Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #36

Kala Ulang Tahun yang ke-38

Tanggal 26 Mei 2026.

Pukul sebelas siang.

Di sebuah kopitiam sederhana yang berada di sudut ruko Gading Serpong, Erwin Bimantara duduk sendirian di meja dekat jendela. Tidak ada balon. Tidak ada lilin. Tidak ada kue ulang tahun bertingkat juga. Tidak ada teman-teman yang menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara fals pula.

Hanya ada segelas kopi O panas, sepotong roti srikaya, dan seorang pria yang baru saja berusia tiga puluh delapan tahun.

Erwin tersenyum kecil sambil memandangi pantulan dirinya di kaca, dan berkata, "Selamat ulang tahun, Win."

Ia mengangkat gelas kopinya sendiri, lalu kembali berkata kepada dirinya sendiri, "Lumayan juga. Tiga puluh delapan."

Aneh. Dulu saat masih dua puluh tahun, usia tiga puluh delapan terdengar tua sekali.

Sekarang ternyata tidak. Meski masih sama-sama bingung. Masih sama-sama takut. Masih sama-sama belajar. Mungkin bedanya itu hanya kolesterol, asam lambung, dan gula darah yang mulai ikut rapat setiap bulan.

Erwin terkekeh sendiri.

Di meja sebelah, dua mahasiswa sedang sibuk membuat video untuk akun TikTok. Di sudut lain, seorang perempuan sedang merekam video ulasan makanan. Sementara di layar ponselnya, linimasa media sosial terus bergerak. Salah satu postingan menarik perhatiannya, yang berbunyi: "In this economy, jangan ada gengsi cari penghasilan dari media sosial."

Erwin mengangguk pelan.

Dulu orang sering menertawakan profesi bernama content creator. Sekarang banyak yang hidup dari sana. Ada affiliator, editor video, clipper, podcaster, hingga penulis digital.

Dunia memang sudah banyak berubah. Yang tidak berubah adalah kebutuhan manusia untuk makan.

Ia tertawa kecil. "Kalau Tuhan kasih talenta, ya dipakai seharusnya."

Pikirannya melayang ke masa-masa awal ia mencoba menulis. Berapa banyak orang yang dulu menganggapnya aneh.

"Tulisannya dibayar emang?"

"Ngapain nulis panjang-panjang?"

"Emang ada yang baca?"

Sekarang Erwin sudah tidak terlalu memikirkan komentar seperti itu. Usia tiga puluh delapan membuat seseorang mulai paham satu hal. Bahwa tidak semua orang harus mengerti jalan hidupmu.

Pelayan datang mengantar roti tambahan, sembari berkata, "Selamat ulang tahun ya, Pak. Tadi lihat tanggal lahir di aplikasi member."

Erwin tersenyum, membalasnya, "Wah ... ketahuan yah, Mbak."

Lihat selengkapnya