Pasar Modern BSD pagi itu sudah ramai meski matahari belum terlalu tinggi. Bau sayur segar bercampur aroma ikan asin, kopi tubruk dari kios kecil, dan wangi plastik baru dari toko peralatan rumah tangga bercampur jadi satu. Erwin berjalan pelan sambil membawa tas kain hijau tua di tangan kirinya. Di tangan kanannya, masih ada kantong kecil dari apotek tadi pagi. Isi kantong itu sederhana. Ada Metformin, selebaran pola makan, dan secarik kertas hasil cek gula darah. Angkanya masih terbayang di kepala Erwin. Lumayan tinggi. Tidak setinggi orang yang sampai harus opname, kata apoteker tadi. Namun cukup membuat Susilawaty—apoteker berkacamata yang berjilny itu—menghela napas kecil sambil berkata pelan: “Masih bisa diperbaiki kok, Pak Erwin. Tapi jangan main-main lagi sama pola makan.”
Erwin tadi cuma nyengir kecil, membalas, “Berarti es kopi gula aren saya pensiun ya, Bu?”
“Sebaiknya itu,” jawab Susilawaty sambil tertawa. "Harus pensiun dari segala minuman berwarna dan manis."
Kini, sambil berjalan di lorong pasar, Erwin teringat lagi ucapan itu. Ia berhenti di kios beras organik. Karung-karung beras tersusun rapi. Di sana ada beras merah, beras hitam, beras shirataki, oat, quinoa, sampai chia seed yang dulu hanya ia lihat di Instagram influencer diet.
“Ironis juga ya,” gumam Erwin.
Dulu ia pikir penyakit beginian hanya milik orang tua. Sekarang dirinya sendiri yang mulai disuruh diet.
“Mas, cari apa?” tanya ibu penjaga kios.
“Beras merah, Bu. Yang satu kilo aja dulu.”
“Baru mulai diet ya?”
Erwin terkekeh kecil. “Kelihatan banget ya?”
“Kelihatan dari mukanya yang bingung.”
Mereka tertawa kecil.
Sambil menunggu ditimbang, Erwin duduk di bangku plastik dekat kios. Dari situ matanya menangkap televisi kecil yang menggantung di sudut pasar. Berita ekonomi sedang diputar. Tentang rupiah melemah, harga barang naik, investor asing, harga emas, dan dolar.
Tak jauh dari televisi, beberapa bapak sedang ngobrol serius. Ujar salah seorang bapak, “Makanya gue bilang, sekarang yang aman tuh dollar.”
“Bu kannyaemas?”
“Crypto aja.”
“Tanah, lah, Bos.”
“Beras malah paling penting sekarang.”
Erwin tersenyum sendiri.
Manusia memang selalu mencari tempat bergantung. Kadang uang, jabatan, kesehatan, relasi, pengikut Instagram, hingga pujian. Namun pagi itu, anehnya, semua terasa seperti sedang berbicara langsung kepadanya.
Seperti biasanya, kejadian itu muncul lagi. Bukan suara atau penglihatan mistis. Namun semacam perasaan aneh bahwa hidupnya sedang dijelaskan sedikit demi sedikit lewat potongan-potongan sederhana sehari-hari.
Ia menatap kantong Metformin di sebelahnya. Lalu teringat tulisan yang tadi pagi ia baca sebelum berangkat.