Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #40

Di Atas Kursi Pijat

Erwin menekan tombol START di kursi pijat itu.

Bzzzz...

Rol-rol mekanis mulai bergerak dari punggung sampai pinggang. Mal sore itu cukup ramai. Anak kecil berlarian. Lagu pop tahun 2000-an diputar pelan dari speaker. Bau berondong jagung bercampur kopi dan parfum orang-orang yang lalu lalang. Di saat seperti itu, ternyata tiga puluh menit sudah berlalu.

Lumayan, pikir Erwin.

Badannya memang sedang pegal. Beberapa hari terakhir rasanya hidup seperti tombol fast forward. Sibuk di rumah sakit dan rumah duka. Ada teman yang sakit, adiknya hamil, ikut komsel, proyek bersama Irma, hingga harus memikirkan tagihan. Entah kenapa, semakin bertambah umur, semakin sering tubuh mengingatkan: "Hei, kamu bukan umur 25 lagi."

Erwin membuka Instagram. Story pertama muncul. Nama yang muncul di atas: Stevenson.

Itu adalah sepupunya. Anak bungsu dari namboru yang baru saja meninggal.

Erwin menghela napas pelan, lalu membaca.

"Andai kematianmu bisa kutawar ..."

Erwin membaca perlahan.

Kalimat demi kalimat. Sampai bagian:

"Yang paling mahal di dunia ini bukan uang, bukan waktu, tapi satu detik lagi bersama orang yang sudah pergi."

Kursi pijat masih bergerak, tapi mendadak rasanya seperti berhenti.

Erwin menatap kosong ke depan. Di depannya ada toko sepatu. Ada pasangan muda sedang memilih sandal. Ada bapak-bapak tertawa. Ada anak kecil makan es krim pula. Kelihatannya dunia berjalan normal. Di saat, menurut anggapan Erwin, di beberapa hari lalu seseorang meninggal. Ada beberapa orang sedang berduka. Ada pula beberapa orang sedang kehilangan. Namun dunia tetap terlihat normal.

"Lucu ya ..." gumam Erwin. "Dunia nggak pernah ikut berhenti."

Ia membuka chat Stevenson. Lama ia mengetik, hapus, ketik lagi, hapus lagi. Akhirnya ia hanya menulis: "Gimana kabarnya?"

Beberapa menit, pesannya itu belum dibalas. Erwin kembali menggulir. Lalu ada postingan lain. Tulisan hitam dengan latar putih.

"Makna kepemilikan adalah lebih baik miskin daripada kompromi daripada kaya dengan ketergantungan yang salah. Iman memanggil kita memilih sumber berkat yang benar."

Erwin tersenyum kecil.

"Algoritma Instagram hari ini niat banget ya ..."

Lihat selengkapnya