Bumantara

Nuel Lubis
Chapter #41

Memikirkan Curhat Seseorang

Erwin datang lebih cepat tiga puluh menit. Sudah menjadi kebiasaannya beberapa bulan terakhir, untuk datang terlalu cepat, duduk terlalu lama, lalu membunuh waktu dengan memandangi orang-orang yang berlalu-lalang sambil berpura-pura tidak sedang memikirkan apa-apa.

Sore itu ia duduk di sebuah coffeeshop kecil dekat ruko-ruko BSD. Bukan tempat mewah. Hanya tempat dengan kursi kayu, lampu kuning hangat, dan playlist lagu akustik yang terdengar seperti diputar berulang selama bertahun-tahun.

Ia membuka ponselnya. Pesan dari Irma belum masuk.

"OTW ya Win. Macet."

Erwin menghela napas kecil.

“Ya udah,” gumam Erwin.

Ia memesan americano dingin tanpa gula. Usia tiga puluh delapan membuatnya mulai takut gula. Takut kolesterol juga. Takut asam lambung pula. Anehnya, ia kadang lebih takut pada pikirannya sendiri. Contohnya seperti saat tangannya menggulir galeri ponsel.

Lalu ia berhenti. Melihat tangkapan layar obrolan lama. Ada keluh kesah Santo.

Erwin membaca ulang.

"Rasa trauma yang pernah gue dapet yang tidak memperbolehkan untuk tinggal berlama-ama di rumah saudara..."

Ia membaca pelan, lalu membacanya lagi.

"Rasa trauma yang pernah gue alami membuat gue nggak bisa tinggal lama di rumah saudara. Rasa takut itu muncul setiap kali ada omongan tentang disuruh tinggal di rumah saudara. Makanya, kalau disuruh tinggal, tanpa pikir panjang gue langsung menolak.

Padahal dulu orang itu baik. Bahkan gue sempat segan sama dia.

Tapi setelah kejadian itu, gue benci. Benci banget. Bahkan mungkin dulu gue sempat menyimpan dendam ke orang itu. Saking bencinya, sampai keluar sumpah serapah dari mulut gue.

Namun seiring waktu berjalan, rasa benci itu mulai hilang. Perlahan-lahan gue juga mulai memaafkan orang tersebut.

Tapi anehnya, rasa trauma itu kadang masih muncul.

Setiap kali gue melihat orang itu muncul di depan mata, perasaan takut dan nggak nyaman itu kadang datang lagi.'

Erwin memandang meja selama beberapa detik. Lalu beberapa menit ia memikirkan kata "trauma".

Lucu juga. Kadang orang mengira trauma itu hanya tentang masa lalu. Padahal sering kali trauma itu tentang masa kini. Tentang tubuh yang masih ingat. Tentang dada yang mendadak sesak. Tentang tangan yang dingin. Tentang ingin kabur meski kepala berkata: "Semua akan baik-baik aja."

Ia lalu memperhatikan ke sekeliling. Di meja sebelah ada dua anak kuliahan tertawa keras. Di dekat kasir ada pasangan yang sedang foto minuman. Di luar kaca, orang-orang berjalan biasa saja, tanpa terlihat mereka memiliki masalah.

Untungnya Erwin tahu bahwa seseorang bisa terlihat biasa saja sambil membawa peperangan besar di dalam dirinya. Ia teringat percakapannya dengan Santo di pinggir Danau Sogo waktu itu.

“Lu udah maafin orangnya?” tanya Erwin waktu itu.

Santo mengangguk. “Udah.”

“Terus?”

Santo tertawa kecil. “Tapi badan gue kayak belum move on.”

Saat itu Erwin tidak terlalu paham. Sekarang ia mulai mengerti. Karena beberapa luka memang tidak selesai saat kata maaf diucapkan. Beberapa luka perlu waktu lebih panjang. Beberapa luka bahkan mungkin meninggalkan bekas permanen.

Ponselnya bergetar. Bukan dari Irma. Namun dari grup gereja. Seseorang mengirim tulisan:

"Tuhan menyembuhkan segala luka."

Lihat selengkapnya