Erwin sebenarnya tidak berniat nongkrong lama malam itu. Hujan tipis baru saja berhenti, jalanan masih basah, dan lampu-lampu ruko memantulkan warna kuning yang membuat suasana terasa lebih sendu dari biasanya.
Ia duduk di sebuah kedai kopi kecil dekat perempatan. Di depannya ada segelas es kopi yang mulai kehilangan dinginnya. Ponselnya bergetar.
“Erwin, lo lagi di mana?”
“Irma?”
“Iya. Gue boleh nyamperin lo?”
Sepuluh menit kemudian, Irma datang dengan hoodie abu-abu, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang jelas menunjukkan seseorang sedang ingin bicara panjang.
Omong-omong, Irma adalah kekasih Irwin. Entah kenapa, malam ini yang dicari justru Erwin.
“Gue boleh curhat?” tanya Irma.
Erwin mengangguk. “Silakan.”
Irma menarik napas panjang, lalu berkata, “Gini, Win … emang bener, cari pasangan sekarang susah?”
Erwin hampir tertawa kecil. Ia yang masih lajang justru ditanya perihal mencari pasangan. Karena itulah, ia memilih untuk diam.
Irma membuka galeri ponselnya, berkata, “Nih, gue tadi lihat ini.”
Irma lalu memutar layar ponselnya. Tangkapan layar berikut ditunjukkan Irma kepada Erwin. Ia kemudian meletakkan ponselnya.
“Lucu sih. Tapi kok makin dipikir malah bikin pusing.”
Erwin menyimak.
“Orang sekarang kayak disuruh milih,” lanjut Irma. “Kalau pilih yang sesuai tipe banget, sering dibilang red flag. Kalau pilih yang baik, perhatian, stabil, malah dibilang flat.”
Erwin menyeruput kopi.
“Menurut elo gimana?”
“Gue yang lo tanya?” Erwin tersenyum kecil. “Lah, gue aja masih sendiri, Ma. ”
“Nah, justru itu. Kadang orang yang sendiri malah lebih obyektif penilaiannya.”
Irma tertawa sebentar, lalu wajahnya kembali serius.
“Gue takut salah pilih, Win.”
Erwin tidak langsung menjawab. Sementara, di luar, motor lewat sambil memercikkan air dari genangan.
“Gue sama Irwin sering baik-baik aja,” kata Irma pelan. “Tapi kadang gue lihat teman-teman posting. Ada yang cowoknya romantis banget. Ada yang suka kasih surprise. Ada yang kelihatan seru. Terus gue jadi mikir, kok hubungan orang lain malah jauh lebih menarik? Padahal kalau dipikir-pikir, Irwin baik.”
“Terus masalahnya apa, Ma? Kan, Irwin segitu baiknya sama lo, meski kadang suka rada gimana.”
“Menurut gue, perhatian Irwin terlalu biasa.”
Erwin tersenyum tipis, membalas, “Biasa itu kadang suka dibilang underrated.”
Irma diam.
Erwin melanjutkan, “Dulu waktu sekolah, gue pikir hubungan ideal itu yang bikin deg-degan terus.”
“Terus?”
“Ternyata yang bikin kita capek sendiri.”