Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #35

Ada Namboru yang Meninggal

Rumah duka di Bekasi itu penuh dengan aroma bunga krisan dan kopi sachet yang baru diseduh. Malam mulai turun perlahan ketika Erwin tiba di sana. Lampu-lampu putih menggantung redup di halaman rumah, sementara suara orang bercakap pelan bercampur sesekali dengan isak tangis yang tertahan. Di depan pintu masuk, ada foto besar namboru-nya tersenyum memakai kebaya biru tua.

Erwin berhenti sebentar. Dadanya terasa sesak.

“Namboru Emma…” gumamnya pelan.

Ia masih sulit percaya perempuan yang dulu sering menyuruhnya tambah nasi itu kini sudah terbujur diam di dalam peti. Di dekat ruang utama, Hans berdiri menyambut tamu dengan mata sembab. Kemeja hitamnya kusut, mungkin karena belum tidur sejak kemarin.

“Bang…”

“Hans…”

Mereka berjabat tangan erat. Tak ada kalimat panjang. Kadang duka memang tidak membutuhkan banyak kata.

Imelda duduk di pojok ruangan sambil memegang tisu. Stevenson, si bungsu, terlihat sibuk membantu memindahkan kursi-kursi plastik untuk tamu yang terus berdatangan.

“Gimana terakhir kabarnya Mama kamu, Hans?” tanya Erwin pelan.

Hans menarik napas panjang, menjawab, “Tadi subuh… akhirnya drop.”

Erwin mengangguk kecil. Ia tahu namboru-nya sudah lama sakit. Namun seperti kebanyakan manusia, ia tetap berharap orang yang dicintai akan terus ada sedikit lebih lama lagi.

Di sudut ruangan, terdengar pelan lagu rohani diputar dari speaker kecil.

Bila nanti kami pun tiba…”

Erwin duduk pelan di kursi dekat peti. Wajah namboru-nya terlihat tenang.

Aneh ya, pikir Erwin.

Kematian selalu membuat manusia berhenti sejenak dari ritme hidupnya. Orang yang biasanya sibuk kerja mendadak diam. Yang biasanya ribut soal politik mendadak tenang. Yang biasanya sibuk mengejar uang mendadak sadar semua itu tidak ikut masuk peti.

Ia menunduk. Lalu seperti biasa potongan-potongan renungan yang akhir-akhir ini terus muncul di hidupnya kembali datang. Ke Bilangan 29. Tentang tanggal-tanggal. Tentang waktu-waktu tertentu. Tentang liturgi. Tentang ritme hidup umat Tuhan.

Pada bulan ketujuh…”

Lihat selengkapnya