Malam mulai turun perlahan ketika Erwin memarkir motornya di depan sebuah klinik ibu dan anak di kawasan Tangerang. Lampu-lampu toko mulai menyala. Aroma bakso dari gerobak depan ruko bercampur dengan bau hujan yang baru saja reda.
Erwin melihat jam. Sudah 19.12.
“Lama juga,” gumam Erwin.
Tak lama kemudian pintu kaca klinik terbuka. Yulia keluar pelan sambil memegang map hasil USG. Perutnya sudah cukup besar.
“Maaf ya, Win,” kata Yulia, sambil tersenyum lelah.
“Dokternya lama periksa kamu?”
Yulia mengangguk. “Lumayan.”
Erwin mengambil tas Yulia, bertanya, “Gimana hasilnya?”
Yulia menghela napas, lalu menjawab, “Masih sungsang.”
Erwin diam sebentar, lalu kembali bertanya, “Dokternya panik?”
“Nggak.”
“Ya udah, bagus kalau gitu.”
Yulia tertawa kecil. “Kamu santai banget.”
“Kalau dokternya bisa santai, yah, aku ikut santai.”
Mereka berjalan pelan menuju area parkir.
Suami Yulia sedang dinas ke Afrika Selatan hampir dua bulan. Praktis beberapa minggu terakhir, Erwin yang sering menemani kontrol. Kadang ia mengantar. Kadang pula ia turut membelikan makanan. Kadang ia hanya menemani. Kadang ia bisa endengarkan keluh kesah adiknya saat menemani.
Mereka lalu masuk mobil. Yulia membuka map. Ada foto USG hitam putih.
“Lucu ya,” kata Yulia.
Erwin melihat sekilas, membalas, “Aku gak ngerti itu kepala apa ginjal.”
Yulia memukul lengan kakaknya, membalas, “Itu muka, kali.”
“Oh.”
Yulia tertawa.
Mobil mulai berjalan. Beberapa menit mereka dalam kondisi diam.
Lalu Yulia berkata pelan, “Jujur aku agak takut.”
Erwin memandang jalan, menimpali, “Karena sungsang?”
Yulia mengangguk. “Aku pengennya lahiran normal lagi.”
“Dokter bilang masih bisa berubah?”
“Masih.”
“Ya udah, bagus dong.”
“Kamu gampang banget bilang, ya udah.”
Erwin tersenyum kecil, menjawab, “Mungkin karena aku gak punya rahim.”
Yulia tertawa keras.
Beberapa detik kemudian baik abang dan adik itu kembali diam.
“Aneh ya,” kata Yulia.
“Apa?”
“Waktu anak pertama, aku bisa santai.”