Sore itu angin di sekitar Danau Sogo bertiup pelan. Matahari belum tenggelam sepenuhnya, tetapi warna jingga mulai menguasai permukaan air buatan yang tenang itu. Beberapa orang jogging mengitari tepian danau. Ada juga pasangan muda duduk di bangku taman sambil berbagi minuman cup plastik.
Erwin duduk di bangku kayu sambil memegang kopi saset dingin yang dibelinya dari minimarket dekat gerbang kompleks.
Di sebelahnya, Santo tertawa kecil.
“Gila sih,” kata Santo sambil membuka jaket tipisnya. “Baru balik dari Balige malah ketemu lu lagi.”
Erwin tersenyum, membalas, “Ya baguslah. Daripada lu balik terus ilang lagi enam bulan.”
Santo menggeleng. “Proyek kali ini bikin gue capek, Win.”
Mereka diam sebentar.
Santo memang teman SMP Erwin. Dulu mereka sering duduk bareng saat jam istirahat. Santo terkenal cerewet. Sekarang, meski umur sudah hampir empat puluh. Rambut mulai tipis. Mata mulai menyimpan lelah yang berbeda.
“Balige gimana?” tanya Erwin.
“Bagus.”
“Serius?”
“Serius.”
“Terus kenapa muka lu begitu?”
Santo tertawa. “Karena bagus bukan berarti gampang.”
Mereka sama-sama tertawa kecil. Di kejauhan, ada anak kecil sedang belajar naik sepeda. Santo menatap permukaan danau.
“Lu pernah gak sih,” kata Santo pelan, “ngerasa trauma itu lucu?”
Erwin menoleh dan bertanya, “Maksud?”
Santo menghela napas, lalu menjawab, “Gue baca postingan orang tadi.”
Lalu Santo membuka ponsel dan berkata, “Mengenai trauma tinggal di rumah saudara.”
Erwin diam.
Santo melanjutkan, “Kadang orang udah maafin. Udah gak dendam. Tapi otak ini malah masih ingat.”
Erwin memandang air danau. Kata-kata itu terasa familier.
Santo melanjutkan, “Orang suka bilang: ‘Kan udah lama’, ‘Kan udah dimaafin, move on dong.’ Tapi lucunya tubuh gak selalu ikut buat move on.”
Erwin mengangguk pelan. Ia teringat banyak hal. Tentang kejadian-kejadian aneh yang berulang. Tentang wajah-wajah tertentu. Tentang tempat-tempat tertentu. Tentang rasa yang muncul bahkan ketika logika berkata semuanya baik-baik saja juga.
“Mungkin,” kata Erwin pelan, “karena manusia bukan cuma otak.”
Santo mengangguk. “Iya.”
Mereka diam. Angin kembali lewat. Tak jauh dari mereka ada bapak-bapak memancing.
Santo membuka percakapan lagi, “Lu tahu gak apa yang paling gue pelajari di proyek kemarin?”