa cukup, hingga tentang manusia yang makin sulit berterima kasih.
Anamaria tiba-tiba berkata sambil bercanda kepada Ferdi: “Ini ya cowok yang kalau jemput aku jauh-jauh harus dipuji dulu.”
Ferdi langsung nyengir. “Ya minimal bilang makasih kek.”
Anamaria tertawa. “Tapi tadi aku udah bilang makasih juga.”
“Nah itu. Kan aku jadi semangat.”